Ke mana pun ia pergi, ia selalu bederma.
Di mana pun ia melihat orang yang membutuhkan uluran tangan, ia berikan bantuan.
Dan di mana pun ia mendapati orang yang mengalami kesusahan, ia berikan pertolongan. Namun….
“Engkau berdusta! Engkau sebenarnya banyak bederma supaya dikatakan, ‘Ia orang yang dermawan!’ dan engkau sudah mendapatkan julukan itu!”
Itulah yang Allah katakan kepadanya di akhirat.
Dan seperti itu juga yang Allah katakan kepada orang yang rajin belajar agama, dan juga mati dalam jihad ketika di dunia.
Lantas, apa nasib mereka?
Nabi ﷺ menyebutkan bahwa masing-masingnya:
فَسُحِبَ عَلى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ في النَّارِ
“Diseret di atas mukanya hingga akhirnya dicampakkan ke dalam neraka!” (HR. Muslim)
Ketika kita hendak meninggalkan dunia ini, apakah kita yakin kalau diri kita sudah merealisasikan tauhid dengan sempurna?
Apakah kita yakin kalau amal kita selama ini sudah ikhlas dan tidak bercampur dengan syirik?
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain itu (syirik), bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh, ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisaa: 48)
Orang berzina, berdusta, atau berjudi, kalau mati dalam keadaan belum bertaubat dari perbuatannya tersebut, ada kemungkinan Allah mengampuninya, sehingga ia bisa masuk surga.
Dan ada juga kemungkinan Allah tidak mengampuninya, sehingga ia masuk neraka. Lalu, setelah beberapa lama di neraka, Allah keluarkan ia darinya lalu ia dimasukkan ke surga.
Itu keadaan orang yang melakukan dosa selain syirik.
Adapun orang yang berbuat syirik, jika ia mati dalam keadaan belum bertaubat darinya, maka Allah tidak mungkin mengampuninya.
Itu menunjukkan bahwa dosa syirik adalah dosa paling besar. Sebab, Allah tidak akan mengampuni pelakunya kalau ia tidak bertobat darinya.
Bukankah yang seperti itu menakutkan? Bukankah yang seperti itu mengkhawatirkan?
Doa Nabi Ibrahim
Allah berfirman:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.” (QS. Ibrahim: 35)
Lihatlah, Nabi Ibrahim ﷺ khawatir dan takut kalau diri beliau dan keturunan beliau terjatuh dalam kemusyrikan.
Nah, kalau seseorang nabi saja khawatir dan takut kalau dirinya dan cucunya terjatuh dalam perbuatan syirik, lalu bagaimana dengan diri kita yang penuh dengan dosa?!
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ مَاتَ وَهْوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ
“Siapa yang mati dalam keadaan menyeru tandingan selain Allah, maka ia akan masuk neraka.” (HR. Bukhari)
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ لَقِيَ اللهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارَ
“Siapa yang bertemu Allah dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun, maka ia akan masuk surga. Sedangkan siapa yang bertemu Allah dalam keadaan berbuat syirik, maka ia akan masuk neraka.” (HR. Muslim)
Orang yang melakukan syirik tempatnya di neraka. Ia menderita dan sengsara di dalamnya.
Bukankah yang seperti itu menakutkan? Bukankah yang seperti itu mengkhawatirkan?
Ya, tentu saja menakutkan. Dan tentu saja mengkhawatirkan. Sebab….
Apakah kita bisa menjamin diri kita bebas dari syirik?
Apakah kita bisa menjamin amal saleh kita selama ini ikhlas untuk Allah?
Apakah kita bisa menjamin ibadah kita bersih dari tujuan dunia?
Yang Tersembunyi yang Paling Ditakuti
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan terjadi pada kalian yaitu syirik kecil!”
Para sahabat bertanya:
وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟
“Apa yang dimaksud dengan syirik kecil, wahai Rasulullah?”
Beliau ﷺ menjawab:
الرِّيَاءُ، يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ: اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً
“Yaitu riya. Allah berfirman kepada orang-orang yang riya di hari kiamat nanti yaitu tatkala setiap manusia dibalas atas amalannya, ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang selama di dunia kalian pamerkan amalan kalian kepada mereka, perhatikanlah, apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?!” (HR. Ahmad)
Syirik yang tersembunyi adalah penyakit yang paling ditakuti oleh Nabi ﷺ. Sebab, karena samarnya, banyak orang yang terjangkiti itu dalam keadaan tidak menyadarinya, sehingga akhirnya ia merasa dirinya tidak apa-apa, padahal sebenarnya dalam keadaan berbahaya.
Maka, seorang mukmin sejati harus, wajib, dan mesti khawatir kalau dirinya terjatuh dalam syirik. Ia harus berusaha menjaga dirinya agar tidak terjatuh dalam syirik.
Lantas, bagaimana caranya agar kita terhindar dari syirik?
Agar Terhindar dari Syirik
- Belajar
Siapa yang mengetahui syirik dengan berbagai jenisnya dan bahayanya, tentu ia tidak mau melakukannya.
Sedangkan orang yang tidak mengetahui syirik dan tidak mengetahui bahayanya, kemungkinan besar ia akan melakukannya. Baik ia sadari maupun tidak. Baik ia akui maupun tidak.
Karena itu, solusi agar terhindar dari syirik adalah belajar, belajar, dan belajar.
- Berdoa.
Nabi ﷺ bersabda:
الشِّرْكُ فِيكُمْ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ وَسَأُدُلُّكَ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتَهُ أَذْهَبَ عنْكَ صِغَارَ الشِّرْكِ وَكِبَارَهُ تَقُولُ
“Syirik yang ada pada kalian lebih samar dibandingkan gerakan semut. Akan kutunjukkan kepadamu sesuatu yang jika engkau lakukan, niscaya Allah menghilangkan syirik kecil maupun besar dari dirimu. Yaitu hendaknya engkau mengucapkan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar tidak menyekutukan-Mu dalam keadaan aku tahu. Dan aku memohon ampun kepada-Mu karena menyekutukan-Mu dalam keadaan tidak tahu.” (Al-Jami’ Ash-Shaghir)
Siberut, 28 Dzulqa’dah 1441
Abu Yahya Adiya






