Inilah Sunah-Sunah Salat

Apa cukup melaksanakan rukun-rukun salat saja?

Kalau sekadar supaya salat sah, maka itu sudah cukup. Tapi…

Apakah seorang muslim hanya ingin salatnya sah, dan tidak menginginkan pahala yang berlimpah?

Kalau ingin pahala yang berlimpah, maka selain melaksanakan rukun-rukun salat, ia harus melaksanakan sunah-sunah salat.

Apa sajakah sunah-sunah salat?

 

1. Menghadap sutroh

Nabi ﷺ bersabda:

لَا تُصَلُّوا إِلَّا إِلَى سُتْرَةٍ، وَلَا تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ، فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ، فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِينَ

“Jangan engkau melaksanakan salat kecuali menghadap sutroh, dan jangan membiarkan seorang pun melintas di hadapanmu. Jika ia menolak, maka perangilah ia, karena sesungguhnya jin qorin sedang bersamanya.” (HR. Ibnu Khuzaimah)

Sutroh itu segala sesuatu yang bisa menjadi tanda atau penghalang bagi orang lain agar tidak melewati orang yang sedang melaksanakan salat.

Karena itu, apa pun yang bisa dijadikan tanda agar orang lain tidak lewat di depan orang yang sedang salat, entah itu benda, manusia, hewan, maka itulah sutroh.

Nabi ﷺ bersabda:

اسْتَتِرُوا بِصَلَاتِكُمْ وَلَوْ بِسَهْمٍ

“Gunakanlah sutroh untuk salat kalian walaupun dengan menggunakan panah.” (HR. Al-Hakim)

Dan tinggi sutroh menurut Atha’, seorang ulama tabiin, yaitu:

ذِرَاعٌ فَمَا فَوْقَهُ

“Satu hasta atau lebih dari itu.” (Sunan Abu Daud)

 

2. Mengangkat tangan ketika takbiratulihram

Ibnu ‘Umar berkata:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ إِذَا قَامَ فِي الصَّلاَةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يَكُونَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ، وَكَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ حِينَ يُكَبِّرُ لِلرُّكُوعِ

“Aku melihat Rasulullah ﷺ jika hendak melaksanakan salat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan pundaknya. Beliau juga melakukan seperti itu ketika takbir untuk rukuk.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

3. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّا مَعْشَرَ الْأَنْبِيَاءِ أُمِرْنَا بِتَعْجِيلِ فِطْرِنا، وَتَأْخِيرِ سُحُورِنا، وَوَضَعِ أيمَانِنَا عَلَى شمائِلِنا فِي الصَّلَاةِ

Kami para nabi diperintahkan untuk menyegerakan buka puasa kami dan mengakhirkan sahur kami, serta meletakkan tangan kanan kami di tangan kiri kami dalam salat. (HR. Ath-Thabrani)

 

4. Memandang ke tempat sujud

‘Aisyah berkata:

دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْكَعْبَةَ مَا خَلَفَ بَصَرُهُ مَوْضِعَ سُجُودِهِ حَتَّى خَرَجَ مِنْهَا

“Rasulullah ﷺ memasuki Ka’bah. Pandangan beliau tidak lepas dari tempat sujudnya sampai beliau keluar darinya.” (HR. Al-Hakim)

Karena itu, ketika sedang salat, yang sunnah adalah memandang ke tempat sujud, bukan ke depan. Apalagi memandang ke atas! Dan itulah pendapat mayoritas ulama.

 

5. Membaca doa iftitah

Setelah takbiratulihram, Rasulullah ﷺ seakan-akan berdiam lalu membaca Al-Fatihah.

Abu Hurairah pun bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِسْكَاتُكَ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةِ مَا تَقُولُ

“Wahai Rasulullah, engkau berdiam antara takbir dan bacaan Al-Fatihah. Apa yang engkau baca?”

Rasulullah ﷺ pun menjawab:

أَقُولُ

“Aku membaca:

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ…

Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku…(doa iftitah).” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

6. Membaca surat setelah Al-Fatihah

Abu Qatadah berkata:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ مِنْ صَلاَةِ الظُّهْرِ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ، وَسُورَتَيْنِ…وَكَانَ يَقْرَأُ فِي العَصْرِ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ

“Nabi ﷺ pada 2 rakaat pertama dalam salat Zuhur membaca Al-Fatihah dan 2 surat…Dalam salat Asar beliau membaca Al-Fatihah dan 2 surat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

7. Mengangkat tangan ketika hendak rukuk

Berdasarkan hadis Ibnu ‘Umar yang disebutkan dalam poin ke 2

 

8. Meletakkan kedua telapak tangan di kedua lutut dengan merenggangkan jemari dan menjauhkan lengan dari dua sisi badan. Kepala tidak menengadah dan tidak pula menunduk, akan tetapi sejajar dengan punggung.

Abu Humaid As-Sa’idi menceritakan salat Rasulullah ﷺ:

ثُمَّ رَكَعَ فَوَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ كَأَنَّهُ قَابِضٌ عَلَيْهِمَا، وَوَتَّرَ يَدَيْهِ فَتَجَافَى عَنْ جَنْبَيْهِ

“Lalu beliau rukuk, kemudian meletakkan kedua tangannya pada kedua lututnya seakan-akan menggenggam keduanya dan meluruskan kedua tangannya lalu menjauhkannya dari kedua sisi tubuhnya.” (HR. Abu Daud)

Dan dalam Shahih Ibnu Khuzaimah hadis no. 594 disebutkan bahwa Nabi ﷺ merenggangkan jemari tatkala rukuk.

‘Aisyah berkata:

وَكَانَ إِذَا رَكَعَ لَمْ يُشْخِصْ رَأْسَهُ، وَلَمْ يُصَوِّبْهُ وَلَكِنْ بَيْنَ ذَلِكَ

“Beliau ﷺ jika rukuk tidak menengadahkan kepalanya dan tidak pula menundukkan kepalanya akan tetapi di antara keduanya.” (HR. Muslim)

 

(Bersambung)

 

Siberut, 18 Jumada Al-Ulaa 1442

Abu Yahya Adiya