Tiga Tanda Kebaikan pada Seseorang

Tiga Tanda Kebaikan pada Seseorang

“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Allah berikan kepadanya tiga sifat.”

Demikianlah perkataan Muhammad bin Ka’b Al-Qurazhi, seorang ulama tabiin. Apa tiga sifat yang beliau maksudkan?

Beliau menyebutkan:

فِقْهًا فِي الدِّينِ، وَزَهَادَةً فِي الدُّنْيَا، وَبَصِيرَةً بِعُيُوبِهِ

“Paham akan agama, zuhud terhadap dunia, dan mengetahui aib sendiri.” (Syarh As-Sunnah)

Itulah tiga sifat yang jika ada pada seorang hamba, maka itu merupakan tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan baginya.

 

  1. Paham akan agama

Siapa yang paham akan agama, maka itu tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan baginya.

Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Dia akan membuatnya paham akan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Siapa yang belajar agama dan memahaminya, maka ia akan mendapatkan kebaikan dari-Nya. Kebaikan di sini bisa kebaikan dunia atau akhirat. Karena itu, Imam Asy-Syafi’i berkata:

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

“Siapa yang menginginkan dunia, maka hendaknya ia menuntut ilmu. Dan siapa yang menginginkan akhirat, maka hendaknya ia menuntut ilmu.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab)

 

  1. Zuhud terhadap dunia

Siapa yang zuhud terhadap dunia, maka itu tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan baginya.

Nabi ﷺ bersabda:

ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللهُ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ

“Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya engkau akan dicintai manusia.” (HR. Ibnu Majah)

Kalau Allah dan hamba-hamba-Nya sudah mencintai seorang hamba, bukankah itu tanda jelas yang menunjukkan bahwa Allah menghendaki kebaikan baginya?

 

  1. Mengetahui aib sendiri

Siapa yang mengetahui aibnya sendiri, maka itu tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan baginya.

Nabi ﷺ bersabda:

طُوبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبَهُ عَنْ عُيُوبِ النَّاس

“Beruntunglah orang yang tersibukkan dengan aibnya sendiri sehingga tidak memerhatikan aib orang lain.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:

أَخْرَجَهُ الْبَزَّارُ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ

“Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bazzar dengan sanad hasan.” (Bulugh Al-Maram)

Orang yang tersibukkan dengan aibnya sendiri tidak sempat memikirkan aib orang lain, sehingga akhirnya ia pun selamat dari dosa. Bukankah itu tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan baginya?

 

Siberut, 7 Jumada Ats-Tsaniyah 1446

Abu Yahya Adiya