Jika membaca atau dibacakan Al-Quran, ia pingsan. Dan jika melihat pekuburan, ia juga hilang kesadaran.
Itulah kondisi Al-Hasan bin Saleh.
Abu Sulaiman Ad-Darani berkata:
مَا رَأَيتُ أَحَداً الخَوْفُ أَظهرُ عَلَى وَجْهِهِ وَالخُشُوْعُ مِنَ الحَسَنِ بنِ صَالِحٍ، قَامَ لَيْلَةً ب* ـ: {عَمَّ يَتَسَاءلُوْنَ} [النَّبَأُ: 1] ، فَغُشِيَ عَلَيْهِ، فَلَمْ يَخْتِمْهَا إِلَى الفَجْرِ
“Aku tidak pernah melihat seseorang yang ketakutan sangat tampak di wajahnya melebihi Al-Hasan bin Saleh. Ia pernah melaksanakan salat malam dengan membaca surat Amma Yatasaaluun. Kemudian ia pingsan. Lalu ia tidak menyelesaikan surat itu sampai fajar.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Imam Adz-Dzahabi berkata:
وَرُوِيَ عَنِ الحَسَنِ بنِ صَالِحٍ: أَنَّهُ كَانَ إِذَا نَظَرَ إِلَى المَقْبُرَةِ يَصرُخُ، وَيُغْشَى عَلَيْهِ
“Diriwayatkan dari Al-Hasan bin Saleh bahwa jika ia melihat pekuburan, maka ia akan menjerit dan pingsan.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Itu menunjukkan bahwa Al-Hasan bin Saleh adalah seorang ahli ibadah. Selain ulama, ia juga terkenal sebagai ahli ibadah. Bukan orang biasa. Namun sayangnya….
Imam Adz-Dzahabi berkata:
قُلْتُ: كَانَ يَرَى الحَسَنُ الخُرُوْجَ عَلَى أُمَرَاءِ زَمَانِهِ لِظُلْمِهِم وَجَوْرِهِم، وَلَكِنْ مَا قَاتَلَ أَبَداً، وَكَانَ لاَ يَرَى الجُمُعَةَ خَلْفَ الفَاسِقِ.
“Al-Hasan berpendapat bolehnya memberontak kepada para pemimpin di zamannya dikarenakan kezaliman dan kesewenang-sewenangan mereka. Namun, ia tidak pernah berperang sama sekali. Dan ia berpendapat tidak boleh melaksanakan salat Jumat di belakang pemimpin yang fasik.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Yusuf bin Asbath berkata:
كَانَ الحَسَنُ بنُ حَيٍّ يَرَى السَّيْفَ
“Al-Hasan bin Hayy berpendapat bolehnya memberontak kepada pemimpin yang zalim.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Tentu saja sikapnya sejalan dengan sikap Khawarij dan tidak sejalan dengan sikap Ahlussunnah wal Jama’ah.
Imam Al-Barbahari berkata:
ومن قال: الصلاة خلف كل بر وفاجر, والجهاد مع كل خليفة, ولم ير الخروج على السلطان بالسيف, ودعا لهم بالصلاح؛ فقد خرج من قول الخوارج أوله وآخره.
“Siapa yang berpendapat bahwa boleh bermakmum kepada orang yang baik maupun jahat, berjihad dengan semua pemimpin, dan tidak berpendapat bolehnya memberontak kepada penguasa dengan pedang, serta mendoakan mereka agar mendapat kebaikan, maka sungguh, ia telah keluar dari pemikiran Khawarij, dari awalnya sampai akhirnya.” (Syarh As-Sunnah)
Kalau begitu, siapa yang berpendapat bahwa tidak boleh bermakmum dan berjihad bersama pemimpin yang zalim, bahkan boleh mencelanya dan menjatuhkannya dari kekuasaannya, maka ia seorang Khawarij.
Karena sikap Al-Hasan bin Saleh yang seperti itulah, para ulama salaf bersikap keras kepadanya.
Abu Nu’aim berkata:
دَخَلَ الثَّوْرِيُّ يَوْمَ الجُمُعَةِ مِنَ البَابِ القِبْلِيِّ، فَإِذَا الحَسَنُ بنُ صَالِحٍ يُصَلِّي، فَقَالَ: نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ خُشُوْعِ النِّفَاقِ، وَأَخَذَ نَعْلَيْهِ، فَتَحوَّلَ إِلَى سَارِيَةٍ أُخْرَى.
“Sufyan Ats-Tsauri memasuki masjid di hari Jumat dari pintu kiblat. Tiba-tiba ada Al-Hasan bin Saleh yang sedang melaksanakan salat. Sufyan pun berkata, ‘Kita berlindung kepada Allah dari kekhusyukan karena kemunafikan.’ Sufyan mengambil kedua sandalnya lalu ia berpindah ke tiang masjid yang lain.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Lihatlah, Imam Sufyan Ats-Tsauri sampai enggan dekat dengannya!
