Mengkhususkan Ibadah Tanpa Dalil

Mengkhususkan Ibadah Tanpa Dalil

Adakah orang yang mengingkari keutamaan zikir? Adakah orang yang mengingkari keutamaan mengucapkan salawat?

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Aḥzāb: 41)

Nabi ﷺ bersabda:

أَوْلى النَّاسِ بِي يوْمَ الْقِيامةِ أَكْثَرُهُم عَليَّ صَلاَةً

“Orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bersalawat kepadaku.” (HR. Tirmiżī)

Kita diperintahkan untuk banyak berzikir kepada Allah dan banyak bersalawat kepada Nabi, kapan pun dan di mana pun. Namun, jika zikir dan salawat dikhususkan dengan cara tertentu, di tempat tertentu, dan pada waktu tertentu, hal tersebut memerlukan dalil.

Imam Abū Syāmah berkata:

وَلَا يَنْبَغِي تَخْصِيص الْعِبَادَات بأوقات لم يخصصها بهَا الشَّرْع بل يكون جَمِيع أَفعَال الْبر مُرْسلَة فِي جَمِيع الْأَزْمَان لَيْسَ لبعضها على بعض فضل إِلَّا مَا فَضله الشَّرْع وَخَصه بِنَوْع من الْعِبَادَة

“Tidak sepantasnya mengkhususkan ibadah pada waktu-waktu tertentu yang tidak dikhususkan oleh syariat. Bahkan, semua amal kebajikan terbuka untuk dilaksanakan pada seluruh waktu. Tidak ada keutamaan sebagian waktu atas waktu yang lain, kecuali waktu yang memang dilebihkan oleh syariat dan dikhususkan dengan jenis ibadah tertentu.” (Al-Bā’iṡ ’alā Inkār Al-Bida’ wa Al-Ḥawādiṡ)

Jika seseorang telah mengkhususkan suatu amalan pada waktu tertentu, tempat tertentu, atau dengan cara tertentu, biasanya dalam hatinya terdapat keyakinan bahwa waktu, tempat, atau cara tersebut memiliki keutamaan.

Apabila keutamaan tersebut disebutkan dalam Al-Qur’an atau As-Sunnah, maka amalan tersebut baik dan diberkahi. Namun, jika keutamaan itu tidak disebutkan dalam Al-Qur’an atau As-Sunnah, maka amalan tersebut buruk dan termasuk bidah.

Mungkin ada yang bertanya, “Bukankah mengkhususkan zikir atau salawat menjelang salat tidak memiliki dalil? Jika kita tidak boleh mengkhususkan ibadah pada waktu, tempat, atau cara tertentu tanpa dalil, lalu bolehkah saya mengkhususkan zikir dan salawat menjelang salat karena pada waktu tersebut saya tidak memiliki kesibukan dan ingin mengisi waktu luang dengan kebaikan?”

Jawabannya, hal tersebut boleh dilakukan jika tidak diyakini adanya keutamaan khusus pada waktu tersebut dan tidak dilakukan secara terus-menerus.

Perlu ditekankan, amalan tersebut tidak dilakukan secara terus-menerus. Sebab, apabila dilakukan secara rutin pada waktu tertentu, akan timbul anggapan bahwa amalan tersebut disunahkan, bahkan diwajibkan.

Syekh Nāṣir Al-’Aql berkata:

وأعظم البدع سواء كانت بدعاً قولية أو غيرها بدأت من التساهل وقد لا يقصد الناس بداية الالتزام بها والتعبد، ولكن حين يلتزمونها ويلزمون أنفسهم يكون ذلك على سبيل التعبد

“Bidah yang paling besar, baik itu bidah berupa perkataan maupun selainnya, bermula dari sikap menggampangkan. Pada awalnya orang-orang mungkin tidak bermaksud menjadikannya sebagai bentuk komitmen dan ibadah. Namun, ketika mereka terus melakukannya dan mewajibkannya kepada diri mereka, maka hal itu pun menjadi ibadah.” (Mujmāl Uṣūl Ahlissunnah)

Dengan demikian, amalan tersebut dianggap sebagai ibadah yang dianjurkan, bahkan wajib dikerjakan.

Apa buktinya?

Syekh Nāṣir Al-’Aql berkata:

والدليل على هذا أن كثيراً من الناس إذا أنكرت عليه اعتبر هذا موقفاً غريباً؛ لأنهم استمرءوا هذا الأصل فصار ذريعة للبدعة، بل وصل بعضهم إلى الابتداع

“Bukti yang menunjukkan demikian bahwa banyak orang, jika perbuatan tersebut diingkari, justru dianggap sebagai sikap yang aneh. Sebab, mereka telah terbiasa melakukannya sehingga itu menjadi pintu menuju bidah. Bahkan, sebagian dari mereka sampai melakukan bidah.” (Mujmāl Uṣūl Ahlissunnah)

Bukti bahwa suatu amalan telah dianggap sebagai ibadah oleh sebagian orang adalah ketika amalan tersebut ditinggalkan, mereka mengingkarinya dan menganggap salah orang yang melakukannya.

 

Siberut, 26 Jumādā Aṡ-Ṡāniyah 1447
Abu Yahya Adiya