Seseorang marah hingga matanya memerah, suaranya meninggi, kata-kata kotor keluar dari lisannya, dan tangannya memukul ke sana kemari.
Apa penilaian kita terhadap orang tersebut?
Apakah kita anggap ia orang yang hebat dan kuat?
Nabi ﷺ bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ
“Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari)
Orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.
Karena itu, seseorang dianggap lemah kalau ia tidak mampu mengendalikan lisan dan badannya tatkala marah.
Makin meninggi suaranya menunjukkan bahwa ia sosok yang makin lemah.
Makin banyak kata-kata kotor yang keluar dari lisannya menunjukkan bahwa ia sosok yang makin lemah.
Dan makin banyak tangannya memukul ke sana kemari menunjukkan bahwa ia sosok yang makin lemah.
Orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan lisan dan badannya tatkala marah, walaupun orang-orang menganggapnya ganjil dan lemah.
Tengoklah sikap Ibnu ‘Aun tatkala marah.
Al-Qa’nabi berkata:
كَانَ ابْنُ عَوْنٍ لاَ يَغضَبُ، فَإِذَا أَغضبَهُ رَجُلٌ، قَالَ:
“Ibnu ‘Aun tidak pernah marah. Jika seseorang membuatnya marah, ia berkata:
بَارَكَ اللهُ فِيْكَ.
“Semoga Allah memberkatimu.” (Siyar A’lam An-Nubala)
“Semoga Allah memberkatimu”? Apa maksud perkataan ini? Bukankah itu doa?
Ya, itu adalah doa. Itulah kata-kata yang keluar dari lisannya. Bukan teriakan dan cacian. Bukan ancaman dan hujatan.
Bukankah itu sikap yang ‘ganjil’ tapi nyata?
Siberut, 7 Shafar 1444
Abu Yahya Adiya






