Iman itu keyakinan, perkataan, dan perbuatan, yang bisa bertambah dan berkurang.
Itulah keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah tentang iman. Lantas, bagaimana pendapat Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani tentang iman? Apakah pendapat beliau sama dengan Ahlussunnah wal Jama’ah?
Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani berkata:
ونعتقد أن الإيمان قول باللسان, ومعرفة بالجنان, وعمل بالأركان, يزيد بالطاعة وينقص بالعصيان, ويقوى بالعلم ويضعف بالجهل, وبالتوفيق يقع.
“Kami berkeyakinan bahwa iman adalah perkataan dengan lisan, pengetahuan dengan hati, dan amalan dengan anggota badan. Iman bisa bertambah karena ketaatan, dan berkurang karena kemaksiatan. Dan iman bisa menguat karena pengetahuan dan melemah karena kebodohan. Dan iman bisa terwujud karena taufik-Nya.
كما قال الله عز وجل:
Sebagaimana firman-Nya:
فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ [التوبة: 124]
“Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah iman mereka, sedang mereka merasa gembira.” (QS. At-Taubah: 124)
وما جاز عليه الزيادة جاز عليه النصيان, وقال تعالى:
Segala sesuatu yang bisa bertambah, maka bisa pula ia berkurang. Dia berfirman:
وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ [الأنفال: 2]
“Dan bila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah kuatlah iman mereka dan hanya kepada Tuhan merekalah mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfaal: 2)
وقوله عز وجل:
Dan firman-Nya:
لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا [المدثر: 31]
“Agar yakinlah orang-orang yang diberi Al-Kitab, dan agar bertambahlah imannya orang yang beriman.” (QS. Al-Muddatstsir: 31)
وما روي عن ابن عباس وأبي هريرة وأبي الدرداء رضي الله عنهم, أنهم قالوا: الإيمان يزيد وينقص. وغير ذلك من مما يطول شرحه.
Dan berdasarkan riwayat dari Ibnu ‘Abbas, Abu Hurairah, dan Abu Ad-Darda-semoga Allah meridai mereka-bahwa mereka berpendapat bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang dan perkara selain itu yang panjang penjelasannya.
وقد أنكرت الأشعرية زيادة الإيمان ونقصانه.
Sedangkan sekte Asy‘ariyyah mengingkari bertambah dan berkurangnya iman.” (Al-Ghunyah li Thaalib Thariq Al-Haq ‘Azza wa Jalla)
Perkataan Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani ini menunjukkan bahwa pendapat beliau tentang iman sama dengan pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah dan berbeda dengan pendapat mayoritas tokoh sekte Asy‘ariyyah.
Karena, mayoritas tokoh sekte Asy‘ariyyah berpendapat bahwa iman itu tidak bisa bertambah dan berkurang dan mereka juga berpendapat bahwa iman itu hanyalah keyakinan atau pembenaran hati.
Seorang tokoh sekte Asy‘ariyyah kontemporer, Hasan Muhammad Ayyub berkata:
أما إذا كان عدم النطق لخوفه من الهلاك فالإيمان صحيح، لقوله تعالى:
“Adapun kalau seseorang tidak mengucapkan dua kalimat syahadat karena khawatir binasa, maka imannya benar. Berdasarkan firman-Nya:
{إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإِيمَانِ}
“Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman.” (QS. An-Nahl: 106)
أما من لم ينطق بالشهادتين لغير سبب من الأسباب، ولكنه مصدق بقلبه ومطمئن إلى دين الله وأحكامه، فالقول الراجح أنه ناج عند الله
Adapun orang yang tidak mengucapkan dua kalimat syahadat karena sebab selain itu, tetapi ia membenarkan dengan hatinya dan merasa tenang dengan agama Allah dan hukum-hukum-Nya, maka pendapat yang kuat ia selamat di sisi Allah.” (Tabsith Al-‘Aqaid Al-Islamiyyah)
Tentu saja, pendapat ini bertentangan dengan keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah bahwa iman adalah keyakinan, perkataan, dan perbuatan.
Yakni keyakinan dalam hati dan pengakuan dengan lisan serta pengamalan dengan anggota badan.
Untuk menjadi orang yang beriman, tidak cukup meyakini kebenaran Islam dalam hati. Mesti mengakui itu dengan lisan. Dan mesti juga mengamalkan itu dengan anggota badan!
Kalau 3 unsur itu terkumpul pada diri seseorang, barulah ia akan selamat di akhirat!
Siberut, 7 Rajab 1443
Abu Yahya Adiya






