Hidup di dunia ini singkat. Waktu yang telah berlalu, tidak akan bisa kembali kepadamu. Sedangkan waktu yang engkau nantikan, mungkin tidak sempat engkau jumpai.
Karena itu, bagaimana bisa seorang yang cerdas menghabiskan waktunya untuk perkara yang tidak pantas?
Allah menyebutkan sifat orang-orang beriman yang sesungguhnya:
وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perkara yang tidak berguna.” (QS. Al-Mu’minuun: 3)
Apa maksud perkara yang tidak berguna?
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
واللَّغْوُ كلُّ ما لا فائدة فيهِ ولا خيرَ من قولٍ أو فعلٍ
“Perkara yang tidak berguna yaitu segala sesuatu yang tidak ada faidahnya dan tidak ada kebaikannya, baik berupa perkataan maupun perbuatan.” (Majalis Syahri Ramadhan)
Artinya, mereka menjauhkan diri dari perkataan maupun perbuatan yang tidak ada faidahnya. Ya, tidak ada faidahnya, baik untuk dunia mereka, maupun akhirat mereka.
Mengapa demikian?
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
فهم معرضونَ عنه لقوةِ عزيمتِهم وشِدَّةِ حْزمِهم، لا يُمضُونَ أوقاتَهم الثمينةَ إلاَّ فيما فيه فائدةٌ، فَكَمَا حفظُوا صلاتَهم بالخشوعِ حفظُوا أوقاتَهم عن الضياع
“Mereka berpaling darinya karena kuatnya tekad mereka dan besarnya ketegasan mereka. Mereka tidak mau melewatkan waktu mereka yang berharga kecuali dalam perkara yang ada faidah di dalamnya. Sebagaimana mereka menjaga salat mereka dengan penuh ketundukan, mereka juga menjaga waktu mereka dari kesia-siaan.” (Majalis Syahri Ramadhan)
Kalau memang seseorang sudah bisa menghindar dari perkara sia-sia, maka apalagi dari perkara yang jelas-jelas dosa tentunya!
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
وإذا كانَ مِنْ وصفِهم الإِعراض عن اللَّغوِ وهو ما لا فائدةَ فيه فإعراضُهَم عما فيه مضرةٌ من باب أولى.
“Jika memang di antara sifat mereka yaitu berpaling dari perkara sia-sia yaitu perkara yang tidak berguna, maka berpalingnya mereka dari perkara yang berbahaya tentu lebih pantas lagi.” (Majalis Syahri Ramadhan)
Seorang muslim sejati sibuk membahas agamanya dan mengamalkannya sehingga tidak sempat lagi membahas orang lain.
Ia sibuk memikirkan aibnya sendiri sehingga tidak sempat lagi memikirkan aib orang lain.
Ia sibuk memerintahkan kebaikan dan melarang dari kemungkaran sehingga tidak sempat lagi ‘mengadili’ orang lain.
Mengapa demikian?
Karena, hidup di dunia ini singkat. Waktu yang telah berlalu, tidak akan bisa kembali kepadamu. Sedangkan waktu yang engkau nantikan, mungkin tidak sempat engkau jumpai.
Siberut, 19 Dzulqa’dah 1445
Abu Yahya Adiya






