Tidak ada khalik dan tidak juga ada makhluk. Allah adalah makhluk dan makhluk adalah Allah. Semuanya satu!
Itulah keyakinan wihdatul wujud.
Apa hubungan antara keyakinan itu dengan Tarekat Naqsyabandiyyah?
Sebelum mengetahui hubungan itu, perlu kita ketahui terlebih dahulu, apa makna لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ menurut Tarekat Naqsyabandiyyah?
Kadang mereka berkata bahwa makna لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ adalah
لا معبود إلا الله
“Tidak ada sembahan melainkan Allah.”
Kadang mereka berkata maknanya adalah
لا مقصود إلا الله
“Tidak ada yang dituju melainkan Allah.”
Dan kadang maknanya
لا موجود إلا الله
“Tidak ada yang berwujud melainkan Allah.” (Lihat Rasyhat ‘Ain Al-Hayat hal 141)
Adakah keganjilan pada perkataan mereka ini? Apakah Anda tidak menemukan keganjilan pada perkataan mereka ini?
Dr. ‘Abdurrahman Dimasyqiyyah berkata:
وذكروا أن (لا إله إلا الله) ذكر العوام. و (الله) ذكر الخواص و (هو) ذكر خواص الخواص
“Mereka menyebutkan bahwa لا إله إلا الله adalah zikirnya orang awam. Sedangkan الله adalah zikirnya orang khusus. Sementara هو (Dia) adalah zikirnya orang yang lebih khusus.
هكذا جعلوا (هو) أفضل وأعلى مرتبة في الذكر من لا إله إلا الله.
Demikianlah, mereka menjadikan zikir dengan lafal هو (Dia) lebih utama dan lebih tinggi kedudukannya dibandingkan zikir dengan lafal لا إله إلا الله.
فهم يقولون: لا إله إلا الله ويفهمون أن الموجود الحقيقي ولا غير هو الله بل هو متجل في صور المخلوقات التي نراها كلها!!!
Mereka mengucapkan لا إله إلا الله tetapi memahaminya bahwa tidak ada yang berwujud hakiki dan tidak ada lagi yang lain kecuali Allah. Bahkan Dia menampakkan diri dalam bentuk semua makhluk yang kita saksikan!!!” (Ath-Thariqah An-Naqsyabandiyyah)
Dan mereka mengatakan bahwa seseorang baru dikatakan mengerti tauhid jika meyakini bersatunya perbuatan, sifat dan zat dan meyakini di hatinya bahwa tidak ada pelaku di alam ini kecuali Allah (Lihat Rasyhat ‘Ain Al-Hayat hal 211).
Itulah tauhid bagi mereka. Bukankah itu keyakinan wihdatul wujud yang diingkari oleh para ulama Ahlussunnah sejak dahulu kala?
Siberut, 17 Sya‘ban 1443
Abu Yahya Adiya
Sumber: Ath-Thariqah An-Naqsyabandiyyah karya Dr. Abdurrahman Dimasyqiyyah.






