Apa Itu Rukun Haji?

Kalau seseorang melakukan ibadah haji tanpa melakukan salah satu rukunnya, maka batallah hajinya.

Lantas, apa saja yang termasuk rukun haji?

 

  1. Ihram yaitu niat memasuki haji

Itu berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya perbuatan tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, siapa yang melaksanakan haji tapi tanpa ihram, maka batallah hajinya.

Dan waktu ihram seseorang yang ingin melaksanakan haji adalah sejak masuknya bulan Syawwal. Itu berdasarkan firman Allah:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلا رَفَثَ وَلا فُسُوقَ وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Siapa yang mengerjakan haji dalam bulan-bulan itu, maka janganlah ia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam melakukan ibadah haji.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Awal bulan haji adalah Syawwal dan akhirnya adalah bulan Dzulhijjah.

Dan tempat ihram seseorang yang ingin melaksanakan haji adalah tempat-tempat yang telah ditetapkan oleh Nabi ﷺ.

Ibnu Abbas berkata:

إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ وَقَّتَ لِأَهْلِ المَدِينَةِ ذَا الحُلَيْفَةِ، وَلِأَهْلِ الشَّأْمِ الجُحْفَةَ، وَلِأَهْلِ نَجْدٍ قَرْنَ المَنَازِلِ، وَلِأَهْلِ اليَمَنِ يَلَمْلَمَ، هُنَّ لَهُنَّ، وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِهِنَّ مِمَّنْ أَرَادَ الحَجَّ وَالعُمْرَةَ، وَمَنْ كَانَ دُونَ ذَلِكَ، فَمِنْ حَيْثُ أَنْشَأَ حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ مِنْ مَكَّةَ

“Sesungguhnya Nabi ﷺ telah menetapkan mikat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam di Al-Juhfah, bagi penduduk Nejed di Qarnul Manazil dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam. Tempat-tempat itu bagi masing-masing penduduk daerah tersebut dan juga bagi selain mereka yang melewati tempat-tempat tersebut dan berniat untuk haji dan umrah. Sedangkan bagi orang-orang yang kurang dari  jangkauan itu, maka ia memulai ihram dari kediamannya. Hingga penduduk Mekah pun memulai ihram dari Mekah”. (HR. Bukhari)

Al-Harits bin Amru berkata:

وَوَقَّتَ لِأَهْلِ الْيَمَنِ يَلَمْلَمَ أَنْ يُهِلُّوا مِنْهَا , وَذَاتَ عِرْقٍ لِأَهْلِ الْعِرَاق

“Dan beliau ﷺ menetapkan mikat bagi penduduk Yaman di Yalamlam agar mereka bertalbiyah dari situ dan bagi penduduk Irak di Dzatu ‘Irq.” (HR. Ad-Daruquthni)

Maka, bisa disimpulkan bahwa mikat (tempat memulai ihram) yang telah ditentukan oleh Nabi ﷺ adalah:

1) Dzulhulaifah (dikenal sekarang dengan nama Bir Ali) ini adalah mikat bagi penduduk Madinah.

2) Al-Juhfah ini adalah mikat bagi penduduk Syam.

3) Qarnul Manazil ini adalah mikat bagi penduduk Nejed.

4) Yalamlam ini adalah mikat bagi penduduk Yaman.

5) Dzatu Irq ini adalah mikat bagi penduduk Irak.

Siapa yang tinggal di daerah yang dekat ke arah Mekah dan tidak melewati daerah-daerah tadi, maka mikatnya dari tempat tinggalnya. Termasuk penduduk Mekah, mikat mereka dari kota Mekah.

 

  1. Wukuf di Arafah.

Itu berdasarkan firman-Nya:

فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ

“Maka apabila kalian bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masyarilharam.” (QS. Al-Baqarah: 198)

Dan juga berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

الحَجُّ عَرَفَةُ، مَنْ جَاءَ لَيْلَةَ جَمْعٍ قَبْلَ طُلُوعِ الفَجْرِ فَقَدْ أَدْرَكَ الحَج

“Haji itu adalah Arafah. Siapa yang datang ke Arafah pada malam 10 Dzulhijjah sebelum terbit fajar, maka ia telah mendapatkan haji.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Nasai)

Karena itu, siapa yang melaksanakan haji tapi tanpa wukuf  di Arafah, maka batallah hajinya.

Waktu wukuf di Arafah adalah sejak matahari tergelincir di tanggal 9 Dzulhijjah sampai terbitnya fajar di tanggal 10 Dzulhijjah. Sebab, Nabi ﷺ wukuf setelah tergelincirnya matahari di tanggal 9 Dzulhijjah dan beliau berkata, “Siapa yang datang ke Arafah pada malam 10 Dzulhijjah sebelum terbit fajar, maka ia telah mendapatkan haji.”

Dan ada ulama yang berpendapat bahwa waktu wukuf di Arafah dimulai dengan terbitnya fajar di tanggal 9 Dzulhijjah.

