Apa keutamaan memiliki sifat sayang?
Nabi ﷺ bersabda:
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
“Para penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang ada di muka bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh Yang ada di atas langit.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Siapa yang dimaksud dengan para penyayang di sini?
Imam Al-‘Azhim Abadi berkata:
( الرَّاحِمُونَ ): أَيْ لِمَنْ فِي الْأَرْض مِنْ آدَمِيّ وَحَيَوَان لَمْ يُؤْمَر بِقَتْلِهِ بِالشَّفَقَةِ عَلَيْهِمْ وَالْإِحْسَان إِلَيْهِمْ
“Para penyayang yakni kepada makhluk hidup yang ada di bumi, baik itu manusia maupun hewan yang tidak diperintahkan untuk dibunuh, dengan mengasihi mereka dan berbuat baik kepada mereka.” (Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud)
Ada beberapa faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:
1. Allah memiliki sifat rahmat yakni kasih sayang. Dan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya melebih kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.
Suatu hari, ada beberapa tawanan perang menghadap Nabi ﷺ.
Di antara tawanan perang tersebut ada seorang wanita. Wanita itu kehilangan anaknya. Ia mencari dan terus mencari anaknya.
Ketika keresahannya makin memuncak, ia menemukan anaknya. Ia berhasil menemukan anaknya!
Wanita itu pun langsung mendekap anaknya lalu menyusuinya.
Melihat pemandangan yang mengharukan seperti itu, Nabi ﷺ pun bertanya kepada para sahabatnya:
أَتُرَوْنَ هَذِهِ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ
“Menurut kalian, apakah perempuan itu tega melemparkan bayinya ke dalam api?”
Para sahabat menjawab:
لاَ، وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لاَ تَطْرَحَهُ
“Tentu saja tidak, padahal ia masih sanggup melindunginya dari api tersebut.”
Setelah mendengar jawaban para sahabatnya, beliau ﷺ pun bersabda:
لله أرحم بعباده من هذه بولدها
“Sungguh, Allah sangat menyayangi hamba-hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu ini kepada anaknya!” (HR. Bukhari dan Muslim)
Syekhul Islam berkata:
وَأَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ الْمُتَّبِعُونَ لِإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَمُحَمَّدٍ صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ أجْمَعِينَ يُثْبِتُونَ مَا أَثْبَتُوهُ مِنْ تَكْلِيمِ اللَّهِ وَمَحَبَّتِهِ وَرَحْمَتِهِ وَسَائِرَ مَا لَهُ مِنْ الْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى وَالْمَثَلِ الْأَعْلَى. وَيُنَزِّهُونَهُ عَنْ مُشَابَهَةِ الْأَجْسَادِ الَّتِي لَا حَيَاةَ فِيهَا
“Ahlussunnah wal Jama’ah yang mengikuti Ibrahim, Musa, dan Muhammad-semoga salawat dan salam tercurah kepada mereka semua-menetapkan apa yang mereka tetapkan berupa sifat berbicara bagi Allah, sifat cinta-Nya, rahmat-Nya dan semua nama baik dan sifat luhur yang Dia miliki. Dan mereka menyucikan-Nya dari keserupaan dengan jasad yang tidak bernyawa.” (Majmu’ Al-Fatawa)
2. Allah memiliki sifat tinggi. Dia tinggi di atas langit, di atas Arsy-Nya. Namun, Dia mengetahui segala gerak-gerik hamba-Nya.
‘Abdullah bin Mas’ud berkata:
وَاللَّهُ فَوْقَ الْعَرْشِ لَا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ من أَعمالكُم
“Allah di atas Arsy, tetapi tidak ada sedikit pun amalan kalian yang samar bagi-Nya.” (Al-‘Uluww)
3. Keutamaan memiliki sifat sayang. Karena, Allah akan menyayangi orang yang memiliki sifat itu.
Siberut, 24 Rajab 1444
Abu Yahya Adiya






