Di Mana Kita Bisa Melihat Allah?

Di Mana Kita Bisa Melihat Allah?

Adakah kenikmatan yang lebih besar daripada surga dan isinya?

Berbagai kenikmatan di surga sudah demikian besar dan melimpah. Walaupun begitu, Allah menawarkan nikmat yang lain kepada penduduk surga:

تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟

“Apakah kalian menginginkan sesuatu yang perlu Kutambahkan?”

Penduduk surga pun menjawab:

أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ، وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟

“Bukankah Engkau telah mencerahkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?”

Nabi ﷺ bersabda:

فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ

“Kemudian Allah menyingkap tabir dari diri-Nya. Maka, tidak ada suatu kenikmatan yang diberikan kepada penduduk surga yang lebih mereka sukai daripada melihat kepada Tuhan mereka.” (HR. Muslim)

Itulah kenikmatan agung yang membuat penduduk surga ‘lupa’ akan berbagai kenikmatan yang telah mereka rasakan. Dan itu adalah kenikmatan yang wajib kita yakini.

 

Kewajiban Mengimani Bahwa Dia Akan Dilihat

Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz berkata:

رؤية الله في الآخرة ثابتة عند أهل السنة والجماعة من أنكرها كفر

“Melihat Allah di akhirat adalah sesuatu yang pasti menurut Ahlussunnah wal Jama’ah. Siapa yang mengingkari itu, maka ia kafir.

يراه المؤمنون يوم القيامة ويرونه في الجنة كما يشاء بإجماع أهل السنة

Orang-orang yang beriman akan melihat Allah di hari kiamat dan mereka akan melihat-Nya di surga, sebagaimana yang Dia kehendaki, berdasarkan kesepakatan Ahlussunnah.

كما قال عز وجل:

Sebagaimana firman-Nya:

{وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ} {إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ}

“Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhan merekalah mereka melihat.” (QS. Al-Qiyamah: 22-23)

وقال سبحانه:

Dan firman-Nya:

{لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ}

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (QS. Yunus: 26)

فسر النبي صلى الله عليه وسلم الزيادة بأنها النظر إلى وجه الله،

Nabi ﷺ menafsirkan tambahan di sini bahwa itu adalah melihat wajah Allah.

وتواترت الأحاديث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم بأن المؤمنين يرون ربهم يوم القيامة وفي الجنة

Dan telah banyak hadis dari Rasulullah ﷺ yang menyebutkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Tuhan mereka di hari kiamat dan di surga.” (Majmu’ Al-Fatawa)

Ayat, hadis, dan penjelasan Syekh tadi menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman akan melihat Allah di hari kiamat dan mereka pun akan melihat-Nya di surga.

Kalau melihat Allah di surga, mungkin itu sudah jelas. Lantas, bagaimana dengan melihat Allah di hari kiamat?

 

Melihat Allah di Mahsyar

Imam Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi berkata:

وَكَذَلِكَ يَرَوْنَهُ فِي الْمَحْشَرِ قَبْلَ دُخُولِهِمُ الْجَنَّةَ، كَمَا ثَبَتَ ذَلِكَ فِي ((الصَّحِيحَيْنِ)) عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ

“Demikian pula mereka akan melihatnya di Mahsyar sebelum mereka masuk surga. Sebagaimana itu telah tetap dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Rasulullah ﷺ.” (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah)

Hadis yang beliau singgung itu adalah hadis panjang yang menceritakan keadaan orang-orang beriman di Mahsyar. Nabi ﷺ menyebutkan:

فَيَأْتِيهِمُ اللهُ تَعَالَى فِي صُورَتِهِ الَّتِي يَعْرِفُونَ، فَيَقُولُ: أَنَا رَبُّكُمْ، فَيَقُولُونَ: أَنْتَ رَبُّنَا

“Allah pun mendatangi mereka dalam bentuk-Nya yang mereka ketahui, lalu berfirman, ‘Aku adalah Tuhan kalian’. Maka mereka pun berkata, ‘Engkau adalah Tuhan kami.” (HR. Muslim)

Namun, seperti apa mereka melihat-Nya?

Syekh Nashir Al-‘Aql berkata:

أما التفصيل في الرؤية في المحشر فلم يرد كما ورد من التفصيل في الرؤية في الجنة، ولذلك نقف على النصوص.

“Adapun rincian tentang melihat Allah di Mahsyar, maka tidak ada, sebagaimana halnya rincian tentang melihat Allah di surga ada. Karena itu, kita mencukupkan diri pada nas-nas.” (Mujmal Ushul Ahlissunnah wa Al-Jama’ah)

Kalau orang yang beriman bisa melihat-Nya di Mahsyar dan di surga, lantas bagaimana dengan di dunia?

 

Melihat-Nya di Dunia

Nabi ﷺ bersabda:

تَعَلَّمُوا أَنَّهُ لَنْ يَرَى أَحَدٌ مِنْكُمْ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى يَمُوتَ

“Ketahuilah, tidak seorang pun di antara kalian yang bisa melihat Tuhannya sampai ia meninggal.” (HR. Muslim)

Syekh Nashir Al-‘Aql berkata:

ومما يجب معرفته أن الرؤية لا تكون إلا يوم القيامة، سواء في المحشر أو في الجنة، وعلى هذا لا يجوز ولا يعقل ولا يمكن أن أحداً يرى ربه بعينه في الدنيا، ولذلك حينما طلب موسى من الله عز وجل الرؤية، قال له الله عز وجل:

“Dan yang perlu diketahui yaitu bahwa melihat Allah tak akan terjadi kecuali di hari kiamat, baik di Mahsyar maupun di surga. Karena itu, tidak bisa, tidak masuk akal, dan tidak mungkin seseorang melihat Tuhannya dengan matanya di dunia. Makanya ketika Musa meminta kepada Allah agar bisa melihat-Nya, Allah pun berfirman kepadanya:

{لَنْ تَرَانِي} [الأعراف:143]

“Engkau tidak akan melihat-Ku.” (Mujmal Ushul Ahlissunnah wa Al-Jama’ah)

Maka, jelaslah bahwa tidak mungkin di dunia ini seseorang melihat Allah dengan mata kepalanya dan dalam keadaan terjaga. Adapun dalam mimpi?

Imam An-Nawawi menukil ucapan Al-Qadhi ‘Iyadh:

وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى جَوَازِ رُؤْيَةِ اللَّهِ تَعَالَى فِي الْمَنَامِ وَصِحَّتِهَا

“Para ulama sepakat akan mungkinnya melihat Allah dalam mimpi dan benarnya itu.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)

Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz berkata:

ذكر شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله وآخرون أنه يمكن أنه يرى الإنسان ربه في المنام، ولكن يكون ما رآه ليس هو الحقيقة؛ لأن الله لا يشبهه شيء سبحانه وتعالى

“Syekhul Islam Ibnu Taimiyah dan selainnya menyebutkan bahwa mungkin saja sesorang melihat Tuhannya dalam mimpi. Namun, apa yang ia lihat itu bukanlah sebenarnya. Sebab, tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.” (Majmu’ Fatawa)

 

Siberut, 18 Rajab 1442

Abu Yahya Adiya