Dan tempat wukuf  jamaah haji adalah di bagian mana saja di Arafah. Itu berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

وَوَقَفْتُ هَاهُنَا، وَعَرَفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ

“Aku wukuf di sini. Dan Arafah seluruhnya tempat wukuf.” (HR. Muslim)

 

  1. Tawaf Ifadhah yakni mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali.

Itu berdasarkan firman-Nya:

وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah tua (Baitullah).” (QS. Al-Hajj: 29)

Dan karena Nabi ﷺ tatkala dikabarkan bahwa Shafiyyah mengalami haid, beliau ﷺ bersabda:

أَحَابِسَتُنَا هِيَ

“Apakah ia membuat kita tertahan?”

‘Aisyah menjawab:

إِنَّهَا قَدْ أَفَاضَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَطَافَتْ بِالْبَيْتِ

“Wahai Rasulullah! Ia telah melakukan tawaf ifadlah dan tawaf di Ka’bah.”

Nabi ﷺ pun bersabda:

فَلْتَنْفِرْ

“Kalau begitu, hendaknya ia pergi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syekh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin berkata:

فقوله: أحابستنا هي؟ دليلٌ على أن طواف الإفاضة لا بد منه وإلا لَمَا كان سبباً لحبسهم، ولهذا لما أُخبر بأنها طافت طواف الإفاضة رخص لها في الخروج.

“Sabda beliau, ‘Apakah ia membuat kita tertahan?’ adalah dalil yang menjukkan bahwa tawaf ifadhah itu harus dikerjakan. Kalau tidak, tentu itu tidak menjadi sebab mereka tertahan. Makanya ketika Nabi ﷺ dikabarkan bahwa ia telah tawaf ifadah, beliau pun memberi keringanan kepada Shafiyyah untuk keluar.” (Manasik Al-Hajj wa Al-Umrah wa Al-Masyru Fii Az-Ziyarah)

Karena itu, siapa yang melaksanakan haji tapi tanpa tawaf ifadhah, maka batallah hajinya.

Dan waktu tawaf ifadhah yaitu setelah wukuf di Arafah dan bermalam di Muzdalifah. Itu berdasarkan firman Allah:

ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka, menyempurnakan nazar-nazar mereka, dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah tua (Baitullah).” (QS. Al-Hajj: 29)

Maksud menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka yaitu dengan menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka, memotong kuku mereka, dan mencukur rambut mereka. Dan itu tidaklah terjadi kecuali setelah wukuf di Arafah dan bermalam di Muzdalifah.

 

  1. Sai antara Shafa dan Marwah.

Itu berdasarkan firman-Nya:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

“Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah. Maka siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya.” (QS. Al-Baqarah: 158)

Dan berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

اسْعَوْا فَإِنَّ اللهَ كَتَبَ عَلَيْكُمُ السَّعْيَ

“Laksanakanlah sai, karena sesungguhnya Allah telah mewajibkan sai atas kalian.” (HR. Ahmad)

Aisyah berkata:

مَا أَتَمَّ اللهُ حَجَّ امْرِئٍ وَلَا عُمْرَتَهُ لَمْ يَطُفْ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ

“Allah tidak akan menyempurnakan haji dan umrah seseorang yang tidak melaksanakan sai antara Safa dan Marwah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syekh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin berkata:

فالأقرب أنه ركن؛ وليس بواجب؛ وإن كان الموفق ــــ رحمه الله ــــ وهو من مشائخ مذهب الإمام أحمد ــــ اختار أنه واجب يجبر بدم.

“Pendapat yang dekat dengan kebenaran bahwa tawaf ifadhah adalah rukun. Bukan wajib. Walaupun Al-Muwaffaq-semoga Allah merahmatinya-dan ia termasuk guru dalam mazhab Imam Ahmad-memilih pendapat bahwa itu wajib yang mengharuskan bayar dam.” (Tafsir Al-Fatihah wa Al-Baqarah)

Karena itu, siapa yang melaksanakan haji tapi tanpa sai, maka batallah hajinya.

Kapan waktu sai?

Waktu sai bagi orang yang melakukan haji tamatuk* adalah setelah wukuf di Arafah dan bermalam di Muzdalifah dan setelah tawaf ifadhah.

Kalau ia melakukan sai sebelum tawaf, maka tak mengapa. Apalagi kalau ia lupa atau tidak tahu. Sebab, Abdullah bin Amru bin Al-Ash menceritakan ketika Nabi ﷺ di Mina:

فَمَا سُئِلَ النَّبِيُّ ﷺ عَنْ شَيْءٍ قُدِّمَ وَلاَ أُخِّرَ إِلَّا قَالَ:

“Tidaklah Nabi ﷺ ditanya tentang amalan haji yang didahulukan dan diakhirkan kecuali beliau menjawab:

افْعَلْ وَلاَ حَرَجَ

“Lakukanlah! Tak mengapa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sedangkan waktu sai bagi orang yang melakukan haji kiran* dan ifrad*, maka itu boleh dilaksanakan setelah tawaf qudum.

 

Siberut, 28 Jumada Al-Ulaa 1443

Abu Yahya Adiya

 

*Haji tamatuk adalah haji yang dilakukan setelah melaksanakan umrah.

*Haji kiran adalah haji yang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan umrah.

*Haji ifrad adalah haji yang dilakukan tanpa umrah.