Setelah menyebutkan sifat orang-orang kafir yang menampakkan kekafiran mereka, Allah menyebutkan sifat orang-orang kafir yang menyembunyikan kekafiran mereka.
- وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ
Di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir“, padahal mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.
Siapakah orang yang mengatakan demikian?
Merekalah orang-orang munafik. Seperti apakah sifat mereka?
Allah menyebutkan dalam ayat ini bahwa mereka mengaku beriman dengan lisan mereka, tapi menyembunyikan kekafiran dalam hati mereka.
Namun, sepintar-pintarnya tupai meloncat, pasti akan jatuh juga.
Sepintar apa pun mereka menyembunyikan kebusukan mereka, tetap saja akan terbongkar juga.
Allah membongkar isi hati mereka dan menyingkap topeng mereka dengan firman-Nya:
وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ
“Mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.”
Apa yang mendorong mereka melakukan demikian?
- يخادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَما يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنْفُسَهُمْ وَما يَشْعُرُون
Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri tanpa mereka sadari.
Kemunafikan belum ada ketika Nabi ﷺ masih di Mekah dan belum berhijrah.
Namun, setelah Nabi ﷺ berhijrah ke Madinah, dan kaum muslimin memiliki kekuatan, bahkan bisa mengalahkan kaum musyirikin dalam perang Badar, tampaklah kemuliaan kaum muslimin. Ketika itu, hinalah orang-orang yang masih kafir di kota Madinah. Karena itulah sebagian dari mereka masuk Islam demi menjaga nyawa dan harta mereka. Mereka menyatakan masuk Islam dengan lisan mereka, tapi menyembunyikan kekafiran dalam hati mereka.
Mereka berada di tengah-tengah kaum muslimin, tapi sebenarnya mereka itu kafir dan bukan termasuk kaum muslimin. Mereka ingin menipu Allah dan orang-orang yang beriman. Padahal…
Apa keuntungan yang bisa mereka raih dengan menipu Allah Yang Maha Kaya dan Maha Perkasa?
Dan apa keuntungan yang bisa mereka dapat dengan menipu hamba-hamba Allah Yang Maha Kaya dan Maha Perkasa?
Tipuan mereka tidak bermanfaat sama sekali, justru mencelakakan mereka tanpa mereka sadari.
Allah menghinakan mereka di dunia dengan menampakkan wajah mereka yang sebenarnya. Sedangkan di akhirat, Allah menghinakan mereka dengan memberikan kepada mereka hukuman yang seberat-beratnya di neraka.
Allah berfirman:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأسْفَلِ مِنَ النَّارِ
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada neraka yang paling bawah.” (QS. An-Nisa’: 142)
- فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit mereka itu; dan mereka mendapat siksa yang pedih, karena mereka berdusta.
Dalam hati mereka ada penyakit syak, keraguan dan kemunafikan, sehingga sakitlah hati mereka.
Kalau badan seseorang mengalami sakit, itu masih lebih ringan bahayanya dibandingkan hatinya yang sakit. Sebab, musibah yang menimpa badan dan harta seseorang hanya berakibat sengsara di dunia. Sedangkan musibah yang menimpa hati dan agama seseorang, itu akan berakibat sengsara di dunia dan akhirat.
Makanya di antara doa Nabi ﷺ:
ولا تجعل مصيبتنا في ديننا
“Jangan Engkau jadikan musibah yang menimpa kami terjadi pada agama kami.” (HR. Tirmiżī)
Faidah yang bisa kita petik dari ayat-ayat tadi:
- Iman itu tidak cukup dengan lisan, melainkan juga dengan hati dan perbuatan.
- Tercelanya dusta dan itu adalah sifat khas orang munafik.
- Satu maksiat akan mengantarkan pada maksiat lainnya, kalau tidak segera bertaubat. Balasan atas suatu dosa adalah dosa lain setelahnya.
Sebagaimana yang terjadi pada orang-orang munafik. Tatkala mereka melakukan kemunafikan dan tidak bertobat, maka Allah pun menambah penyakit kemunafikan pada hati mereka.
Allah berfirman:
فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ
“Maka ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah pun memalingkan hati mereka.” (QS. Aṣ-Ṣaff: 5)
Siapa pun yang melakukan maksiat lalu tidak segera bertobat, maka maksiat yang ia lakukan akan menyeretnya menuju maksiat lain yang lebih besar dan lebih parah.
Siberut, 12 Rabī’u Aṡ-Ṡānī 1442
Abu Yahya Adiya