Imam Ahmad bin Yunus Al-Yarbu’iy berkata tentang Al-Hasan bin Saleh:
جَالَسْتُهُ عِشْرِيْنَ سَنَةً، مَا رَأَيتُهُ رَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ، وَلاَ ذَكَرَ الدُّنْيَا.
“Aku berteman dengannya selama 20 tahun, maka aku tidak pernah melihatnya mengangkat kepalanya ke atas, dan tidak pernah ia menyebutkan tentang dunia.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Inilah keistimewaan Al-Hasan bin Saleh, tetapi Imam Ahmad bin Yunus Al-Yarbu’iy berkata sebelumnya:
لَوْ لَمْ يُولَدِ الحَسَنُ بنُ صَالِحٍ، كَانَ خَيْراً لَهُ يَتْرُكُ الجُمُعَةَ، وَيَرَى السَّيْفَ
“Seandainya Al-Hasan bin Saleh tidak dilahirkan, tentu itu lebih baik baginya. Ia meninggalkan salat Jumat, dan berpendapat bolehnya memerangi penguasa yang zalim.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Lihatlah, keistimewaan Al-Hasan bin Saleh jadi tidak berarti bagi Imam Ahmad bin Yunus, sampai-sampai beliau berkata bahwa seandainya ia tidak dilahirkan, tentu itu lebih baik baginya!
Bisyr berkata:
كَانَ زَائِدَةُ يَجْلِسُ فِي المَسْجِدِ، يُحذِّرُ النَّاسَ مِنِ ابْنِ حَيٍّ، وَأَصْحَابِه.
“Zaidah duduk di masjid memperingatkan orang-orang dari Ibnu Hayy (Al-Hasan bin Saleh) dan teman-temannya.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Khalf bin Tamim berkata:
كَانَ زَائِدَةُ يَسْتَتِيْبُ مَنْ أَتَى حَسَنَ بنَ صَالِحٍ
“Zaidah menyuruh tobat orang yang mendatangi Al-Hasan bin Saleh.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Lihatlah, karena pemikiran Al-Hasan bin Saleh, Imam Zaidah sampai memperingatkan orang-orang agar tidak mendekatinya dan membuat beliau menyuruh orang yang pernah mendatanginya untuk bertobat kepada Tuhannya!
Disebutkan kepada Imam Ibnu Idris bahwa Al-Hasan bin Saleh pingsan karena mendengar Al-Quran, maka beliau berkata:
تَبسُّمُ سُفْيَانَ، أَحَبُّ إِلَيْنَا مِنْ صَعْقِ الحَسَنِ.
“Senyumnya Sufyan lebih kita sukai daripada pingsannya Al-Hasan.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Lihatlah, menurut Imam Ibnu Idris, senyumnya Imam Sufyan Ats-Tsauri lebih baik daripada pingsannya Al-Hasan karena mendengar Al-Quran!
Pemikiran bidah Al-Hasan bin Saleh telah mencoreng keilmuannya dan ibadahnya. Makanya Imam Adz-Dzahabi berkata tentang Al-Hasan bin Saleh:
هُوَ مِنْ أَئِمَّةِ الإِسْلاَمِ، لَوْلاَ تَلَبُّسُهُ بِبِدعَةٍ.
“Ia termasuk imam dalam Islam, kalau saja ia tidak bergelimang bidah.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Mungkin ada yang ‘kepanasan’ dengan beberapa riwayat tadi lalu berkata, “Apa yang salah dengan Al-Hasan bin Saleh?! Bukankah ia sendiri tidak pernah mengangkat senjata melawan para penguasa?!”
Maka jawabannya yaitu, “Ya, ia memang tidak pernah melawan mereka dengan senjatanya, tetapi ia telah melawan mereka dengan kata-katanya!”
Apakah ada pemberontakan dengan senjata yang muncul dengan tiba-tiba tanpa didahului dengan kata-kata?
Apakah para pemberontak bisa membunuh khalifah ‘Utsman bin ‘Affan tanpa didahului dengan berbagai aksi?
Apakah ‘Abdullah bin Saba, tokoh Yahudi langsung berhasil menjatuhkan khalifah ‘Utsman bin ‘Affan tanpa didahului dengan provokasi?
‘Abdullah bin Saba berkata kepada para pengikutnya:
وابدءوا بالطعن عَلَى أمرائكم، وأظهروا الأمر بالمعروف، والنهي عن المنكر، تستميلوا الناس، وادعوهم إِلَى هَذَا الأمر
“Mulailah dengan mencela para pemimpin kalian. Tampakkanlah bahwa itu amar makruf nahi mungkar. Niscaya kalian bisa membuat orang-orang simpati kepada kalian. Dan ajaklah mereka untuk perkara tersebut!” (Tarikh Ar-Rusul wa Al-Muluk)
Setiap pemberontakan lewat senjata mesti didahului dengan pemberontakan lewat kata-kata!
Siberut, 7 Dzulhijjah 1443
Abu Yahya Adiya






