Ada yang lahir dan ada yang mati. Ada yang sehat dan ada yang wafat.
Apakah ada yang mengatur semua itu?
Apakah waktu yang mengakhiri hidupmu?
Allah berfirman:
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ
“Dan mereka berkata, ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita kecuali masa.’ Dan mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang itu. Mereka hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al Jatsiah, 24)
Siapa yang dimaksud dengan mereka di sini?
Mereka adalah orang-orang musyrik di zaman jahiliah yang sependapat dengan kelompok Duhriyyah, yaitu penolak hari kebangkitan manusia dari kubur.
Imam Sufyan bin ‘Uyainah berkata:
كَانَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ:
“Orang-orang jahiliah berkata:
إِنَّمَا يُهْلِكُنَا اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، هُوَ الَّذِي يُهْلِكُنَا، وَيُمِيتُنَا، وَيُحْيِينَا
“Yang membinasakan kita hanyalah malam dan siang. Itulah yang membinasakan kita, mematikan kita, dan menghidupkan kita.” (HR. Ibnu Hibban)
Bagi mereka, kematian seseorang bukan karena aturan dan ketetapan dari-Nya, melainkan karena umur yang panjang bagi orang yang panjang hidupnya, dan karena penyakit, kesedihan, dan kegundahan bagi orang yang pendek hidupnya. Menurut mereka:
فالمهلك لهم هو الدهر
“Yang membinasakan mereka adalah masa.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)
Mencela Masa=Mencela Tuhannya Masa
Kalau memang masa adalah yang paling bertanggung jawab atas kematian manusia, bukankah itu pernyataan yang mencela masa?
Tentu saja itu celaan terhadap masa.
Kalau seseorang mencela masa, zaman, dan waktu karena berkeyakinan bahwa….
Masa itulah yang memberikan bencana….
Zaman itulah yang memberikan keburukan….
Dan waktu itulah yang memberikan kesialan….
Maka ia kafir dan musyrik. Sama seperti orang-orang musyrik Duhriyyah.
Namun, kalau seseorang mencela masa, zaman, dan waktu karena berkeyakinan bahwa masa, zaman, dan waktu adalah perantara turunnya musibah dan bencana, sedangkan yang menurunkan musibah dan bencana adalah Allah, maka ia telah terjatuh dalam perbuatan yang sangat diharamkan.
Nabi ﷺ bersabda:
قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلّ
“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ، يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ، أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ
“Anak Adam (manusia) menyakiti Aku, ia mencaci masa, padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Akulah yang menjadikan malam dan siang silih berganti.” (HR. Bukhari dan Muslim)
ia mencaci masa yaitu mencela dan memakinya tatkala tertimpa musibah.
Nabi ﷺ bersabda:
لَا تَسُبُّوا الدَّهْرَ، فَإِنَّ اللهَ هُوَ الدَّهْرُ
“Jangan kalian mencaci masa, karena sesungguhnya Allah adalah Pemilik dan Pengatur masa.” (HR. Muslim)
Kalau Allah sudah mencela orang yang mencaci masa dan Nabi ﷺ juga telah melarang perbuatan itu, bukankah yang demikian menunjukkan bahwa perbuatan itu diharamkan?
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
فهذا محرم، ولا يصل إلى درجة الشرك، وهو من السفه في العقل والضلال في الدين; لأن حقيقة سبه تعود إلى الله – سبحانه -; لأن الله تعالى هو الذي يصرف الدهر
“Itu diharamkan, tapi tidak sampai tingkatan syirik. Itu termasuk kedunguan dalam berpikir dan kesesatan dalam beragama. Karena, hakekat celaannya kembali kepada Allah. Sebab, Allah lah yang mengatur waktu.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)
Maka, jangan katakan: “Ini zaman edan!” “Ini masa gila!” “Aku telah sakit oleh masa!” “Aku telah menderita karena waktu!”
Jangan mencela masa, zaman, dan waktu, dalam bentuk apa pun. Baik dengan ucapanmu maupun perbuatanmu. Hargailah ciptaan Tuhanmu!
Harga Waktu
Waktu adalah pemberian Allah yang sangat berharga. Maka, bagaimana bisa kita mencelanya?
Setinggi apa pun jabatan seseorang dan sebanyak apa pun kekayaannya, kalau sudah habis waktunya di dunia, apakah bermanfaat lagi jabatan dan kekayaannya?
Waktu itu begitu berharga dan sangat berharga, tapi sayangnya, sangat cepat pula hilang dari diri kita tanpa kita menyadarinya.
Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata:
يابن آدم، إنما هي أيام إذا مضى يومك ينقصك
“Wahai anak Adam, sesungguhnya waktu di dunia ini hanyalah hari demi hari. Kalau berlalu satu hari darimu, maka berkuranglah umurmu.” (Az-Zahr Al-Faih Fi Dzikri Man Tanazaha ‘An Ad-Dzunub Wa Al-Qabaih)
Siberut, 17 Rabi’ul Awwal 1442
Abu Yahya Adiya






