- Apakah hakim boleh memutuskan perkara di pengadilan dalam keadaan marah?
Imam Ibnu Qudamah berkata:
لَا خِلَافَ بَيْنَ أَهْلِ الْعِلْمِ فِيمَا عَلِمْنَاهُ، فِي أَنَّ الْقَاضِيَ لَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَقْضِيَ وَهُوَ غَضْبَانُ. كَرِهَ ذَلِكَ شُرَيْحٌ، وَعُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، وَأَبُو حَنِيفَةَ، وَالشَّافِعِيُّ. «وَكَتَبَ أَبُو بَكْرَةَ إلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ وَهُوَ قَاضٍ بِسِجِسْتَانَ
“Tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama sepanjang pengetahuan kami bahwa hakim tidak pantas memberikan keputusan dalam keadaan marah. Syuraih, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, Abu Hanifah, dan Asy-Syafi’i membenci demikian. Abu Bakrah menulis surat kepada ‘Abdullah bin Abi Bakrah sedangkan ia adalah hakim di Sijistan yang isinya:
أَنْ لَا تَحْكُمَ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَأَنْتَ غَضْبَانُ؛ فَإِنِّي سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ:
“Jangan engkau memberikan keputusan antara dua orang dalam keadaan engkau marah. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda (HR. Bukhari dan Muslim):
لَا يَحْكُمْ أَحَدٌ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَهُوَ غَضْبَانُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
“Tidak boleh seseorang memberikan keputusan antara dua orang dalam keadaan ia marah.” (Al-Mughni)
Imam Ibnu Qudamah juga berkata:
وَفِي مَعْنَى الْغَضَبِ كُلُّ مَا شَغَلَ فِكْرَهُ مِنْ الْجُوعِ الْمُفْرِطِ، وَالْعَطَشِ الشَّدِيدِ، وَالْوَجَعِ الْمُزْعِجِ، وَمُدَافَعَةِ أَحَدِ الْأَخْبَثَيْنِ، وَشِدَّةِ النُّعَاسِ، وَالْهَمِّ، وَالْغَمِّ، وَالْحُزْنِ، وَالْفَرَحِ، فَهَذِهِ كُلُّهَا تَمْنَعُ الْحَاكِمَ؛ لِأَنَّهَا تَمْنَعُ حُضُورَ الْقَلْبِ، وَاسْتِيفَاءَ الْفِكْرِ، الَّذِي يُتَوَصَّلُ بِهِ إلَى إصَابَةِ الْحَقِّ فِي الْغَالِبِ
“Dan semakna dengan marah yaitu segala sesuatu yang menyibukkan pikirannya seperti lapar dan haus yang parah, sakit yang mengganggu, menahan buang air kecil dan besar, sangat mengantuk, gundah, sedih, dan gembira. Semua ini menghalangi hakim. Sebab, semua itu menghalangi hadirnya hati dan stabilnya pikiran yang dengan itu seringnya ia bisa sampai pada kebenaran.” (Al-Mughni)
Al-‘Allamah Shiddiq Hasan Khan berkata:
فالحق: أن حكم الحاكم حال الغضب حرام
“Yang benar yakni keputusan hakim tatkala marah adalah haram.” (Ar-Raudhah An-Naddiyyah Syarh Ad-Durar Al-Bahiyyah)
- Hakim wajib mendengar pengaduan dari dua pihak sebelum memberikan keputusan.
