Jawaban Ali untuk Khawarij ketika Salat

Jawaban Ali untuk Khawarij ketika Salat

Suatu hari, ‘Ali bin Abi Thalib sedang mengimami salat Subuh. Tiba-tiba seorang Khawarij membacakan ayat:

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Sungguh, jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya hapuslah amalmu, dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)

Ayat itu ia arahkan kepada ‘Ali bin Abi Thalib, amirulmukminin!

Hakim bin Sa’d berkata:

فَأَجَابَهُ عَلِيٌّ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ

“Dalam keadaan salat, ‘Ali pun menjawabnya dengan membacakan (QS. Ar-Ruum: 60):

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَا يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذِينَ لَا يُوقِنُونَ

“Maka bersabarlah engkau, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan jangan sampai orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkanmu.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan lain-lain)

 

Ada beberapa faidah yang bisa kita petik dari riwayat ini:

 

1. Salat seseorang tidak batal jika ia menyebutkan suatu ayat Al-Quran, dengan niat membacanya dan menegur orang lain.

Seperti yang dilakukan oleh ‘Ali bin Abi Thalib. Ia menyebutkan ayat Al-Quran dengan niat membacanya dan membantah orang Khawarij itu.

Adapun kalau semata-mata untuk membantah orang lain dan bukan untuk membaca Al-Quran?

Imam Al-Mawardi berkata:

أَنْ يَقْصِدَ بِهِ الْإِفْهَامَ، وَالتَّنْبِيهَ لَا الْقِرَاءَةَ فَتَبْطُلَ صَلَاتُهُ

“Kalau seseorang menyebutkannya dengan niat membuat orang lain paham dan sadar, bukan untuk membacanya, maka batallah salatnya.” (Al-Hawi Al-Kabir)

 

2. Di antara ciri kaum Khawarij yaitu mudah mencela pemimpin. Seperti yang dilakukan oleh Khawarij tadi terhadap amirulmukminin, ‘Ali bin Abi Thalib.

 

3. Hadis tadi merupakan dalil bagi sebagian ulama yang berpendapat bahwa kaum Khawarij tidak mendapat hukuman karena mencela penguasa lewat sindiran. Sebab, ‘Ali bin Abi Thalib tidak menghukum orang Khawarij yang menyindir beliau dengan menyebutkan ayat tadi.

Kenapa begitu?

Imam Abul Husain Yahya bin Abi Al-Khair Al-‘Umrani menyebutkan alasan para ulama yang berpendapat demikian:

ولأن التعريض يحتمل السبَّ وغيره.

“Karena, sindiran itu mengandung kemungkinan mencela atau selain itu.” (Al-Bayan Fi Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i)

Namun, para ulama yang lain berpendapat bahwa kaum Khawarij tetap mendapatkan hukuman karena mencela penguasa lewat sindiran. Kenapa demikian?

Imam Abul Husain Yahya bin Abi Al-Khair Al-‘Umrani menyebutkan alasan mereka:

لأنه إذا لم يعزرهم بالتعريض بالسب.. ارتقوا إلى التصريح بالسب، وإلى أعظم منه

“Sebab, jika mereka tidak dihukum karena mencela lewat sindiran, maka mereka akan sampai pada tingkat mencela terang-terangan dan akan sampai pada perbuatan yang lebih besar dari itu.” (Al-Bayan Fi Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i)

 

4. Hendaknya seorang pemimpin bersabar menghadapi tindak-tanduk rakyatnya yang tidak beradab.

Syekh Husain Al-‘Awayisyah berkata:

فإنّ علياً أراد أن يقول لهذا الخارجي:

“Karena sesungguhnya ‘Ali ingin berkata kepada orang Khawarij tadi:

إنّ الله -تعالى- يأمرني أن أصبر على مخالفتك وعنادك وأذاك، وهو ناصري ومُعيني، وهو -سبحانه- يأمرني بالصبر والثبات؛ على ما أنا عليه مِن الحقّ، وعدم العدول عنه.

“Sesungguhnya Allah menyuruhku bersabar menghadapi kedurhakaanmu, penentanganmu, dan gangguanmu. Dialah penolongku. Dan Dia telah menyuruhku bersabar dan tegar di atas kebenaran yang kujalani dan agar aku tidak berpaling darinya.” (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah Fii Fiqhi Al-Kitab wa As-Sunnah Al-Muthahharah)

 

Siberut, 24 Dzulqa’dah 1444

Abu Yahya Adiya