Tiga perbuatan ini berbahaya. Tiga perbuatan ini buruk akibatnya. Tiga perbuatan ini besar dosanya.
Suatu hari Nabi ﷺ ditanya tentang dosa-dosa besar, maka beliau menjawab:
الشِّرْكُ بِاللهِ، وَالْيَأْسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ وَالْأَمْنُ مِنْ مَكْرِ اللهِ
“Menyekutukan Allah, berputus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari siksa Allah.” (Al-Jami’ Ash-Shaghir)
Dan senada dengan itu, Ibnu Mas’ud berkata:
أَكْبَرُ الْكَبَائِرِ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ , وَالْأَمْنُ مِنْ مَكْرِ اللَّهِ , وَالْقَنُوطُ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ , وَالْيَأْسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ
“Dosa besar yang paling besar adalah: menyekutukan Allah, merasa aman dari siksa Allah, berputus harapan dari rahmat Allah, dan berputus asa dari pertolongan Allah.” (Tafsir Abdurrazzaq)
Dua riwayat tadi menunjukkan bahwasanya ada 3 dosa besar yang harus kita jauhi:
1. Syirik
Sebanyak apa pun amalan seseorang, jika ia berbuat syirik sekali saja, maka lenyaplah amalan yang telah ia lakukan. Walaupun ia telah bersedekah milyaran dolar. Walaupun ia telah melaksanakan salat ribuan kali. Puasa ratusan kali. Haji puluhan kali.
Allah berfirman:
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu: ‘Sungguh, jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya hapuslah amalmu, dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)
Ayat ini ditujukan kepada Nabi ﷺ. Nah, kalau amalan seorang nabi saja bisa lenyap karena melakukan syirik, apalagi kita yang penuh dengan dosa!
Maka, jangan sekutukan Tuhanmu, separah apa pun keadaanmu!
Nabi ﷺ bersabda:
لَا تُشْرِكْ بِاللهِ شَيْئًا وَإِنْ قُتِلْتَ وَحُرِّقْتَ
“Jangan engkau menyekutukan Allah sedikit pun walaupun engkau dibunuh dan dibakar.” (HR. Ahmad)
2. Merasa aman dari siksa Allah.
Engkau berkali-kali melakukan dosa lalu engkau merasa bahwa engkau tidak akan mengalami apa-apa?!
Engkau terus menerus bermaksiat kepada Tuhanmu lalu engkau merasa bahwa Tuhanmu tidak murka kepadamu dan tidak menurunkan siksa kepadamu?!
Itu dosa besar dan sangat besar terhadap Tuhanmu.
Allah berfirman:
أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ
“Maka apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksa Kami yang datang di malam hari ketika mereka sedang tidur?
أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ
Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksa Kami yang datang di pagi hari ketika mereka sedang bermain?
أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ
Maka apakah mereka merasa aman dari siksa Allah? Tidak ada yang merasa aman dari siksa Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raaf: 97-99)
Ya, merugi di dunia dan akhirat.
Sikap merasa aman dari siksa Allah adalah sikap yang sangat buruk dan bisa mengantarkan pada berbagai perbuatan buruk.
Sebab, ketika seseorang sudah merasa aman dari makar Allah, maka ia sudah tidak segan lagi untuk melakukan dosa. Ia sudah tidak takut lagi bermaksiat. Akhirnya, makin jauhlah ia dari rahmat Allah dan makin dekatlah ia kepada siksa Allah.
Karena itu, jangan sampai engkau merasa aman dari makar Allah.
Kalau engkau hendak melakukan dosa apa pun, ingatlah, Tuhanmu melihatmu. Tuhanmu mendengarmu.
Siksa-Nya bisa saja segera menghampirimu kalau engkau nekat melanggar aturan-Nya. Karena itu, takutlah kepada-Nya. Takutlah kepada siksa-Nya.
Ishaq bin Khalaf berkata:
لَيْسَ الْخَائِفُ مَنْ بَكَى وَعَصَرَ عَيْنَيْهِ، وَلَكِنَّ الْخَائِفَ مَنْ تَرَكَ الْأَمْرَ الَّذِي يَخَافُ أَنْ يُعَذَّبَ عَلَيْهِ.
“Orang yang takut bukanlah orang yang menangis dan memeras kedua matanya. Namun, orang yang takut adalah orang yang meninggalkan perkara yang dikhawatirkan akan menyebabkan ia tersiksa.” (Al-Mujalasah wa Jawahir Al-‘Ilm)
3. Berputus asa dari rahmat Allah. Berputus asa dari kasih sayang Allah. Berputus asa dari ampunan Allah. Berputus asa dari pertolongan Allah.
Kalau memang sikap merasa aman dari siksa Allah adalah sikap yang sangat buruk dan bisa mengantarkan pada berbagai perbuatan buruk, maka begitu pula sikap berputus asa dari rahmat Allah.
Allah berfirman:
وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلا الضَّالُّونَ
“Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya kecuali orang-orang yang sesat.” (QS. Al Hijr: 56)
Itu adalah sikap yang sangat buruk dan bisa mengantarkan pada berbagai perbuatan buruk. Di antaranya bunuh diri.
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ، فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا
“Siapa yang menjatuhkan dirinya dari gunung, hingga meninggal, maka ia akan menjatuhkan dirinya terus menerus di dalam neraka Jahannam, ia kekal dan abadi di dalamnya selama-lamanya.
وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ، فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا
Dan siapa yang meminum racun, hingga meninggal dunia, maka racun tersebut akan berada di tangannya, dan ia akan meminumnya terus menerus di dalam neraka Jahannam, ia kekal dan abadi di dalamnya selama-lamanya.
وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ، فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا
Dan siapa yang menghabisi dirinya dengan benda tajam, maka benda tajam itu akan ada di tangannya, dan ia akan menusukkan itu terus menerus ke perutnya di dalam neraka Jahannam, ia kekal dan abadi di dalamnya selama-lamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bagaimana bisa seseorang bunuh diri?
Bukankah itu terjadi karena seseorang berputus asa dari rahmat-Nya?
Ia merasa bahwa Allah telah meninggalkannya dan menelantarkannya, karena itu ia lebih memilih untuk menghabisi nyawanya?
Maka, jangan berputus asa dari rahmat Allah.
Separah apa pun musibah yang menimpamu, maka ketahuilah, itu adalah kebaikan bagi dirimu.
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya bencana. Dan sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikan kepada mereka ujian. Siapa yang rida terhadap ujian tersebut, baginya keridaan Allah. Sebaliknya, siapa yang murka, baginya kemurkaan Allah.” (HR. Tirmidzi)
Ujian dan cobaan yang Allah berikan kepadamu merupakan tanda cinta-Nya kepadamu. Lantas, apakah engkau mau menolak tanda cinta-Nya kepadamu?
Begitu juga, separah apa pun dosamu, dan sebanyak apa pun kesalahanmu kepada-Nya, maka ingatlah, Dia Maha Menerima taubat hamba-Nya.
Allah berfirman:
وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى
“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (QS. Thahaa: 82)
Siberut, 21 Shafar 1442
Abu Yahya Adiya






