‘Aisyah bertanya kepada Nabi ﷺ:
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ القَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟
“Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui bahwa suatu malam adalah Lailatul Qadar, maka beritahukanlah kepadaku apa yang harus kuucapkan?”
Beliau ﷺ menjawab:
قُولِي:
“Ucapkan:
اللهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, mencintai maaf, maka maafkanlah aku.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:
- Setiap muslim harus berilmu sebelum beramal. Sebagaimana perkataan ‘Aisyah tadi: “jika aku mengetahui bahwa suatu malam adalah Lailatul Qadar, maka beritahukanlah kepadaku, apa yang harus kuucapkan?”
‘Aisyah tidak berbuat dulu baru setelah itu bertanya. Namun, ia bertanya terlebih dahulu baru setelah itu berbuat.
Imam Al-Bukhari menyebutkan dalam kitab Shahihnya:
بَابٌ: العِلْمُ قَبْلَ القَوْلِ وَالعَمَلِ
“Bab Berilmu Sebelum Berkata dan Beramal.”
Karena itu, tidak pantas seorang muslim mengerjakan suatu ibadah, kecuali dalam keadaan tahu bahwa ibadah yang ia kerjakan tersebut ada perintahnya, contohnya, atau tuntunannya dari Nabi ﷺ.
Tidak bisa ia cuma mereka-reka dan menduga-duga: “Saya pikir…saya kira…saya rasa… ini baik dan benar.”
Beragama itu harus berdasarkan wahyu, yaitu kitab Tuhanmu dan sunnah nabimu, bukan berdasarkan pikiran, perkiraan, dan perasaanmu!
- Di antara nama yang Allah miliki yaitu العَفُوٌّ
Pertanyaan: untuk apa kita mengetahui nama-nama Allah?
Jawaban:
1) “Tak kenal, maka tak sayang” dan “Kalau kenal, maka akan sayang”. Berarti…
Makin kenal kita akan nama-nama Allah, maka makin cintalah kita kepada Allah.
2) Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الجَنَّةَ
“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama. Siapa yang menghafalnya, maka ia masuk surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Apakah kita tidak mau masuk surga?
3) Allah berfirman:
{وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا}
“Allah memiliki nama-nama yang terindah, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu.” (QS. Al-A’raaf: 180)
Kalau kita ingin memohon sesuatu kepada Allah, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-Nya yang sesuai dengan permohonan kita itu. Itu salah satu sebab dikabulkannya doa kita.
Seperti doa yang diajarkan Nabi ﷺ di atas. Ketika kita ingin memohon ampunan atau pemaafan dari-Nya, maka hendaknya berdoa dengan menyebut nama-Nya yang ada hubungannya dengan ampunan atau pemaafan yaitu عفو (Maha Pemaaf).
Karenanya, doa itu berbunyi:
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, mencintai maaf, maka maafkanlah aku.”
Berarti, kalau kita ingin memohon kekayaan, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-Nya yang ada hubungannya dengan kekayaan, yaitu الغني(Yang Maha Kaya). Maka doanya bisa berbunyi:
اللهم إنك غني فأغنني
“Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Kaya, karena itu kayakanlah diriku!”
Itu sekali lagi, salah satu sebab dikabulkan doa kita.
- Di antara sifat yang Allah miliki adalah pemaaf.
Syekh ‘Athiyyah Salim berkata:
(اللهم! إنك عفو) هذا وصف للمولى سبحانه أنه عفو وكم من عفو لله على الخلق! وكم من ذنب يرتكبه الإنسان في خفاء أو علن والله يعفو عنه!
“Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha pemaaf‘. Ini adalah penetapan sifat bagi Allah bahwa Dia itu Pemaaf. Berapa banyak ampunan yang Allah berikan kepada hamba-Nya! Dan berapa banyak dosa yang dilakukan seseorang dalam keadaan menyendiri atau terang-terangan, tapi Allah justru mengampuninya!” (Syarh Bulughul Maram)
- Seseorang tidak boleh merasa bangga dengan amalan yang telah ia lakukan.
Lihatlah ‘Aisyah. Kurang apakah ia dalam beramal dan beribadah?! Ia adalah wanita penghuni surga yang akan mendampingi suaminya tercinta!
Walaupun begitu, Nabi ﷺ menyuruhnya untuk banyak meminta ampun kepada Allah.
Sebab, sehebat apa pun amalan seseorang, tetap saja banyak kekurangan, dan tidak sebanding dengan surga yang penuh dengan kenikmatan.
Syekh ‘Athiyyah Salim berkata:
وهكذا سائر العباد، فالعبد عليه أن يحتقر عمله ولو كان كثيراً، فيكون منتهى طلبه المغفرة والعفو عن الخطأ وعن التقصير
“Hendaknya demikian pula hamba yang lain. Seorang hamba harus menganggap remeh amalannya, walaupun itu banyak, sehingga puncak permohonannya adalah ampunan dan pemaafan dari kesalahan dan kekurangan.” (Syarh Bulughul Maram)
- Anjuran untuk memperbanyak doa tadi.
Sebab, itu adalah doa yang sangat baik. Dari segi apa?
Doa itu untuk waktu terbaik, yaitu Lailatul Qadar.
Doa itu diajarkan oleh manusia terbaik, yaitu Nabi ﷺ.
Doa itu diajarkan kepada wanita terbaik, yang paling dicintai Nabi ﷺ, yaitu ‘Aisyah.
Seorang suami yang sangat mencintai istrinya, tentu akan memberikan hadiah terbaik kepada istrinya. Berarti, doa tadi adalah doa terbaik yang hendaknya kita amalkan dan kita praktekkan, terutama di waktu-waktu berharga saat ini.
Siberut, 27 Ramadhan 1441
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Syarh Riyadhus Shalihin karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin
- Syarh Bulughul Maram karya Syekh ‘Athiyyah bin Muhammad Salim






