“Jika seseorang mencari hadis, atau melakukan perjalanan jauh untuk mencari penghidupan, atau menikah, maka sungguh, ia telah condong kepada dunia.” (Al-Futuhat Al-Makkiyyah)
Itulah perkataan tokoh Sufi, Abu Sulaiman Ad-Darani.
Menurut sebagian kaum Sufi, mencari ilmu syariat, terutama ilmu hadis, itu menyibukkan mereka dari mengingat Allah.
Abu Nashr Al-Fasyani berkata:
كنت إذا أتيت هبة الله بالرباط، أخرجني إلى الصحراء، وقال:
“Jika aku mendatangi Hibatullah di ribat, maka ia mengeluarkanku ke padang pasir dan berkata:
اقرأ هنا، فالصوفية يتبرمون بمن يشتغل بالعلم والحديث، يقولون: يشوشون علينا أوقاتنا
“Baca di sini saja! Kaum Sufi merasa bosan dengan orang-orang yang sibuk dengan ilmu dan hadis, dengan berkata, ‘Mereka mengganggu waktu kita!” (Siyar A’lam An-Nubala)
Mungkin itulah yang menyebabkan mereka ‘alergi’ dengan ilmu syariat, terutama ilmu hadis. Selain itu, penyebab lainnya yaitu….
Imam Ibnul Jauzi berkata:
قد كان جماعة منهم تشاغلوا بكتابة العلم ثم لبس عليهم إبليس وقال مَا المقصود إلا العمل ودفنوا كتبهم
“Beberapa orang dari mereka sibuk dengan menulis ilmu lalu Iblis menipu mereka dengan berkata, ‘Yang diinginkan hanyalah beramal’. Mereka pun mengubur kitab-kitab mereka!” (Talbis Iblis)
Ya, mengubur kitab-kitab mereka! Padahal, di situ ada ilmu yang bisa menerangi hati mereka.
Itu perbuatan sebagian mereka. Adapun sebagian yang lain….
Imam Ibnul Jauzi berkata:
فقد روى أن أَحْمَد بْن أبي الحواري رمى كتبه فِي البحر وقال
“Diriwayatkan bahwa Ahmad bin Abi Al-Hawari melempar kitab-kitabnya ke laut dan berkata:
نعم الدليل كنت والاشتغال بالدليل بعد الوصول محال
“Sebaik-baik dalil adalah engkau, sementara menyibukkan diri dengan dalil setelah sampai adalah perkara yang mustahil.”
ولقد طلب أحمد بْن أبي الحواري الحديث ثلاثين سنة فلما بلغ مِنْهُ الغاية حمل كتبه إِلَى البحر فغرقها
Sebenarnya Ahmad bin Abi Al-Hawari telah mencari hadis selama 30 tahun. Tatkala ia mencapai tujuannya, ia bawa kitab-kitabnya ke laut lalu ia tenggelamkan semuanya!” (Talbis Iblis)
Mungkin itulah yang menyebabkan mereka ‘alergi’ dengan ilmu syariat, terutama ilmu hadis. Selain itu, penyebab lainnya yaitu….
Seorang tokoh Sufi, Ibnu ‘Arabi berkata:
إن الرجل لا يكمل عندنا في مقام العلم حتى يكون علمه عن الله عز وجل بلا واسطة من نقل أو شيخ
“Sesungguhnya seseorang tidak sempuna dalam kedudukan ilmu menurut kami sampai ilmunya langsung dari Allah tanpa perantara orang yang menukilkan atau guru.” (Ath-Thabaqat Al-Kubra)
Menurutnya, Sufi sejati adalah orang yang mendapatkan ilmu langsung dari Tuhannya, tanpa perantara siapa pun di hadapannya.
Kalau kaum Sufi mendapatkan ilmu langsung dari Allah, maka untuk apalagi mereka mencarinya dari buku dan manusia?!
Syekh Muhammad Al-Maghrawi berkata:
ما حاجتهم إلى العلم، وهم يعتمدون على الكشف والعلم المباشر، الذي يحصل بطريق الفتح، كما في كتاب ‘الإبريز’ للمسمى عبد العزيز الدباغ. وكما ذكر الغزالي في الإحياء وغيرهما
“Apa kebutuhan mereka pada ilmu? Padahal, mereka sendiri bersandar pada kasyaf (penyingkapan terhadap perkara gaib) dan ilmu ‘langsung’ yang diraih dengan cara ‘pembukaan’, sebagaimana dalam kitab Al-Ibriiz karya ‘Abdul ‘Aziz Ad-Dabbagh, dan sebagaimana disebutkan oleh Al-Ghazali dalam Al-Ihya dan selain keduanya.” (Mausu’ah Mawaqif As-Salaf fii Al-‘Aqidah wa Al-Manhaj wa At-Tarbiyah)
Mungkin itulah yang menyebabkan mereka ‘alergi’ dengan ilmu syariat, terutama ilmu hadis. Selain itu, penyebab lainnya yaitu….
Muhammad Al-‘Abdah dan Thariq ‘Abdul Halim berkata:
من أصعب الأمور على المتصوفة وخاصة المتأخرين منهم الاهتمام بالعلوم الشرعية وخاصة الحديث والفقه
“Di antara perkara yang sangat berat bagi kaum Sufi, terutama orang-orang belakangan di antara mereka, yaitu memberikan perhatian terhadap ilmu syariat, terutama ilmu hadis dan fikih.” (Ash-Shufiyyah Nasyatuha wa Tathawwuruha)
Mengapa demikian?
Muhammad Al-‘Abdah dan Thariq ‘Abdul Halim berkata:
لأن هذه العلوم تكشف ما هم عليه من جهل وإذا دخلت في قلوب وعقول التلاميذ فلا يبقى حولهم أحد
“Sebab, ilmu-ilmu ini akan menyingkap kebodohan yang ada pada mereka. Jika ilmu ini masuk ke dalam hati dan akal murid-murid mereka, maka tidak seorang pun yang tersisa di sekitar mereka.” (Ash-Shufiyyah Nasyatuha wa Tathawwuruha)
Ilmu syariat, terutama ilmu hadis, mendorong seseorang untuk berpikir kritis. Tentu saja itu akan bertabrakan dengan prinsip mereka:
كن بين يدي الشيخ كالميت بين يدي المغسل.
“Jadilah engkau di hadapan syekh (guru), seperti mayit di hadapan orang yang memandikannya!”
لا تعترض فتنطرد.
“Jangan protes, niscaya engkau terusir!”
من قال لشيخه لِمَ؟ لا يفلح.
“Siapa yang berkata kepada syekhnya, ‘Kenapa?’, maka ia tidak akan beruntung!” (Ash-Shufiyyah Nasyatuha wa Tathawwuruha)
Siberut, 9 Dzulqa’dah 1446
Abu Yahya Adiya






