Mereka Menyelewengkan Nama-Nama-Nya

Mereka Menyelewengkan Nama-Nama-Nya

Seindah apa pun nama seseorang di muka bumi ini, tetap saja tidak sebanding dan sangat tidak sebanding dengan keindahan nama-nama-Nya.

Allah berfirman:

ولله الأسماء الحسنى فادعوه بها وذروا الذين يلحدون في أسمائه سيجزون ما كانوا يعملون

“Hanya milik Allah lah Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik), maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyelewengkan nama-nama-Nya. Mereka nanti akan mendapat balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raaf: 180)

Ayat ini menunjukkan bahwa hanya Allah lah yang memiliki nama-nama yang paling baik dan paling indah.

Kalau memang nama-nama yang paling baik dan paling indah hanya milik Allah, maka tidak boleh seorang pun menyelewengkan nama-nama-Nya.

Lantas, kapan seseorang dianggap menyelewengkan nama-nama-Nya?

 

Bentuk Penyelewengan terhadap Nama-Nama Allah

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan:

فَالْإِلْحَادُ

“Penyelewengan (terhadap nama-nama-Nya di sini):

إِمَّا بِجَحْدِهَا وَإِنْكَارِهَا

Bisa dengan menentangnya dan mengingkarinya.

وَإِمَّا بِجَحْدِ مَعَانِيهَا وَتَعْطِيلِهَا

Bisa dengan menentang dan meniadakan makna-maknanya.

وَإِمَّا بِتَحْرِيفِهَا عَنِ الصَّوَابِ، وَإِخْرَاجِهَا عَنِ الْحَقِّ بِالتَّأْوِيلَاتِ الْبَاطِلَةِ

Bisa dengan menyelewengkannya dari makna yang benar dan mengeluarkannya dari makna yang benar dengan takwil-takwil batil.

وَإِمَّا بِجَعْلِهَا أَسْمَاءً لِهَذِهِ الْمَخْلُوقَاتِ الْمَصْنُوعَاتِ

Dan bisa dengan menjadikannya sebagai nama-nama untuk makhluk yang dicipta.” (Madarij As-Salikin Baina Manazil Iyyaaka Na’budu wa Iyyaaka Nasta’iin)

Dari perkataan Imam Ibnul Qayiim ini, bisa disimpulkan bahwa ada empat bentuk penyelewengan terhadap nama-nama-Nya, yaitu:

 

Penyelewengan pertama: menentang dan mengingkari nama-nama-Nya.

Seperti yang dilakukan oleh kelompok Jahmiyyah ekstrem.

Mereka berkata, “Allah tidak memiliki nama Ar-Rahman (Maha Pengasih), dan tidak memiliki sifat kasih! Allah juga tidak memiliki nama Al-‘Aliy (Maha Tinggi), dan tidak memiliki sifat tinggi!”

Menurut mereka, Allah tidak memiliki nama dan sifat. Itulah pendapat mereka.

Karena pendapat mereka itulah, para ulama mengafirkan mereka.

Imam Ibnul Qayyim berkata:

ولقد تقلد كفرهم خمسون في … عشر من العلماء في البلدان

“Kekafiran mereka telah ditetapkan oleh lima ratus ulama…yang tersebar di berbagai negeri.

واللالكائي الإمام حكاه عنـ … ـهم بل حكاه قبله الطبراني

Imam Al-Lalika’i menceritakan dari mereka…bahkan sebelumnya telah diceritakan oleh Ath-Thabrani.” (Al-Kafiyah Asy-Syafiyah Fii Al-Intishar Lilfirqah An-Najiyah)

 

Penyelewengan kedua: menetapkan nama-nama-Nya, tapi menentang maknanya.

Seperti yang dilakukan oleh kelompok Muktazilah.

Mereka berkata, “Allah memiliki nama Ar-Rahman (Maha Pengasih), tapi tidak memiliki sifat kasih! Allah memiliki nama Al-‘Aliy (Maha Tinggi), tapi tidak memiliki sifat tinggi!”

Menurut mereka, Allah memiliki nama, tapi nama-Nya tidak mengandung makna dan sifat-Nya. Itulah pendapat mereka.

Karena pendapat mereka itulah, para ulama memvonis bahwa mereka telah benar-benar menyimpang.

Sampai-sampai Imam Ahmad berkata:

لَا يُصَلَّى خَلْفَ الْقَدَرِيَّةِ وَالْمُعْتَزِلَةِ

“Jangan salat di belakang kelompok Qadariyyah dan  Muktazilah!” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah)

 

Penyelewengan ketiga: menetapkan nama-nama-Nya, tapi membelokkan maknanya dari makna yang sebenarnya.

