Membuat Tandingan Karena Kesamaran

Membuat Tandingan Karena Kesamaran

Jika semut hitam berada di atas batu hitam, dan itu terjadi di waktu malam, maka bisakah kita mengenalinya?

Tentu saja sulit untuk mengenalinya.

Maka, seperti itulah syirik. Sulit dikenali. Bahkan, kadang, lebih sulit dikenali daripada semut tadi.

Allah berfirman:

فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Maka, janganlah kalian mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 22)

Ibnu ‘Abbas menafsirkan ayat tadi dengan mengatakan:

الأَنْدَادُ هُوَ الشِّرْكُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ عَلَى صَفَاةٍ سَوْدَاءَ، فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ وهو ان يقول

“Mengadakan tandingan bagi Allah adalah perbuatan syirik, suatu perbuatan dosa yang lebih sulit dikenali daripada semut kecil yang merayap di atas batu hitam, pada malam hari yang gelap gulita. Yaitu seperti ucapan:

 وَاللَّهِ، وَحَيَاتِكَ يَا فُلانَةُ، وَحَيَاتِي.

“Demi Allah dan demi hidupmu wahai fulan, juga demi hidupku.”

وَيَقُولُ:

Atau seperti ucapan:

لَوْلا كَلْبُهُ هَذَا لأَتَانَا اللُّصُوصُ، وَلَوْلا الْبَطُّ فِي الدَّارِ لأَتَى اللُّصُوصُ

“Kalau bukan karena anjing ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri itu. Kalau bukan karena angsa yang ada di rumah ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri itu.”

وَقَوْلُ الرَّجُلِ لِصَاحِبِهِ:

Atau seperti ucapan seseorang kepada kawannya:

مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ

“Ini terjadi karena kehendak Allah dan kehendakmu.”

وَقَوْلُ الرَّجُل .

Atau seperti ucapan seseorang:

لَوْلا اللَّهُ وَفُلَانٌ

“Kalaulah bukan karena Allah dan fulan.”

لَا تَجْعَلْ فِيهَا فلان، فَإِنَّ هَذَا كُلَّهُ بِهِ شِرْكٌ.

Janganlah engkau menyertakan ‘fulan’ dalam semua ucapan tadi. Karena semua itu adalah kemusyrikan.” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim Musnadan ‘An Rasulillah wa Ash-Shahabah wa At-Tabi’in)

 

Beberapa Contoh Syirik yang Samar

Ketika menafsirkan surat Al-Baqarah ayat 22 tadi, Ibnu ‘Abbas menyebutkan beberapa contoh syirik yang samar. Ya, samar. Banyak orang yang melakukannya karena saking samarnya.

Apa sajakah contoh syirik yang samar itu?

 

  1. “Demi Allah dan demi hidupmu wahai fulan, juga demi hidupku.”

Lihatlah, sumpah dengan nama Allah disandingkan dengan sumpah dengan nama makhluk. Itu sama saja membuat tandingan bagi Allah. Dan itulah syirik, kata Ibnu ‘Abbas.

Bahkan itu juga yang dikatakan oleh nabi kita:

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ

“Siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka sungguh, ia telah berbuat syirik.” (HR. Abu Daud)

Siapa yang bersumpah dengan selain Allah, siapa pun itu dan apa pun itu, maka ia telah berbuat syirik.

Kenapa itu syirik? Sebab….

الحلف بالشيء يقتضي تعظيمه، والعظمة في الحقيقة إنما هي لله وحده، فلا يحلف إلا به أو بصفة من صفاته.

“Bersumpah dengan sesuatu berkonsekuensi pengagungan terhadap sesuatu itu. Padahal, keagungan yang sebenarnya hanyalah milik Allah semata. Karena itu, tidak boleh bersumpah kecuali dengan nama-Nya atau salah satu dari sifat-Nya.” (Al-Mulakhkhash fi Syarh Kitab At-Tauhid)

Namun, apakah itu syirik kecil atau besar?

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

والحلف بغير الله شرك أكبر؛ إن اعتقد أن المحلوف به مساو لله تعالى في التعظيم والعظمة، وإلا فهو شرك أصغر

“Bersumpah dengan selain Allah adalah syirik besar, kalau meyakini bahwa orang yang dijadikan sumpah itu menyamai Allah dalam hal pengagungan dan keagungan. Kalau tidak seperti itu, maka itu syirik kecil.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)

Kalaupun itu syirik kecil, tetap saja dosanya besar. Sebab, itu adalah syirik, dosa paling besar di antara dosa-dosa besar!

