Rela Menjadi Budak Dunia

Rela Menjadi Budak Dunia

“Lagi-lagi bicara masalah agama, memang kita mau jadi ustaz?!”

“Ibadah itu tidak penting. Yang penting itu cari makan!”

Pernahkah kita mendengar orang yang mengucapkan demikian?

Kalau pernah, maka waspadalah!

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ بِالْأَسْوَاقِ جِيفَةٍ بِاللَّيْلِ حِمَارٍ بِالنَّهَارِ عَالِمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا جَاهِلٍ بِأَمْرِ الْآخِرَةِ

“Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang kasar, rakus, suka berteriak di pasar-pasar, ia menjadi bangkai di malam hari dan menjadi keledai di siang hari. Ia ahli dalam masalah dunia, tapi bodoh dalam masalah akhirat.” (HR. Ibnu Hibban)

Dalam hadis ini Nabi ﷺ menyebutkan beberapa sifat orang yang Allah murkai:

  1. Kasar.

Ya, kasar. Artinya ia tidak memiliki kelembutan.

Kalau diberi nasehat, ia tidak tersentuh. Jika melihat penderitaan orang lain, ia tidak terenyuh.

  1. Rakus.

Ya, rakus terhadap harta. Tamak terhadap dunia.

Tidak ada dalam pikirannya kecuali memikirkan bagaimana mengumpulkan kekayaan dari sini dan situ. Bagaimana mengumpulkan uang dari sini dan situ.

Seakan-akan ia hidup selamanya. Seolah-olah maut tidak menantinya.

  1. Suka berteriak di pasar-pasar.

Artinya, ia suka berteriak dan berbantah-bantah, dan tidak mau mengalah.

Ia lebih menuruti egonya dan hanya mementingkan dirinya.

  1. Ia menjadi bangkai di malam hari dan menjadi keledai di siang hari.

Artinya, ia semangat mencari dunia, tapi malas beribadah.

Dalam hadis tadi, Nabi ﷺ mengumpamakan orang yang getol mencari dunia tapi malas beribadah seperti keledai di siang hari dan bangkai di malam hari.

Ya, keledai. Karena, sepanjang siang ia bekerja terus tidak henti-henti. Lalu, di malam harinya, ia tidur pulas seperti bangkai, tidak bergerak sama sekali. Tidak ibadah sama sekali. Dan tidak melakukan amal saleh sama sekali.

  1. Ia ahli dalam masalah dunia, tapi bodoh dalam masalah akhirat.

Kalau ditanya bagaimana cara ‘mencetak’ uang, ia bisa ‘bersuara’, dan jelas ‘suara’nya!

Namun, kalau ditanya bagaimana cara ‘mencetak’ pahala, tiba-tiba hilang ‘suara’nya. Seakan-akan terkunci mulutnya!

Kalau membicarakan masalah dunia, ia semangat luar biasa. Namun, kalau membicarakan masalah akhirat, ia ‘layu’ dan hilang semangatnya.

Itu bukan sifat orang yang beriman kepada-Nya. Itu sifat khas orang-orang yang kafir kepada-Nya.

Allah berfirman:

 يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka mengetahui yang tampak dari kehidupan dunia; sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai.” (QS. Ar-Rum: 7)

 

Sifat Budak Dunia

Kalau kita mau melihat dan merenungkan 5 sifat tercela tadi dengan mata hati, niscaya kita tahu ternyata 5 sifat itu terkumpul semua pada seorang pecinta dunia, yaitu orang yang terlalu cinta dunia.

Mencintai dunia adalah wajar, akan tetapi terlalu mencintai dunia itu sudah tidak wajar.

Dan siapa yang merasa sudah terlalu mencintai dunia, maka renungkanlah sabda Nabi ﷺ berikut ini:

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ

“Siapa yang menjadikan dunia sebagai ambisinya, maka Allah akan menceraiberaikan urusannya, dan Dia akan menjadikan kemiskinan di depan matanya. Tidaklah ia mendapatkan dunia kecuali apa yang telah ditetapkan baginya.

وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ، جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

Dan siapa yang menjadikan akhirat sebagai niatnya, maka Allah akan menyatukan urusannya dan memberikan kekayaan di hatinya. Dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan terpaksa.” (HR. Ibnu Majah)

Hadis ini menunjukkan bahwa pecinta akhirat akan selalu merasa kaya, walaupun hartanya sedikit. Sedangkan pecinta dunia akan selalu merasa miskin, walaupun hartanya banyak.

Karena itu, jangan sudi menjadi budak dunia!

 

10 Sya’ban 1442

Abu Yahya Adiya