Akibat Tidak Bergantung kepada Manusia

Akibat Tidak Bergantung kepada Manusia

Ada seorang khalifah yang ingin memberikan 100 dinar kepada seorang ulama. Ia berkata kepada budaknya:

إن قبل ذلك فأنت حر

“Jika ulama itu menerimanya, maka engkau merdeka.”

Maka si budak pun membawanya kepada ulama itu, tetapi ia tidak mau menerimanya.

Budak itu berkata kepadanya:

اقبلها ففي قبولك لها عتقي.

“Terimalah, karena dengan menerimanya aku akan merdeka.”

Ulama itu pun berkata:

إن كان فيه عتقك ففيه رقي!

“Jika kemerdekaanmu diraih dengan menerimanya, maka kemuliaanku diraih dengan menolaknya!” (Silsilah ‘Uluw Al-Himmah)

Apa pelajaran yang bisa kita petik dari kisah ini?

Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata:

لَا يَزَالُ النَّاسُ يُكْرِمُونَكَ مَا لَمْ تَعَاطَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ، فَإِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ، اسْتَخَفُّوا بِكَ، وَكَرِهُوا حَدِيثَكَ، وَأَبْغَضُوكَ.

“Orang-orang akan senantiasa memuliakanmu, selama engkau tidak mengambil apa yang ada di tangan mereka. Jika engkau sampai melakukan demikian, maka mereka pun akan menganggap remeh dirimu, tidak menyukai perkataanmu, dan membencimu.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam)

Bergantung kepada manusia adalah kerendahan dan kehinaan. Ketika seseorang bergantung kepada manusia dan bersandar kepadanya, ketika itu pula kehinaan ada di depan matanya.

Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

وَمَتَى احْتَجْتَ إلَيْهِمْ – وَلَوْ فِي شَرْبَةِ مَاءٍ – نَقَصَ قَدْرُكَ عِنْدَهُمْ بِقَدْرِ حَاجَتِكَ إلَيْهِمْ

“Setiap kali engkau membutuhkan orang-orang, walaupun hanya seteguk minuman, maka setiap kali itu juga berkurang kemuliaanmu di sisi mereka, sesuai dengan kadar butuhnya dirimu pada mereka.” (Majmu’ Al-Fatawa)

Makin bertambah ketergantungan seseorang kepada orang lain, makin berkuranglah kemuliaannya di hadapan mereka.

Sebaliknya, makin berkurang ketergantungannya kepada orang lain, maka makin bertambahlah kemuliaannya di hadapan mereka.

Malaikat Jibril pernah berkata kepada nabi kita:

يَا مُحَمَّدُ شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُ اللَّيْلِ وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ

“Wahai Muhammad, kehormatan seorang mukmin yaitu melaksanakan salat malam dan kemuliaannya yaitu merasa cukup dari orang lain.” (HR. Al-Hakim)

Ya, merasa cukup dari orang lain. Merasa cukup dengan apa yang Allah berikan, dan merasa tidak membutuhkan apa yang dimiliki orang lain.

Itulah yang membuat seseorang mulia di hadapan orang lain. Bahkan, itulah yang membuat orang lain ‘tunduk’ kepadanya.

Seorang Arab Badui berkata kepada penduduk Bashrah:

مَنْ سَيِّدُ أَهْلِ هَذِهِ الْقَرْيَةِ؟

“Siapa pemimpin penduduk daerah ini?”

Mereka menjawab:

الْحَسَنُ

“Al-Hasan.”

Arab Badui itu bertanya lagi:

بِمَا سَادَهُمْ؟

“Dengan apa ia bisa memimpin mereka?”

Mereka menjawab:

احْتَاجَ النَّاسُ إِلَى عِلْمِهِ، وَاسْتَغْنَى هُوَ عَنْ دُنْيَاهُمْ

“Orang-orang membutuhkan ilmunya, sedangkan ia tidak membutuhkan dunia mereka!” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam)

Itu sesuai dengan perkataan Sa’id bin Al-Musayyib:

مَنِ اسْتَغْنَى بِاللهِ، افْتَقَرَ النَّاسُ إِلَيْهِ

“Siapa yang merasa cukup dengan Allah, maka orang-orang akan membutuhkannya.” (Siyar A’lam An-Nubala)

 

Siberut, 15 Rajab 1444

Abu Yahya Adiya