Antara Sufi dan Rasionalitas

Antara Sufi dan Rasionalitas

Syekh Muhammad bin Jamil Zainu  menceritakan perjalanan dakwah beliau bersama Jamaah Sufi:

ثم ذهبت معهم إلى الأردن, ولهم مسجد كبير في عمان يجتمعون فيه, فنزلنا في المسجد, وصلينا فيه, ثم ألقى أحد المسؤولين بيانا ذكر فيه أشياء غريبة, قال يخاطب الحاضرين:

“Lalu aku pergi bersama mereka ke Yordania. Dan mereka memiliki masjid besar di Amman yang menjadi tempat mereka berkumpul. Kami pun singgah di masjid tersebut dan melaksanakan salat di dalamnya. Kemudian salah seorang penanggung jawab jamaah tersebut menyampaikan ceramah yang di dalamnya ia menyebutkan perkara-perkara aneh. Orang itu mengajak bicara hadirin:

يا أحبابنا لا تأكلوا كثيرا حتى لا تتغوطوا كثيرا فالإمام الغزالي ذهب إلى الحج مدة شهر ولم يتغوط (أي لم يذهب للحمام)

“Wahai saudara-saudara yang kami cintai! Jangan banyak makan supaya tidak sering buang air! Imam Ghazali pergi untuk melaksanakan haji selama sebulan dan beliau tidak buang air (yakni tidak ke jamban)! ”

فقال له أحد الجالسين:

Bertanyalah salah seorang yang hadir di situ:

من أين أتيت بهذه القصة؟

“Dari mana Anda membawakan kisah ini?!”

فأنكرها عليه, لأنه لا يمكن للإنسان البقاء مدة شهر دون قضاء حاجته, ثم قال الرجل من المسجد, وترك الاجتماع

Orang itu mengingkari ceramah orang tadi. Sebab, tidak mungkin seseorang bertahan selama sebulan tanpa membuang hajat. Lalu orang tadi bangkit dan meninggalkan pertemuan di masjid itu.” (Kaifa Ihtadaitu Ilaa At-Tauhid wa Ash-Shirath Al-Mustaqiim)

Kisah yang disebutkan Syekh tadi menunjukkan bahwa di antara ciri khas kaum Sufi dan trik mereka untuk mencari pengikut yaitu dengan menyebutkan cerita-cerita yang bertentangan dengan akal sehat. Dan memang itulah pandangan umum kaum Sufi yaitu menjauh dari rasio (akal sehat) dan rasionalitas.

Contoh lain:

Asy-Sya’rani menyebutkan tentang tokoh Sufi Abu ‘Amru ‘Utsman bin Marzuq:

وكان الرجل العربي إذا اشتهى أن يتكلم بالعجمية أو العجمي يريد أن يتكلم بالعربية يتفل في فمه فيصير يعرف تلك اللغة كأنها لغته الأصلية

“Jika seorang Arab ingin berbicara dengan bahasa non Arab atau seorang non Arab ingin berbicara dengan bahasa Arab, maka Syekh meludah di mulutnya sehingga ia bisa mengetahui bahasa tersebut seakan-akan itu bahasa aslinya!” (Ath-Thabaqaat Al-Kubra karya Asy-Syarani)

Apakah yang seperti ini bisa diterima oleh akal sehat?!

Muhammad Al-‘Abdah dan Thariq ‘Abdul Halim berkata:

ولكن الصوفية كل شيء عندهم ممكن، وكل شيء يصدق مهما كانت غرابته، لأنه لا شيء يؤود على مشايخهم

“Namun, menurut kaum Sufi, segala sesuatu mungkin terjadi dan segala sesuatu bisa dibenarkan walau bagaimana pun anehnya. Sebab, tidak ada sesuatu yang sulit bagi guru-guru mereka.

وإذا رددت فأنت محجوب لا تفهم في مثل هذه الأمور

Dan jika engkau menolak itu, maka engkau terhalangi dari ilmu, tidak memahami perkara seperti itu.

ولذلك أصبحت قصصهم أضحوكة لأهل الأديان المنسوخة كما يقول الآلوسي

Karena itulah, kisah-kisah mereka jadi bahan tertawaan bagi pemeluk agama yang sudah terhapus, sebagaimana dikatakan oleh Al-Alusi. “(Ash-Shufiyyah Nasyatuha wa Tathawwuruha)

Ya, bagaimana tidak jadi bahan tawa, itu bertentangan dengan akal sehat kita!

 

Siberut, 20 Dzulqa’dah 1443

Abu Yahya Adiya