Perlukah Kelembutan dalam Berdoa?

Beberapa orang mendekati presiden. Berkatalah salah seorang dari mereka dengan suara yang nyaring, “Pak Presiden, kami memohon bantuan ini dan itu, tolong bantulah kami!”

Jarak antara dirinya dengan presiden cuma 1 meter, tapi ia seakan-akan mengajak bicara seseorang yang jaraknya 10 meter darinya!

Sopankah perbuatan orang itu?

Dan jika orang-orang di sekitarnya ikut menimpali perkataannya dengan suara yang nyaring, “Iya Pak, tolong bantulah kami!”, maka sopankah perbuatan mereka?

Kalau meminta kepada manusia saja harus beradab dengan baik, maka bagaimana pula kalau meminta kepada Tuhannya seluruh makhluk yang ada di alam semesta?!

Allah mengajari kita adab berdoa kepada-Nya:

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-A’raaf: 205)

Dan Dia juga mengajarkan:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raaf: 55)

Lihatlah, dengan berendah diri dan suara yang lembut! Bukan dengan suara yang nyaring dan tinggi!

Allah menyebutkan tentang Nabi Zakariyya:

{إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا} [مَرْيَمَ:3]

“(Ingatlah) ketika ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (QS. Maryam: 3)

Lihatlah, dengan suara yang lembut! Bukan dengan suara yang nyaring dan tinggi!

Al-Hasan Al-Bashri menggambarkan para sahabat Nabi:

وَلَقَدْ كَانَ الْمُسْلِمُونَ يَجْتَهِدُونَ فِي الدُّعَاءِ، وَمَا يُسمع لَهُمْ صَوْتٌ، إِنْ كَانَ إِلَّا هَمْسًا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ رَبِّهِمْ

“Sungguh, kaum muslimin dulu bersungguh-sungguh dalam berdoa tanpa terdengar suara mereka kecuali hanya bisikan antara mereka dengan Tuhan mereka.” (Jami’ Al-Bayan Fii Tawil Al-Quran)

Lihatlah, hanya bisikan antara mereka dengan Tuhan mereka! Ya, bisikan, bukan teriakan!

Kenapa harus dengan suara yang lembut, hanya bisikan dan tidak dengan kelantangan dan teriakan?

Karena Allah menyebutkan dalam ayat tadi: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Apa maksudnya?

Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari berkata:

فإن معناه: إن ربكم لا يحب من اعتدى فتجاوز حدَّه الذي حدَّه لعباده في دعائه ومسألته ربَّه، ورفعه صوته فوق الحد الذي حدَّ لهم في دعائهم إياه، ومسألتهم….

“Sesungguhnya maknanya yaitu sesungguhnya Tuhan kalian tidak menyukai orang yang melampaui batas dan melewati batas-Nya yang telah Dia tetapkan untuk hamba-hamba-Nya dalam berdoa dan meminta kepada Tuhannya, dan mengeraskan suaranya melebihi batasan yang telah Dia tetapkan untuk mereka dalam doa mereka dan permintaan mereka kepada-Nya….” (Jami’ Al-Bayan Fii Tawil Al-Quran)

Mengeraskan suara dalam berdoa adalah termasuk sikap berlebihan dalam berdoa. Dan tidak selayaknya kita berlebihan dalam berdoa.

Ibnu Juraij berkata:

إن من الدعاء اعتداءً، يُكره رفعُ الصوتِ والنداءُ والصياحُ بالدعاء، ويُؤمر بالتضرُّع والاستكانة.

“Sesungguhnya ada sikap melampaui batas dalam berdoa. Dibenci mengeraskan suara, menyeru, dan berteriak dalam berdoa. Diperintahkan untuk berendah diri dan tenang.” (Jami’ Al-Bayan Fii Tawil Al-Quran)

Imam As-Suyuthi berkata:

ويكره رفع الصوت عند الدعاء. قال الحسن رحمه الله:

“Dan dibenci mengeraskan suara tatkala berdoa. Al-Hasan-semoga Allah merahmatinya-berkata:

إن رفع الصوت عند الدعاء لبدعة

“Sesungguhnya mengeraskan suara tatkala berdoa adalah benar-benar bidah.” (Al-Amr Bi Al-Ittiba’ wa An-Nahyu ‘An Al-Ibtida’)

Karena itu, lembutkanlah suaramu dalam doamu. Sebab, Tuhanmu dekat dengan dirimu dan mendengar semua permintaanmu.

Ketika perang Khaibar, Nabi ﷺ bersama para sahabatnya mendekati sebuah lembah. Lalu sebagian mereka mengeraskan suara mereka dalam membaca takbir. Maka bersabdalah beliau:

أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ انكم ليس تدعون أصم ولاغائبا إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا

“Hai sekalian manusia, rendahkanlah suara kalian! Karena sesungguhnya kalian tidak sedang menyeru yang tuli maupun yang tidak ada. Sesungguhnya kalian sedang menyeru Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat!” (HR. Muslim)

 

Siberut, 4 Dzulhijjah 1442

Abu Yahya Adiya