Seperti yang dilakukan oleh kelompok Asy’ariyyah dan Maturidiyah.

Mereka berkata, “Allah memiliki nama Ar-Rahman (Maha Pengasih), tapi maksud Maha Pengasih di sini bukan berarti Allah memiliki sifat kasih, tapi maksudnya Allah menginginkan kebaikan!

Dan Allah memiliki nama Al-‘Aliy (Maha Tinggi), tapi maksud Maha Tinggi di sini bukan berarti Allah memiliki sifat tinggi atau di ketinggian, tapi maksudnya kekuasaan-Nya yang tinggi!”

Menurut mereka, Allah memiliki nama-nama yang mengandung makna dan sifat-Nya. Namun, mereka membelokkan makna dari sebagian nama-Nya ke makna yang lain yang tidak sesuai dengan makna yang sebenarnya. Itulah kebiasaan mereka.

Karena kebiasaan mereka itulah, para ulama memvonis bahwa mereka telah menyimpang.

Imam Abu Al-‘Abbas bin Suraij yang bergelar Asy-Syafi’i kedua berkata:

لَا نَقُولُ بِتَأْوِيلِ الْمُعْتَزِلَةِ وَالْأَشْعَرِيَّةِ…بَلْ نَقْبَلُهَا بِلَا تَأْوِيلٍ، وَنُؤْمِنُ بِهَا بِلَا تَمْثِيلٍ

“Kami tidak sependapat dengan takwil yang dilakukan Muktazilah, Asy’ariyyah… Bahkan, kami menerimanya (ayat dan hadis tentang sifat Allah) tanpa takwil. Dan kami beriman kepadanya tanpa menyerupakannya dengan makhluk.” (Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiyyah)

 

Penyelewengan keempat: menjadikan nama Allah sebagai nama makhluk.

Seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik jahiliah.

Mujahid berkata:

اشتقوا “العزى” من “العزيز”، واشتقوا “اللات” من “الله”

“Kaum musyrikin mengambil akar kata Al-‘Uzza dari kata Al-‘Aziz dan mengambil akar kata Al-Laata dari kata Allah.” (Jami’ Al-Bayan Fii Ta’wiil Al-Quran)

Itulah salah satu penyimpangan dan kemusyrikan kaum musyrikin jahiliah.

Selain 4 bentuk penyelewengan yang telah disebutkan oleh Ibnul Qayyim tadi, ada juga penyelewengan lain yang bisa disebutkan di sini, yaitu:

 

Penyelewengan kelima: memberi nama Allah dengan nama yang tidak Allah sebutkan untuk diri-Nya dan tidak juga disebutkan oleh Rasul-Nya.

Al-A’masy menyebutkan salah satu bentuk kesesatan orang-orang musyrik:

يُدْخِلُونَ فِيهَا مَا لَيْسَ مِنْهَا.

“Mereka memasukkan ke dalam nama-nama-Nya nama yang bukan termasuk nama-nama-Nya.” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim Musnadan ‘An Rasulillah wa Ash-Shahabah wa At-Tabi’in)

Seperti kaum Nashrani menamai Allah dengan “Bapak”.

Mereka telah menamai Allah dengan nama yang tidak Dia sebutkan untuk diri-Nya dan tidak pula disebutkan oleh Rasul-Nya. Itulah penyimpangan mereka. Dan sayangnya…

Penyimpangan mereka ditiru oleh sebagian kaum tarekat Sufi ekstrem.

Imam Ibnul Qayyim berkata:

حَتَّى قَالَ زَعِيمُهُمْ: وَهُوَ الْمُسَمَّى بِكُلِّ اسْمٍ مَمْدُوحٍ عَقْلًا، وَشَرْعًا وَعُرْفًا، وَبِكُلِّ اسْمٍ مَذْمُومٍ عَقْلًا وَشَرْعًا وَعُرْفًا

“Sampai-sampai berkatalah pemimpin mereka, ‘Dialah yang diberi nama dengan semua nama yang terpuji, baik itu secara akal, syariat, maupun kebiasaan, dan juga diberi nama dengan semua nama yang tercela, baik secara akal, syariat, maupun kebiasaan.’

تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يَقُولُ الْمُلْحِدُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا

Maha Tinggi Allah dengan setinggi-tingginya dari apa yang dikatakan oleh orang-orang menyimpang itu.” (Madarij As-Salikin Baina Manazil Iyyaaka Na’budu wa Iyyaaka Nasta’iin)

Itulah beberapa bentuk penyelewengan terhadap nama-nama Allah.

Siapa yang melakukan semua itu, maka Allah mengancam dalam ayat tadi: “Mereka nanti akan mendapat balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.”

 

Siberut, 2 Rabi’ul Tsani 1442

Abu Yahya Adiya