Makanya Ibnu Mas’ud pernah berkata:

لَأَنْ أَحْلِفَ بِاللَّهِ كَاذِبًا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَحْلِفَ بِغَيْرِهِ، وَأَنَا صَادِقٌ

“Sungguh, aku bersumpah dusta dengan menyebut nama Allah, itu lebih kusukai daripada aku bersumpah jujur tetapi dengan menyebut nama selain-Nya.” (HR. Ath-Thabrani dan Ibnu Abi Syaibah)

Bersumpah dusta dengan menyebut nama Allah adalah dosa besar. Namun, bersumpah jujur dengan menyebut nama selain-Nya itu lebih besar lagi dosanya. Sebab, itu syirik, dosa paling besar di antara dosa-dosa besar!

 

  1. “Kalau bukan karena anjing ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri itu. Kalau bukan karena angsa yang ada di rumah ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri itu.”

Lihatlah, keselamatan dari pencuri disandarkan pada anjing atau angsa. Bukan kepada Allah. Itu sama saja membuat tandingan bagi Allah. Dan itulah syirik, kata Ibnu ‘Abbas.

Sebab, nikmat bisa selamat dari pencuri adalah berasal dari Allah. Karena itu, sandarkanlah nikmat itu kepada-Nya.

Allah berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allah-lah (datangnya).” (QS. An-Nahl: 53)

 

  1. “Ini terjadi karena kehendak Allah dan kehendakmu.” Atau ucapan: “Kalaulah bukan karena Allah dan fulan.”

Lihatlah, kehendak Allah disandingkan dengan kehendak manusia. Itu sama saja membuat tandingan bagi Allah. Dan itulah syirik, kata Ibnu ‘Abbas.

Dan itu juga telah dilarang oleh Nabi ﷺ. Beliau ﷺ bersabda:

لَا تَقُولُوا مَا شَاءَ اللَّهُ، وَشَاءَ فُلَانٌ، وَلَكِنْ قُولُوا مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ شَاءَ فُلَانٌ

“Janganlah kalian berkata, ‘Atas kehendak Allah dan kehendak fulan’, tapi katakanlah, ‘Atas kehendak Allah kemudian atas kehendak fulan.” (HR. Abu Daud)

 

Dalam kalimat atas kehendak Allah dan kehendak fulan ini, kehendak Allah dihubungkan dengan kehendak fulan menggunakan kata dan. Itu berkonsekuensi penyetaraan antara Allah dan makhluk-Nya. Dan itulah syirik. Makanya Nabi ﷺ melarang itu.

Sedangkan dalam kalimat atas kehendak Allah kemudian kehendak fulan ini, kehendak Allah dihubungkan dengan kehendak fulan menggunakan kata kemudian. Itu berkonsekuensi urutan dan bukan penyetaraan, makanya Nabi ﷺ memperbolehkan itu.

Dan itulah praktek para ulama terdahulu.

Imam Al-Baghawi berkata:

وَكَانَ إِبْرَاهِيم لَا يرى بَأْسا، أَن يَقُولُ:

“Ibrahim (An-Nakha’i) memandang tak mengapa mengucapkan:

 مَا شَاءَ اللَّه ثُمَّ شِئْت

“Atas kehendak Allah kemudian kehendakmu.”

وَكَانَ يكره أَن يَقُولُ: أعوذ بِاللَّه وَبِك حَتَّى يَقُولُ:

Dan ia benci mengucapkan, ‘Aku berlindung kepada Allah dan kepadamu’ sampai mengucapkan:

ثُمَّ بك

“Kemudian kepadamu.” (Syarh As-Sunnah)

Apa maksud benci di sini?

Syekh Saleh Al-Fauzan berkata:

الكراهة في عرف السلف يراد بها التحريم

“Benci menurut kebiasaan salaf (orang-orang terdahulu) maksudnya adalah mengharamkan.” (Al-Mulakhash fi Syarh Kitab At-Tauhid)

Ya, mengharamkan. Artinya mereka tidak memandang sekadar makruh, apalagi boleh, melainkan haram. Sangat haram!

 

Siberut, 10 Rabi’ul Awwal 1442

Abu Yahya Adiya