Siapa Teman Makan Kita?

Siapa Teman Makan Kita?

 

Siapakah teman makan kita selama ini?

Siapakah orang yang kita undang makan selama ini?

Nabi ﷺ bersabda:

لا تُصَاحبْ إِلاَّ مُؤْمِناً، وَلاَ يَأْكُلْ طعَامَكَ إِلاَّ تَقِيٌّ

“Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang yang beriman, dan janganlah makan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Apa maksud hadis ini?

Imam Al-Khaththabi berkata:

وإنما حذر من صحبة من ليس بتقي وزجر عن مخالطته ومؤاكلته فان المطاعمة توقع الالفة والمودة في القلوب

“Sesungguhnya beliau memperingatkan dari persahabatan dengan orang yang tidak bertakwa dan melarang berbaur dan makan bersamanya. Karena, makan bersama bisa memunculkan di dalam hati ikatan cinta.” (Ma’alim As-Sunan)

Ya, bisa memunculkan ikatan cinta dengan orang yang kita ajak makan.

Kalau yang kita ajak makan adalah orang yang bertakwa, maka akan timbul ikatan cinta dengan orang yang bertakwa.

Dan kalau yang kita ajak makan adalah orang yang pendosa, maka akan timbul ikatan cinta dengan orang yang pendosa.

Lantas, siapakah orang yang pantas kita cintai?

Selain itu….

Jika kita memberi makan kepada orang yang bertakwa, maka ia akan mendapatkan energi yang akan ia gunakan untuk menaati Allah dan berbuat baik kepada orang lain.

Sedangkan orang yang pendosa, jika kita memberinya makan, maka ia akan mendapatkan energi yang akan ia gunakan untuk mendurhakai Allah dan berbuat jahat kepada orang lain.

Karena itu, berilah makan orang yang bertakwa, dan jangan beri makan orang yang pendosa, kecuali dengan tujuan agar ia bertakwa!

Syekh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad menjelaskan hadis tadi:

والمقصود من ذلك: أن الإنسان لا يدعو إلا أناساً طيبين، ولا يدعو أناساً ليسوا أتقياء، إلا إذا كان يريد من وراء ذلك استمالتهم وتوجيههم ودعوتهم وإصلاحهم ونصحهم

“Maksud hadis ini yaitu hendaknya seseorang hanya mengundang makan orang-orang yang baik dan jangan mengundang makan orang-orang yang tidak bertakwa, kecuali jika di balik itu ia ingin menarik hati, mengarahkan, mendakwahi, memperbaiki, dan menasihati mereka.

فإذا كان ذلك لهذه المصلحة فلا بأس في ذلك، وإلا فإن الأصل أن الإنسان تكون مجالسته ومخالطته ومآكلته مع أناس طيبين

Jika mengundang makan untuk kemaslahatan tadi, maka tak mengapa mengundang mereka. Namun, jika tidak untuk tujuan tadi, maka asalnya seseorang bergaul, berbaur, dan makan hanya bersama orang-orang yang baik.” (Syarh Sunan Abi Daud)

 

Siberut, 18 Jumada Ats-Tsaniyah 1444

Abu Yahya Adiya