Bagaimana Ahlussunnah Memahami Islam?

Bagaimana Ahlussunnah Memahami Islam?

“Kenapa harus saling menyesatkan? Bukankah kita sama-sama berpegang pada Al-Quran dan As-Sunnah?”

Mungkin itulah pertanyaan yang muncul dari orang awam tatkala menyaksikan perselisihan yang terjadi pada umat Islam. Baginya, orang yang sudah berpegang pada Al-Quran dan As-Sunnah tidak mungkin sesat dan menyimpang.

Siapa yang berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah memang akan selamat. Ya, akan selamat dari kesesatan dan selamat dari perpecahan. Namun, yang menjadi pertanyaan:

Dengan pemahaman siapakah kita memahami Al-Quran dan As-Sunnah?

Kalau untuk memahami dan menjalankan Al-Quran dan As-Sunnah dikembalikan kepada pemahaman kita, maka apakah pemahaman kita sama?

Jangankan umat ini yang jumlahnya milyaran orang, pemahaman dua orang muslim yang satu guru dan satu angkatan saja belum tentu sama.

Makanya pemahaman siapakah yang bisa dijadikan pegangan dalam memahami agama ini?

Kalau untuk memahami Al-Quran dan As-Sunnah dibebaskan kepada keinginan dan selera masing-masing orang, tentu rusaklah agama ini.

Allah berfirman:

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ

“Seandainya kebenaran itu menuruti keinginan mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya.” (QS. Al-Mu’minuun: 71)

Lantas, bagaimana caranya agar kita benar dalam memahami agama-Nya?

Bagaimana caranya supaya kita tidak salah memahami Al-Quran dan As-Sunnah?

 

Kaidah Memahami Agama

  1. Ayat Al-Quran dipahami berdasarkan ayat lain dalam Al-Quran.

Seperti apa contohnya?

Allah berfirman:

وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ

“Demi langit dan yang datang pada malam hari, tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?”

Apa maksud yang datang pada malam hari itu?

Allah terangkan pada ayat setelahnya yaitu:

النَّجْمُ الثَّاقِبُ

“(yaitu) bintang yang cahayanya menembus.” (QS. Ath-Thariq: 1-3)

 

  1. Al-Quran dipahami berdasarkan As-Sunnah, yaitu perkataan, perbuatan dan persetujuan Nabi ﷺ.

Mengapa harus dengan As-Sunnah?

Sebab, kepada siapakah Al-Quran diturunkan?

Bukankah kepada Nabi ﷺ?

Bukankah Nabi ﷺ lebih mengetahui makna ayat itu dibandingkan selainnya?

Ya, tentu saja Nabi ﷺ lebih mengetahui maksud wahyu yang diturunkan dibandingkan orang yang tidak menerima wahyu.

Apa contoh memahami ayat Al-Quran berdasarkan As-Sunnah?

Allah Ta’ala:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالا مِنَ اللَّهِ

“Adapun laki-laki maupun perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan atas perbuatan yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah.” (QS. Al-Maidah: 38)

Apakah semua pencuri harus dipotong tangannya?

Dan untuk memberlakukan hukuman itu, apakah ada batas minimal harga tertentu dari barang yang dicuri itu?

Kalau menengok Al-Quran, kita tidak mendapati keterangan demikian. Namun, kalau kita menengok As-Sunnah, ternyata ada keterangan tentang demikian.

Nabi ﷺ bersabda:

لَا تُقْطَعُ يَدُ السَّارِقِ إِلَّا فِي رُبْعِ دِينَارٍ فَصَاعِدًا

“Tidak dipotong tangan pencuri kecuali kalau sampai seperempat dinar atau lebih.” (HR. Bukhari dan Muslim)

1 dinar diperkirakan 4.55 gram emas. Berarti, seperempat dinar adalah sekitar 1,13 gram emas.

Kalau begitu, seorang pencuri baru boleh dipotong tangannya kalau barang curiannya sudah seharga 1,13 gram emas.

Kita bisa memahami demikian bukan dengan ayat Al-Quran, tapi dengan As-Sunnah.

 

  1. Al-Quran dipahami dengan perkataan para sahabat Nabi ﷺ.

Mengapa harus perkataan para sahabat Nabi ﷺ?

Sebab, siapakah orang yang menyaksikan turunnya Al-Quran?

Siapakah yang tahu tentang sebab turunnya suatu ayat dan kepada siapa ayat itu ditujukan?

Allah berfirman:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan siapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia dalam kesesatan yang telah ia lakukan dan akan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)

Siapakah rasul yang ada ketika ayat ini turun? Bukankah Nabi Muhammad ﷺ?

Dan siapakah orang-orang mukmin yang ada ketika ayat ini turun? Bukankah para sahabat Nabi Muhammad ﷺ?

Ya, itulah para sahabat Nabi ﷺ. Dan merekalah sebaik-baik umat ini.

Nabi ﷺ bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kalau itu terkait dengan Al-Quran, maka begitu pula dengan As-Sunnah.

Para sahabatlah yang lebih mengerti tentang maksud perkataan Nabi ﷺ, perbuatannya, dan persetujuannya dibandingkan orang-orang setelah mereka. Karena itu, kita juga harus merujuk kepada mereka dalam memahami As-Sunnah.

Maka, kalau kita tidak ingin tersesat dalam memahami agama, jangan cuma mengandalkan: “saya pikir…saya kira… saya rasa”!

 

Siberut, 28 Rabi’ul Tsani 1442

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Mujmal Ushul Ahlissunnah wal Jama’ah_ karya DR. Nashir Al-‘Aql
  2. Manzilah As-Sunnah Fii Al-Islam karya Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.