Dari Mana Munculnya Zuhud Ala Sufi?

Dari Mana Munculnya Zuhud Ala Sufi?

“Kami tidak mengambil tasawuf dari katanya dan katanya, akan tetapi dari rasa lapar dan meninggalkan dunia serta memutus segala yang disukai dan dianggap bagus.” (Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah)

Itulah pernyataan tokoh Sufi, Al-Junaid.

Dan Al-Junaid juga berkata:

الصوفي كالأرض يطرح عَلَيْهَا كُل قبيح.

“Seorang Sufi itu seperti tanah yang dibuang di atasnya segala yang buruk.” (Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah)

Dan tokoh Sufi yang lain, Abu Hamzah Al-Baghdadi berkata:

أبا حمزة البغدادي يَقُول: علامة الصوفي الصادق أَن يفتقر بَعْد الغنى ويذل بَعْد العز ويخفى بَعْد الشهرة،

“Tanda Sufi yang benar yaitu miskin setelah kaya, hina setelah mulia, dan tersembunyi setelah terkenal.” (Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah)

Kaum Sufi menukil ucapan tokoh mereka, Abu Sulaiman Ad-Darani:

إذا طلب الرجل الحديث، أو سافر في طلب المعاش، أو تزوج فقد ركن إلى الدنيا

“Jika seseorang mencari hadis, atau melakukan perjalanan jauh untuk mencari penghidupan, atau menikah, maka sungguh, ia telah condong kepada dunia. ” (Al-Futuhat Al-Makkiyyah)

Zuhud merupakan perbuatan yang terpuji. Namun, apakah zuhud adalah seperti yang dikatakan oleh kaum Sufi tadi?

Zuhud yang sebenarnya menurut kaum Sufi yaitu menyiksa dan menghinakan diri sendiri dengan tidak makan, berpakaian buruk, dan meninggalkan segala yang disukai oleh jiwa manusia dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, sehingga menjadi wali Allah.

Timbul pertanyaan dari mana kaum Sufi mengambil ajaran seperti itu?

Syekh ‘Abdul Qadir bin Muhammad ‘Atha berkata:

فأُجيب: لقد أخذوه عن الديانات الهنديَّة القديمة؛ سيّما البوذيَّة، التي كانت تدعو إلى تعذيب الإنسان لنفسه، وإماتة شهواته ورغباته، وترك فضول حاجاته،والسعي في قطع العلائق الدنيوية، واختيار العزلة التامَّة، وترك التزوّج.

“Jawabannya yaitu mereka mengambilnya dari agama-agama India kuno, terutama Budha yang mengajak seorang insan untuk menyiksa diri sendiri, mematikan syahwat dan keinginannya, meninggalkan kebutuhannya yang berlebih, berusaha untuk memutus hubungan duniawi, memilih mengasingkan diri secara sempurna, dan tidak menikah.” (Atsar Al-Milal wa An-Nihal Al-Qadiimah Fii Ba’dhi Al-Firaq Al-Muntasibah Ilaa Al-Islam)

Itulah keadaan mereka. lalu syekh menjelaskan lebih lanjut:

فالبوذيُّون قيَّدوا أنفسهم بأنواع معيَّنةٍ من الأطعمة، وحرَّموا كلَّ شيءٍ غيرها، ولم يلبسوا إلا خشن الثياب، ولم يرضوا إلا مرّ العيش. وقد تركوا كلّ ملذّات الحياة وراءهم ظهريًّا، وسَعَوا في قطع العلاقات الدنيويَّة، واختاروا العزلة التامَّة

“Kaum Budha membatasi diri mereka dengan berbagai makanan tertentu dan mengharamkan segala sesuatu selain itu, hanya memakai pakaian kasar, dan hanya rela dengan pahitnya kehidupan. Mereka meninggalkan semua kesenangan hidup di belakang punggung mereka dan berusaha memutus hubungan duniawi dan memilih mengasingkan diri secara sempurna.” (Atsar Al-Milal wa An-Nihal Al-Qadiimah Fii Ba’dhi Al-Firaq Al-Muntasibah Ilaa Al-Islam)

 

Siberut, 18 Muharram 1446
Abu Yahya Adiya