Mengharapkan kematian itu ada yang terlarang dan ada yang diperbolehkan.
Nabi ﷺ bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ عَلَى الْقَبْرِ فَيَتَمَرَّغُ عَلَيْهِ وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ مَكَانَ صَاحِبِ هَذَا الْقَبْرِ وَلَيْسَ بِهِ الدِّينُ إِلَّا الْبَلَاءُ.
“Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, dunia ini tidak akan hancur hingga ada seseorang yang melewati suatu kubur lalu menempelkan badannya ke kubur itu seraya berkata, ‘Seandainya saja aku yang menempati kubur orang ini!’ ia melakukan itu bukan karena agama akan tetapi karena besarnya fitnah.” (HR. Muslim)
Ia berangan-angan begitu bukan karena rindu untuk bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi karena beratnya fitnah akhir zaman di depan matanya.
Ada 2 faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:
1. Maksiat akan merajalela mendekati hari kiamat.
2. Bolehnya seseorang mengharap mati karena alasan agama.
Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkata:
ففيه إشارة إلى جواز تمني الموت تدينا
“Pada hadis ini terdapat isyarat akan bolehnya mengangankan kematian karena alasan agama.” (Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah)
Kalau mengharap mati karena alasan dunia terlarang, maka mengharap mati karena alasan agama diperbolehkan.
Mengharap mati karena alasan dunia, yaitu seperti seseorang menderita sakit yang parah atau kemiskinan yang parah atau terlilit hutang yang sangat mencekik, dan yang semacamnya, lalu ia berdoa, “Ya Allah, matikanlah aku, supaya aku bisa tenang dan selamat dari kesusahan di dunia ini.”
Yang seperti ini terlarang dan tidak diperbolehkan.
Sedangkan mengharap mati karena alasan agama, yaitu seperti seseorang menyaksikan kesesatan dan kemaksiatan merajalela di depan matanya dan ada di mana-mana. Ia khawatir dirinya terpengaruh dan terjatuh ke dalamnya. Karena itu, ia pun berharap kepada Allah agar mematikannya, supaya ia tidak tersesat dan selamat dari jerat maksiat.
Yang seperti ini diperbolehkan dan tidak terlarang.
Nabi ﷺ pernah berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ المُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ المَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةً فِي قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar bisa melakukan kebaikan, meninggalkan kemungkaran, dan mencintai orang-orang miskin, serta agar Engkau mengampuniku dan menyayangiku. Apabila Engkau hendak memberi fitnah kepada suatu kaum, maka matikanlah aku dalam keadaan tidak terfitnah.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Lihatlah, matikanlah aku dalam keadaan tidak terfitnah.
Sa’id bin Al-Musayyab berkata:
لَمَّا صَدَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ مِنْ مِنًى، أَنَاخَ بِالْأَبْطَحِ. ثُمَّ كَوَّمَ كَوْمَةً بَطْحَاءَ. ثُمَّ طَرَحَ عَلَيْهَا رِدَاءَهُ وَاسْتَلْقَى. ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ:
“Ketika ‘Umar bin Al-Khaththab tiba dari Mina, ia menderumkan untanya di Abthah. ‘Umar kemudian mengumpulkan kerikil dan menumpuknya. Lalu ia menutupi kerikil-kerikil tersebut dengan kain atasnya kemudian ia berbaring. Lalu ia menjulurkan kedua tangannya ke atas kemudian berdoa:
اللَّهُمَّ كَبِرَتْ سِنِّي. وَضَعُفَتْ قُوَّتِي. وَانْتَشَرَتْ رَعِيَّتِي. فَاقْبِضْنِي إِلَيْكَ غَيْرَ مُضَيِّعٍ وَلاَ مُفَرِّطٍ.
“Ya Allah, telah menua usiaku, dan telah melemah kekuatanku, serta telah tersebar rakyatku. Karena itu, ambillah nyawaku menuju-Mu dalam keadaan diriku tidak menyia-nyiakan dan tidak meremehkan.” (Al-Muwaththa’)
Siapakah ‘Umar bin Al-Khaththab?
Ia adalah sosok pemimpin yang tidak haus jabatan dan kekuasaan.
Ketika merasa dirinya mulai lemah untuk mengemban amanah dari Allah sebagai pemimpin, ia tidak memaksakan dirinya untuk terus memperpanjang jabatan dan kekuasaan.
Ia malah berdoa kepada Allah agar mematikannya dalam keadaan dirinya tidak melalaikan rakyatnya dan tidak melalaikan amanah dari Tuhannya.
Ia mengharap mati bukan karena takut miskin, dan bukan pula karena takut kehilangan jabatan dan kekuasaan.
Ia mengharap mati karena khawatir terjatuh dalam dosa, dikarenakan beratnya amanah dari jabatan yang mesti ia emban.
Itulah doa ‘Umar. Dan ternyata….
Allah mengabulkan doanya. Beberapa minggu setelah ia mengucapkan doanya itu, ia pun menemui Tuhannya.
Semoga Allah meridainya dan mengumpulkan kita bersamanya serta bersama Nabi-Nya di surga-Nya nanti.
Siberut, 6 Sya’ban 1443
Abu Yahya Adiya






