Kesabaran ‘Aisyah Menghadapi Fitnah

Kesabaran ‘Aisyah Menghadapi Fitnah

Bagaimana perasaan seorang wanita ketika dituduh selingkuh padahal ia tidak selingkuh?

Bayangkan, bagaimana perasaannya tatkala tahu bahwa banyak orang termakan oleh fitnah itu?

Bayangkan pula, bagaimana perasaannya ketika tahu bahwa orang-orang terdekat dengannya termakan juga oleh fitnah itu?

Dalam peristiwa ifk yang terkenal itu, istri Rasulullah ﷺ, ‘Aisyah dituduh selingkuh dengan Shafwan bin Mu’aththal, gara-gara ia tertinggal dari rombongan Rasulullah ﷺ lalu ia menyusul rombongan tersebut bersama Shafwan bin Mu’aththal yang kebetulan juga tertinggal dari rombongan tersebut.

Ketika mengetahui dirinya jadi bahan pembicaraan dan fitnah di tengah masyarakat kota Madinah, ‘Aisyah menangis dan terus menangis.

Fitnah itu terus bertahan sampai sebulan lamanya dalam keadaan tidak juga turun wahyu kepada Rasulullah ﷺ yang membenarkan atau mendustakan berita yang tersebar ketika itu.

Lalu Rasulullah ﷺ mengunjungi ‘Aisyah yang ketika itu dalam keadaan benar-benar terpukul karena fitnah itu. Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:

يَا عَائِشَةُ، فَإِنَّهُ قَدْ بَلَغَنِي عَنْكِ كَذَا وَكَذَا، فَإِنْ كُنْتِ بَرِيئَةً، فَسَيُبَرِّئُكِ اللهُ وَإِنْ كُنْتِ أَلْمَمْتِ بِذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرِي اللهَ وَتُوبِي إِلَيْهِ، فَإِنَّ الْعَبْدَ إِذَا اعْتَرَفَ بِذَنْبٍ، ثُمَّ تَابَ تَابَ اللهُ عَلَيْه

“Wahai ‘Aisyah, telah sampai kepadaku berita tentang dirimu bahwa engkau telah melakukan perbuatan yang tidak senonoh. Jika memang engkau tidak melakukannya, maka Allah pasti akan membebaskanmu dari tuduhan tersebut. Tetapi sebaliknya, jika engkau memang telah melakukan itu, maka mohon ampun dan bertaubatlah kepada Allah. Karena, jika seorang hamba mengakui dosanya lalu ia bertaubat, maka Allah akan menerima taubatnya.”

Ucapan Rasulullah ﷺ itu seakan-akan petir yang menyambarnya!

Kesedihan yang selama ini membelit dadanya seakan-akan mencapai puncaknya. Ia bercerita:

فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللهِ ﷺ مَقَالَتَهُ قَلَصَ دَمْعِي حَتَّى مَا أُحِسُّ مِنْهُ قَطْرَة

“Setelah Rasulullah ﷺ mengucapkan kata-kata itu, air mataku langsung terhenti hingga aku merasakan tidak ada lagi yang menetes.”

Lihatlah, kesedihannya sampai tingkatan ia tidak bisa mengeluarkan air matanya!

‘Aisyah berkata kepada Abu Bakar, ayahnya mengharapkan pembelaannya:

أَجِبْ عَنِّي رَسُولَ اللهِ ﷺ فِيمَا قَال

“Wahai ayah, jawablah untukku pertanyaan Rasulullah ﷺ itu!”

Lalu apa reaksi Abu Bakar?

Abu Bakar berkata:

وَاللهِ مَا أَدْرِي مَا أَقُولُ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ

“Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Rasulullah ﷺ?”

Kemudian ‘Aisyah berkata kepada ibunya mengharapkan pembelaannya:

أَجِيبِي عَنِّي رَسُولَ اللهِ ﷺ

“Wahai ibu, jawablah untukku pertanyaan Rasulullah ﷺ itu!”

Lalu apa reaksi ibunya?

Ibunya berkata:

وَاللهِ مَا أَدْرِي مَا أَقُولُ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

“Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Rasulullah?”

