Dalam Urusan Kelahiran pun Dia Disekutukan

Dalam Urusan Kelahiran pun Dia Disekutukan

Tanpa kehadiran anak, rumah tangga akan terasa hampa. Bahkan, menurut sebagian orang itu adalah derita.

Kalau dianggap derita, maka orang yang berbuat syirik karena kehadiran anak, sebenarnya lebih menderita lagi.

Allah berfirman:

 هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ فَلَمَّا أَثْقَلَتْ دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

“Dialah yang menciptakan kalian dari satu jiwa dan darinya Dia menciptakan pasangannya, agar ia merasa senang kepadanya. Maka setelah ia campuri, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah ia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian ketika ia merasa berat, keduanya (suami istri) memohon kepada Allah, Tuhan mereka: “Jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.”

فَلَمَّا آتَاهُمَا صَالِحًا جَعَلَا لَهُ شُرَكَاءَ فِيمَا آتَاهُمَا فَتَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Maka setelah Dia memberi keduanya seorang anak yang sempurna, mereka menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah Dia anugerahkan itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al-A’raaf: 189-190)

Apa yang dimaksud dengan satu jiwa di sini?

Menurut sebagian ulama maksudnya yaitu satu jenis, yakni manusia. Keturunan Adam.

Sebelum mendapatkan anak, sebagian suami-istri berdoa, “Jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.”

Namun, setelah mendapatkan anak, mereka menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah Dia anugerahkan itu!

Bagaimana mereka menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang Dia anugerahkan itu?

Bagaimana bentuk penyekutuan mereka terhadap Allah terkait dengan anak yang baru mereka dapatkan itu?

 

Bentuk Penyekutuan terhadap Allah Terkait dengan Anak yang Baru Lahir

  1. Meyakini bahwa yang memberikan anak yang baru lahir adalah selain Allah.

Seperti keyakinan sebagian orang bahwa jin, atau “wali” tertentu bisa memberikan anak, dan semacamnya.

Itu adalah syirik besar. Sebab, menyandarkan penciptaan anak kepada selain Allah sama saja meyakini bahwa ada selain Allah yang bisa menciptakan. Dan sekali lagi, itu adalah syirik besar.

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

ومن هذا أيضا ما يوجد عند بعض الأمم الإسلامية الآن; فتجد المرأة التي لا يأتيها الولد تأتي إلى قبر الولي الفلاني، كما يزعمون أنه ولي الله -والله أعلم بولايته-، فتقول:

“Termasuk syirik jenis ini yaitu yang terjadi pada sebagian umat Islam sekarang ini. Engkau dapati seorang wanita yang belum dikarunia anak mendatangi makam wali fulan-sebagaimana anggapan orang-orang bahwa ia adalah wali Allah, dan Allah lebih tahu tentang kewaliannya-. Lalu wanita itu berkata:

يا سيدي فلان! ارزقني ولدا.

“Wahai Tuanku, Fulan! Berilah aku anak!” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)

 

  1. Menyandarkan keselamatan proses kelahiran anak kepada dokter, bidan, dan arahan mereka.

Seperti ucapan sebagian orang:

“Anak ini lahir dengan selamat, karena kemahiran dokter fulan.”

“Bidan itu yang mengurus kelahiran anak saya. Ia tokcer sekali! Anak saya lahir tanpa ada kendala sama sekali!”

Lahir dengan selamat adalah nikmat. Dan itu pun merupakan nikmat dari-Nya. Allah memberikan nikmat itu lewat perantara seorang bidan, dokter dan semacamnya.

Karena itu, tatkala seseorang menyandarkan nikmat kepada perantara munculnya nikmat, dan lupa akan Sang pemberi nikmat, yaitu Allah, berarti ia telah menyekutukan-Nya dengan selain-Nya.

Ia sudah terjatuh dalam syirik, walaupun bukan syirik besar.

 

  1. Mencintai anak yang baru lahir melebihi kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan anak itu membuat lalai dari menaati Allah dan Rasul-Nya.

Itu adalah syirik dari sisi kecintaan.

 

  1. Memberi nama anak yang baru lahir dengan nama yang diperhambakan kepada selain Allah.

Seperti memberinya nama: ‘Abdurrasul (hamba rasul), ‘Abdul Ka’bah (hamba Ka’bah) dan semacamnya.

Ibnu Hazm berkata:

وَاتَّفَقُوا على تَحْرِيم كل اسْم معبد لغير الله عز وَجل كَعبد الْعُزَّى وَعبد هُبل وَعبد عَمْرو وَعبد الْكَعْبَة وَمَا اشبه ذَلِك

“Para ulama telah sepakat  mengharamkan setiap nama yang diperhambakan kepada selain Allah, seperti: ‘Abdul ‘Uzza (hambanya ‘Uzza), ‘Abdu Hubal (hambanya Hubal), ‘Abdu ‘Amru (hambanya ‘Amru),  ‘Abdul Ka’bah (hambanya Ka‘bah) dan yang semacamnya.” (Maratib Al-Ijma’)

Kehadiran anak adalah nikmat dari-Nya. Karena itu, jangan sampai nikmat tersebut kita balas dengan melakukan perbuatan yang mengundang murka-Nya!

Allah berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu: ‘Sungguh, jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu, dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)

 

Siberut, 29 Rabi’ul Awwal 1442

Abu Yahya Adiya