“Hujan turun karena sebab bintang ini dan itu!”
“Hujan turun akibat munculnya bintang ini dan itu!”
Adakah yang salah dalam ungkapan ini?
Suatu hari Nabi ﷺ mengimami salat Subuh di Hudaibiyah, setelah semalaman turun hujan. Usai melaksanakan salat, beliau menghadap kepada jamaah dan bersabda:
هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟
“Tahukah kalian apa yang dikatakan oleh Tuhan kalian?”
Mereka menjawab:
اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ
“Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”
Beliau ﷺ pun bersabda:
أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ
“Dia berfirman, ‘Pagi ini di antara hamba-hamba-Ku ada yang beriman dan ada pula yang kafir.’
فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالكَوْكَبِ
Adapun orang yang mengatakan, ‘Telah turun hujan kepada kita berkat karunia Allah dan rahmat-Nya’, maka ia telah beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang.
وَأَمَّا مَنْ قَالَ: بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي وَمُؤْمِنٌ بِالكَوْكَبِ
Sedangkan orang yang mengatakan, ‘Telah turun hujan kepada kita karena bintang ini dan itu’, maka ia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa setelah turun hujan, sebagian orang ada yang mengatakan:
لَقَدْ صَدَقَ نَوْءُ كَذَا وَكَذَا
“Sungguh, telah benar bintang ini dan itu.”
Maka Allah pun menurunkan firman-Nya, yaitu surat Al-Waqi’ah ayat 75 sampai 82:
فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ
“Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang.
وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ
Sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar kalau saja kalian mengetahuinya,
إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ
Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia,
فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ
dalam kitab yang terpelihara (Lohmahfuz)
لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
tidak ada yang menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan,
تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Diturunkan dari Tuhan semesta alam.
أَفَبِهَذَا الْحَدِيثِ أَنْتُمْ مُدْهِنُونَ
Maka apakah kalian menganggap remeh berita ini?
وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ
Dan kalian menjadikan rezeki yang kalian terima justru untuk mendustakan-Nya?” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam ayat-ayat ini Allah mencela orang-orang musyrik yang telah mengaitkan turunnya hujan dengan bintang tertentu.
Allah menyatakan bahwa pernyataan mereka adalah murni kebohongan. Bahkan, Allah menyatakan itu sebagai kekafiran.
Sebab, turunnya hujan adalah karena keputusan Allah, dan sebagai anugerah dan karunia dari-Nya.
Tidak ada campur tangan dari siapa pun dan apa pun di dalamnya. Termasuk bintang-bintang-Nya.
Karena itu….
“Hujan turun karena sebab bintang ini dan itu!”
“Hujan turun akibat munculnya bintang ini dan itu!”
Itu merupakan pernyataan yang sangat tidak wajar dan berakibat besar.
Akibat Mengaitkan Hujan dengan Bintang Tertentu
- Menyerupai perbuatan kaum musyrikin di zaman kegelapan.
Sebab, di antara kebiasaan kaum musyrikin di zaman jahiliah yaitu mengaitkan turunnya hujan dengan bintang tertentu.
Nabi ﷺ bersabda:
أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ
“Ada empat perkara jahiliah pada umatku dan belum mereka tinggalkan: membanggakan kebesaran leluhur, mencela keturunan, mengaitkan hujan dengan bintang, dan meratapi orang mati.” (HR. Muslim)
- Kebohongan dan kemusyrikan.
Hujan adalah anugerah dari-Nya dan turun karena keputusan-Nya.
Tidak ada campur tangan dari siapa pun dan apa pun di dalamnya. Termasuk bintang-bintang-Nya.
Makanya, mengaitkan turunnya hujan dengan bintang tertentu adalah sangat diharamkan, karena itu adalah kebohongan dan kemusyrikan.
Kalau seseorang meyakini bahwa bintang itu semata-mata sebab turunnya hujan, sedangkan yang menurunkan hujan sebenarnya adalah Allah, berarti ia telah melakukan dosa yang amat besar. Karena…
Ia telah berbuat syirik kecil, yaitu menetapkan sesuatu sebagai sebab turunnya hujan, padahal Allah dan Rasul-Nya tidak menetapkan itu sebagai sebab turunnya hujan.
Namun, kalau seseorang meyakini bahwa bintang itulah yang menurunkan hujan, dan bukan Allah, berarti murtadlah ia. Karena….
Ia telah berbuat syirik besar, yaitu menyekutukan Allah dalam perkara yang merupakan kekhususannya (yaitu menurunkan hujan).
Hujan Ada di Tangan-Nya
Kalau Allah berkehendak menurunkan hujan, maka siapakah yang sanggup menahannya?
Dan kalau Dia berkehendak menahan hujan, maka siapakah yang sanggup menurunkannya?
Sadarilah kenikmatan itu, dan jangan ‘melupakannya’!
Bahkan, sadarilah bahwa….
jabatan yang engkau tempati….
kekayaan yang engkau miliki….
kecerdasan yang engkau punyai.…
dan segala kenikmatan yang engkau rasakan hingga saat ini….
itu semua adalah karunia dari-Nya yang harus engkau syukuri.
Allah berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allah-lah (datangnya).” (QS. An-Nahl: 53)
Siberut, 12 Shafar 1442
Abu Yahya Adiya






