Ketika kita membahas tentang kesesatan sekte Muktazilah dan bantahan terhadap mereka, mungkin ada yang protes, “Untuk apa membahas sekte yang sudah hilang dimakan waktu?! Itu buang-buang waktu!”
Bisa kita sanggah, “Kata siapa Muktazilah sudah punah dan tidak ada lagi?!”
Seorang tokoh di Indonesia ada yang terang-terangan menyatakan bahwa dirinya mengikuti Muktazilah.
Selain itu, orang yang memiliki pemikiran yang sama dengan pemikiran Muktazilah pun banyak di zaman ini, walaupun tidak mengaku mengikuti Muktazilah.
Sebagai contoh, seorang tokoh suatu kelompok dakwah yang memiliki banyak pengikut di abad ke 20 berkata:
خبر الآحاد ليس بحجة في العقائد
“Hadis ahad bukanlah hujah dalam masalah akidah.” (Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah)
Bukankah ini akidah Muktazilah?
Bahkan, ketika menyinggung tokoh-tokoh Muktazilah semacam Washil bin ‘Atha, ‘Amru bin ‘Ubaid, Abu Hudzail, dan An-Nazham, tokoh tadi berkata:
لم يحصل منهم أي انحراف في العقائد على اختلاف معتقداتهم، فكلهم مسلمون مدافعون عن الإسلام
“Tidak ada dari mereka penyimpangan apa pun dalam akidah, dalam keadaan keyakinan mereka bermacam-macam. Mereka semua muslim dan memperjuangkan Islam.” (Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah)
Lihatlah, tokoh-tokoh Muktazilah tadi dianggap tidak menyimpang!
Kalau itu pemikiran tokoh tadi, maka begitu pula pemikiran kelompok yang ada di bawah kepemimpinannya. Disebutkan dalam buku panduan kelompok tersebut:
فحين يقال: إن الإسلام خاضع للعقل فهذا القول الصحيح، وكذلك حين يقال: إن الإسلام مقياسه العقل، فهذا القول أيضًا صحيح؛ لأن العقل هو أساس الإسلام
“Ketika dikatakan bahwa Islam itu tunduk kepada akal, maka itu perkataan yang benar. Demikian pula ketika dikatakan bahwa Islam itu ukurannya adalah akal, maka itu juga perkataan yang benar. Sebab, akal itu merupakan asas Islam.” (Nida Haar Ilaa Al-Muslimiin)
Bukankah ini akidah Muktazilah?
Bukankah itu menunjukkan bahwa orang yang memiliki pemikiran yang sama dengan pemikiran Muktazilah ada di zaman ini?
Ya, ada. Bahkan itu banyak!
Pemikiran Muktazilah tidak punah dan masih ada hingga zaman ini. Karena itu, membongkar kesesatan mereka dan menjelaskan itu kepada umat adalah perkara yang penting dalam syariat.
Siberut, 21 Syawwal 1443
Abu Yahya Adiya