Keduanya tidak bisa memberikan pembelaan seperti yang ia harapkan. Maka ‘Aisyah pun berkata dengan menahan kesedihan yang bergemuruh di dadanya:

وَاللهِ لَقَدْ عَرَفْتُ أَنَّكُمْ قَدْ سَمِعْتُمْ بِهَذَا حَتَّى اسْتَقَرَّ فِي نُفُوسِكُمْ وَصَدَّقْتُمْ بِهِ، فَإِنْ قُلْتُ لَكُمْ إِنِّي بَرِيئَةٌ وَاللهُ يَعْلَمُ أَنِّي بَرِيئَةٌ لَا تُصَدِّقُونِي بِذَلِكَ، وَلَئِنِ اعْتَرَفْتُ لَكُمْ بِأَمْرٍ وَاللهُ يَعْلَمُ أَنِّي بَرِيئَةٌ لَتُصَدِّقُونَنِي وَإِنِّي، وَاللهِ مَا أَجِدُ لِي وَلَكُمْ مَثَلًا إِلَّا كَمَا قَالَ أَبُو يُوسُفَ

“Demi Allah, aku tahu bahwasanya kalian telah mendengar fitnah tentang diriku hingga kalian terpengaruh dan membenarkannya. Jika aku mengatakan kepada kalian bahwa aku tidak berbuat selingkuh-dan Allah Maha Tahu bahwa aku bersih dari tuduhan itu-, maka kalian pasti tidak akan memercayaiku. Sebaliknya, jika kukatakan kepada kalian bahwa aku telah berbuat selingkuh-padahal Allah Maha Tahu bahwa aku bersih dari tuduhan itu-, maka kalian pasti akan memercayai ucapanku. Sungguh Demi Allah, aku tidak mendapatkan perumpamaan bagiku dan bagi kalian kecuali sebagaimana ucapan ayah Nabi Yusuf:

{فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ} [يوسف: 18]

“Maka hanya bersabar yang terbaik bagiku. Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan.”

Setelah mengucapkan itu ‘Aisyah membalikan badannya dan berbaring di atas tempat tidurnya.

Tidak berapa lama, dalam keadaan Rasulullah ﷺ belum meninggalkan rumah itu, Allah menurunkan wahyu kepada beliau. Beliau ﷺ menerima wahyu dengan begitu berat hingga keringat beliau jatuh bertetesan, padahal saat itu suhu udara sangat dingin.

Selesai menerima wahyu itu, Rasulullah ﷺ langsung tertawa. Kalimat pertama yang beliau ucapkan adalah:

أَبْشِرِي يَا عَائِشَةُ أَمَّا اللهُ فَقَدْ بَرَّأَكِ

“Bergembiralah wahai ‘Aisyah, karena Allah telah membebaskanmu dari tuduhan keji tersebut!”

‘Aisyah berkata:

فَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ:

“Allah ‘Azza wa Jalla telah menurunkan ayat:

{إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ} مِنْكُمْ

“Sesungguhnya orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golonganmu juga.”

عَشْرَ آيَاتٍ فَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ هَؤُلَاءِ الْآيَاتِ بَرَاءَتِي

Sebanyak sepuluh ayat (yaitu surat An-Nuur: 11-20). Allah menurunkan ayat-ayat itu untuk membebaskan diriku dari tuduhan keji tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim dan ini adalah redaksi Muslim)

Itulah kemuliaan ‘Aisyah, isteri Rasulullah ﷺ tercinta. Demi membersihkan dirinya dari tuduhan keji, Allah sampai menurunkan beberapa ayat secara khusus mengenai dirinya.

Ibnu ‘Abbas pernah berkata kepada ‘Aisyah:

كُنْتِ أَحَبَّ نِسَاءِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَلَمْ يَكُنْ يُحِبُّ إِلا طَيِّبًا، وَأَنْزَلَ اللَّهُ بَرَاءَتَكِ مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَوَاتٍ

“Engkau wanita yang paling dicintai Rasulullah ﷺ. Dan beliau tidak mungkin mencintai kecuali yang baik. Dan Allah telah menurunkan dari atas langit ketujuh pembebasan dirimu dari tuduhan yang keji.” (Ar-Radd ‘Alaa Al-Jahmiyyah)

Allah tidak tidur ketika hamba-Nya yang saleh difitnah dan dizalimi. Allah pasti akan menolongnya dan membelanya.

Karena itu, siapa yang bersabar dalam menghadapi fitnah dan kezaliman, maka Allah menolongnya dan memuliakannya. Seperti yang terjadi pada ‘Aisyah, kekasih rasul-Nya.

 

Siberut, 2 Jumada Ats-Tsaniyah 1443

Abu Yahya Adiya