Nabi ﷺ bersabda kepada ‘Ali bin Abi Thalib:
فَإِذَا جَلَسَ بَيْنَ يَدَيْكَ الْخَصْمَانِ، فَلَا تَقْضِيَنَّ حَتَّى تَسْمَعَ مِنَ الْآخَرِ، كَمَا سَمِعْتَ مِنَ الْأَوَّلِ، فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يَتَبَيَّنَ لَكَ الْقَضَاءُ
“Jika dua orang yang bersengketa duduk di hadapanmu, maka janganlah engkau memberikan keputusan sampai engkau mendengar penjelasan dari pihak yang kedua sebagaimana engkau mendengar penjelasan dari pihak yang pertama. Sesungguhnya itu lebih pantas agar keputusan hukum menjadi tampak bagimu.” (HR. Abu Daud)
Imam Asy-Syaukani berkata:
فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ يَحْرُمُ عَلَى الْحَاكِمِ أَنْ يَحْكُمَ قَبْلَ سَمَاعِ حُجَّةِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ الْخَصْمَيْنِ وَاسْتِفْصَالِ مَا لَدَيْهِ وَالْإِحَاطَةِ بِجَمِيعِهِ، وَالنَّهْيُ يَدُلُّ عَلَى قُبْحِ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ، وَالْقُبْحُ يَسْتَلْزِمُ الْفَسَادَ، فَإِذَا قَضَى قَبْلَ السَّمَاعِ مِنْ أَحَدِ الْخَصْمَيْنِ كَانَ حُكْمُهُ بَاطِلًا فَلَا يَلْزَمُ قَبُولُهُ
“Dalam hadis ini terdapat dalil yang menunjukkan haramnya hakim memberikan keputusan sebelum mendengar argumen masing-masing pihak yang bersengketa dan menanyakan serta mengetahui semuanya. Larangan ini menunjukkan buruknya perkara yang dilarang, sedangkan keburukan menunjukkan rusaknya demikian. Jika hakim memberikan keputusan sebelum mendengar argumen dari salah satu pihak yang bersengketa, maka keputusannya batil sehingga tidak harus diterima.” (Nail Al-Authar)
- Hakim wajib memberikan kemudahan kepada siapa pun yang ingin mengadukan perkara yang membelitnya.
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَاحْتَجَبَ دُونَ حَاجَتِهِمْ، وَخَلَّتِهِمْ وَفَقْرِهِمْ، احْتَجَبَ اللَّهُ عَنْهُ دُونَ حَاجَتِهِ وَخَلَّتِهِ، وَفَقْرِهِ
“Siapa yang Allah berikan kekuasaan untuk menangani urusan kaum muslimin, kemudian ia menutup diri dari kebutuhan, kekurangan, dan kemiskinan mereka, maka Allah akan menutup diri dari kebutuhan, kekurangan, dan kemiskinannya.” (HR. Abu Daud)
Syekh Faishal Al-Mubarak berkata:
في الحديث: وعيدٌ شديدٌ لمن احتجب عن الرعية ولم يقض حوائجهم، سواء كان ملكًا، أو وزيرًا، أو قاضيًا، أو أميرًا، أو مديرًا، أو من دونهم ممن له ولاية على شيء من أُمور المسلمين
“Dalam hadis ini terdapat ancaman berat bagi orang yang menutup diri dari rakyat dan tidak menunaikan kebutuhan mereka, baik itu raja, menteri, hakim, amir, direktur, atau orang selain mereka yang memiliki kekuasaan atas urusan kaum muslimin.” (Tathriz Riyadh Ash-Shalihin)
- Hakim boleh meminta bantuan kepada orang lain jika dibutuhkan.
Anas bin Malik berkata:
إِنَّ قَيْسَ بْنَ سَعْدٍ كَانَ يَكُونُ بَيْنَ يَدَيِ النَّبِيِّ ﷺ بِمَنْزِلَةِ صَاحِبِ الشُّرَطِ مِنَ الأَمِيرِ
“Sesungguhnya Qais bin Sa’d di hadapan Nabi ﷺ seperti halnya seorang polisi dengan pemimpin.” (HR. Bukhari)
Imam Asy-Syaukani berkata:
وقد يجب عليه ذلك إذا كان لا يمكنه إنفاذ الحق ودفع الباطل إلا بهم.
“Dan kadang itu wajib atasnya jika ia tidak mungkin memutuskan kebenaran dan menolak kebatilan kecuali lewat mereka.” (Ad-Darari Al-Mudhiyyah Syarh Ad-Durar Al-Bahiyyah)
Siberut, 14 Rabi’ul Awwal 1446
Abu Yahya Adiya






