“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Hati kita bisa gelisah, karena kita jauh dari Allah. Seandainya kita dekat dengan Allah, selalu mengingat-Nya, mencintai-Nya, dan merindukan pertemuan dengan-Nya, tentu tenang dan tenteramlah hati kita.
Karena itu, zikir itu bukanlah amalan yang biasa. Itu amalan yang membuat kita ‘hidup’ dan tidak ‘mati’.
Nabi ﷺ bersabda:
مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ، مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ
“Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dengan orang yang tidak berzikir kepada Tuhannya adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang sudah mati.” (HR. Bukhari)
Apakah sama orang yang hidup dengan orang yang sudah mati?
Zikir itu menghidupkan hati kita. Makin sering kita berzikir, maka makin hiduplah hati kita dan makin bahagialah jiwa kita.
Dan kalau sudah hidup hati kita dan bahagia jiwa kita, maka kita sudah di surga.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
إِنَّ فِي الدُّنْيَا جَنَّةً، مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لاَ يَدْخُلُ جَنَّةَ الْآخِرَةِ
“Sesungguhnya di dunia ada surga, siapa yang tidak memasuki surga tersebut, maka ia tidak akan masuk surga di akhirat!” (Al-Wabil Ash-Shayyib Min Al-Kalim Ath-Thayyib)
Jangan sampai kita meninggalkan dunia dalam keadaan tidak sempat menikmati surga yang ada di dalamnya. Itu adalah orang miskin yang sesungguhnya.
“Orang-orang miskin di dunia meninggalkan dunia dalam keadaan belum merasakan kenikmatan terlezat yang ada di dalamnya.”
Demikianlah pernyataan ulama terdahulu.
Ada yang bertanya:
وَمَا أَطْيَبُ مَا فِيهَا؟
“Apa kenikmatan terlezat yang ada di dunia?”
Ia menjawab:
معرفَة الله ومحبته والأنس بِقُرْبِهِ والشوق إِلَى لِقَائِه
“Mengenal Allah, mencintai-Nya, menikmati kedekatan dengan-Nya, dan merindukan pertemuan dengan-Nya.” (Risalah Ibn Al-Qayyim)
Siberut, 3 Jumada Ats-Tsaniyah 1446
Abu Yahya Adiya






