Para Penolak Rahmat Allah

Para Penolak Rahmat Allah

“Sungguh, Allah sangat menyayangi hamba-hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu ini kepada anaknya!” (HR. Bukhari dan Muslim)

Itulah yang dikatakan oleh Nabi ﷺ kepada para sahabatnya tatkala mereka melihat seorang wanita berhasil menemukan anaknya.

Kasih sayang ibu kepada anaknya sangatlah besar. Ya, sangatlah besar, tapi kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya jauh lebih besar daripada kasih sayang ibu kepada anaknya!

Bagaimana tidak besar kasih sayang-Nya, sedangkan Dia sendiri telah mengabarkan bahwa Dia:

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Fatihah: 3)

Dan bagaimana tidak besar kasih sayang-Nya, sedangkan Dia sendiri telah mengabarkan:

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’raaf: 156)

Hadis dan dua ayat tadi dan masih banyak lagi ayat dan hadis lainnya menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat rahmat. Dia memiliki sifat kasih dan sayang. Maka bagaimana bisa kita menolaknya dengan alasan itu merupakan sifat kelemahan?

Syekh Khalil Al-Harras berkata:

وَقَدْ أَنْكَرَتِ الْأَشَاعِرَةُ وَالْمُعْتَزِلَةُ صِفَةَ الرَّحْمَةِ بِدَعْوَى أَنَّهَا فِي الْمَخْلُوقِ ضعفٌ وخَوَرٌ وتألُّم لِلْمَرْحُومِ

“Sungguh, Asy’ariyyah dan Muktazilah telah mengingkari sifat rahmat bagi Allah dengan alasan bahwa sifat itu pada makhluk merupakan kelemahan, kelembekan, dan perasaan sakit terhadap yang disayangi.

وَهَذَا مِنْ أَقْبَحِ الْجَهْلِ، فَإِنَّ الرَّحْمَةَ إِنَّمَا تَكُونُ مِنَ الْأَقْوِيَاءِ لِلضُّعَفَاءِ، فلَا تَسْتَلْزِمُ ضَعْفًا وَلَا خَوَرًا؛ بَلْ قَدْ تَكُونُ مَعَ غَايَةِ الْعِزَّةِ وَالْقُدْرَةِ

Itu termasuk kebodohan yang sangat buruk. Karena sesungguhnya rahmat dari yang kuat kepada yang lemah tidak berkonsekuensi kelemahan dan kelembekan. Bahkan, kadang rahmat ada bersamaan dengan puncak keperkasaan dan kemampuan.

فَالْإِنْسَانُ الْقَوِيُّ يَرْحَمُ وَلَدَهُ الصَّغِيرَ وَأَبَوَيْهِ الْكَبِيرَيْنِ ومَن هُوَ أَضْعَفُ مِنْهُ، وَأَيْنَ الضَّعْفُ وَالْخَوَرُ ـ وَهُمَا مِنْ أَذَمِّ الصِّفَاتِ ـ مِنَ الرَّحْمَةِ الَّتِي وَصَفَ اللَّهُ نَفْسَهُ بِهَا، وَأَثْنَى عَلَى أَوْلِيَائِهِ الْمُتَصِّفِينَ بِهَا، وَأَمَرَهُمْ أَنْ يتواصَوْا بِهَا؟!

Orang yang kuat menyayangi anaknya yang kecil, kedua orang tuanya yang sudah tua, dan orang yang lebih lemah darinya. Di mana kelemahan dan kelembekan-sedangkan keduanya termasuk sifat yang sangat tercela-dibandingkan rahmat yang dengannya Allah menyifatkan diri-Nya dan Dia puji wali-wali-Nya yang memiliki sifat itu dan Dia perintahkan mereka untuk saling berwasiat untuk itu?!” (Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah)

Ayat-ayat yang menyebutkan tentang rahmat-Nya amatlah banyak. Dan hadis-hadis Nabi yang menyebutkan tentang kasih sayang-Nya amatlah banyak. Maka, kewajiban kita menerima itu dan tidak mengingkarinya.

Syekhul Islam berkata:

وَأَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ الْمُتَّبِعُونَ لِإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَمُحَمَّدٍ صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ أجْمَعِينَ يُثْبِتُونَ مَا أَثْبَتُوهُ مِنْ تَكْلِيمِ اللَّهِ وَمَحَبَّتِهِ وَرَحْمَتِهِ وَسَائِرَ مَا لَهُ مِنْ الْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى وَالْمَثَلِ الْأَعْلَى. وَيُنَزِّهُونَهُ عَنْ مُشَابَهَةِ الْأَجْسَادِ الَّتِي لَا حَيَاةَ فِيهَا

“Ahlussunnah wal Jama’ah yang mengikuti Ibrahim, Musa, dan Muhammad-semoga salawat dan salam tercurah kepada mereka semua-menetapkan apa yang mereka tetapkan berupa sifat berbicara bagi Allah, sifat cinta-Nya, rahmat-Nya dan semua nama baik dan sifat luhur yang Dia miliki. Dan mereka menyucikan-Nya dari keserupaan dengan jasad yang tidak bernyawa.” (Majmu’ Al-Fatawa)

Maka, jangan sampai kita menolak rahmat Allah sehingga akhirnya kita tidak mendapatkan rahmat-Nya!

 

Siberut, 3 Rabi’ul Tsani 1445
Abu Yahya Adiya