Ada orang yang berkata:
أَنَا أُجَالِسُ أَهْلَ السُّنَّةِ وَأُجَالِسُ أَهْلَ الْبِدَعِ
“Aku akan duduk dengan Ahlussunnah dan duduk dengan ahli bidah.”
Perkataannya itu sampai ke telinga Imam Al-Auza’i, maka beliau pun berkata:
هَذَا رَجُلٌ يُرِيدُ أَنْ يُسَاوِيَ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ
“Ini adalah orang yang ingin menyamakan kebenaran dengan kebatilan!” (Al-Ibanah Al-Kubra)
Ya, bagaimana bisa sunnah dan bidah disamakan?
Bagaimana bisa perkara yang dicintai oleh Allah disamakan dengan perkara yang dimurkai oleh Allah?
Ibnu ‘Abbas berkata:
إِنَّ أَبْغَضَ الْأُمُورِ إِلَى اللهِ الْبِدَعُ
“Sesungguhnya perkara yang paling dibenci oleh Allah adalah bidah.” (As-Sunan Al-Kubra)
Tidaklah seseorang mengikuti sunnah, kecuali ia akan membenci bidah. Sebagaimana tidaklah seseorang mengikuti bidah, kecuali ia akan membenci sunnah.
Ibnu ‘Abbas berkata:
مَا أَتَى عَلَى النَّاسِ عَامٌ إِلَّا أَحْدَثُوا فِيهِ بِدْعَةً، وَأَمَاتُوا فِيهِ سُنَّةً، حَتَّى تَحْيَى الْبِدَعُ، وَتَمُوتَ السُّنَنُ
“Tidaklah datang tahun yang baru kepada umat manusia, kecuali mereka akan membuat satu bidah dan mematikan satu sunnah, hingga akhirnya hiduplah bidah-bidah dan matilah sunnah-sunnah.” (Al-Mu’jam Al-Kabir)
Ketika ditinggalkan satu sunnah, maka muncullah satu bidah.
Makin sering seseorang meninggalkan sunnah, maka makin terperosoklah ia ke dalam lubang bidah.
Karena itu, tidak mungkin seorang ahli bidah menyukai sunnah. Dan mustahil seorang ahli bidah menyukai orang yang berpegang teguh pada sunnah.
Ahmad bin Sinan Al-Qaththan berkata:
ليس في الدنيا مبتدع إلا وهو يبغض أهل الحديث ، فإذا ابتدع الرجل نزعت حلاوة الحديث من قلبه
“Di dunia ini tidak seorang pun ahli bidah kecuali ia membenci ahli hadis. Jika seseorang telah berbuat bidah, maka akan dicabutlah manisnya hadis dari hatinya.” (Syarh ‘Aqidah As-Salaf wa Ashhab Al-Hadits)
Maka, pantaskah seorang Ahlussunah memuji para ahli bidah dan menolong mereka untuk melakukan perbuatan yang dimurkai oleh Allah?
Allah berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Tolong-menolonglah dalam kebajikan dan ketakwaan. Dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah: 2)
Apa maksud tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan?
Sahl bin ‘Abdillah At-Tustari berkata:
ونهى عن التعاون على الإثم وهو الكفر والنفاق، والعدوان وهو البدعة والخصام
“Dia melarang tolong-menolong dalam dosa yaitu kekafiran dan kemunafikan dan dalam permusuhan yaitu bidah dan perdebatan.” (Tafsir At-Tustari)
Siberut, 4 Muharram 1446
Abu Yahya Adiya






