Nabi ‘Isa ﷺ diburu dan hendak dihabisi. Ketika keadaan makin genting, Nabi ‘Isa ﷺ menemui murid-muridnya dari kalangan Hawariyyin yang jumlahnya ada dua belas orang.
Nabi ‘Isa ﷺ berkata:
أَيُّكُمْ يُلْقَى عَلَيْهِ شَبَهِي، فَيُقْتَلُ مَكَانِي وَيَكُونَ مَعِي فِي دَرَجَتِي؟
“Siapakah di antara kalian yang mau diserupakan denganku, lalu terbunuh sebagai gantiku sehingga akan bersamaku dalam satu tingkatan (di surga nanti)?”
Maka berdirilah seorang pemuda yang tergolong sangat muda di antara mereka. Namun Nabi ‘Isa ﷺ berkata kepadanya:
اجْلِسْ.
“Duduklah!”
Kemudian Nabi ‘Isa ﷺ mengulangi lagi perkataan beliau. Dan ternyata pemuda itu berdiri lagi mengajukan dirinya. Nabi ‘Isa ﷺ pun kembali berkata:
اجْلِسْ.
“Duduklah!”
Lalu Nabi ‘Isa ﷺ mengulangi lagi perkataan beliau. Dan lagi-lagi pemuda itu juga yang berdiri seraya berkata:
أَنَا
“Aku bersedia.”
Akhirnya Nabi ‘Isa ﷺ berkata:
أَنْتَ هُوَ ذَاكَ
“Kalau memang demikian, engkaulah orangnya!”
Ibnu ‘Abbas berkata:
فَأُلْقِيَ عَلَيْهِ شَبَه عِيسَى وَرُفِعَ عِيسَى مِنْ رَوْزَنَة فِي الْبَيْتِ إِلَى السَّمَاءِ….وَجَاءَ الطَّلَبُ مِنَ الْيَهُودِ فَأَخَذُوا الشَّبَهَ فَقَتَلُوهُ، ثُمَّ صَلَبُوهُ
“Maka Allah menjadikan pemuda itu serupa dengan ‘Isa, sedangkan ‘Isa sendiri diangkat ke langit dari salah satu bagian atap rumah tersebut…lalu orang-orang Yahudi yang memburu beliau datang kemudian menangkap pemuda yang serupa dengan ‘Isa itu, lalu mereka menghabisinya dan menyalibnya.” (Tafsir Ibn Abi Hatim)
Cinta itu kesetiaan….
Cinta itu pengorbanan….
Pemuda tadi mengajarkan kepada kita bahwa cinta itu menuntut kesetiaan dan pengorbanan.
Kalau memang kita cinta kepada rasul-Nya, maka hendaknya kita setia mengikuti petunjuknya dan siap berkorban untuk membelanya.
Al-Qadhi ‘Iyadh berkata:
وَمِنْ مَحَبَّتِهِ ﷺ نُصْرَةُ سُنَّتِهِ وَالذَّبُّ عَنْ شَرِيعَتِهِ وَتَمَنِّي حُضُورِ حَيَاتِهِ فَيَبْذُلَ مَالَهُ وَنَفْسَهُ دُونَهُ
“Di antara tanda cinta kepada Nabi ﷺ yaitu menolong petunjuknya, membela syariatnya dan berangan-angan hadir di masa hidupnya sehingga bisa mengorbankan harta dan jiwa untuk membelanya.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)
Siberut, 17 Ramadhan 1443
Abu Yahya Adiya






