Suatu hari, Ṭāwus bin Kaisan sedang duduk bersama anaknya. Kemudian datang seorang dari kalangan Muktazilah lalu berbicara tentang sesuatu. Maka, Ṭāwus memasukkan dua jarinya ke kedua telinganya dan berkata:
يا بني أدخل أصبعك فِي أذنيك حتى لا تسمع من قوله شيئا فَإِن هَذَا القلب ضعيف
“Wahai anakku, masukkanlah jarimu ke telingamu sehingga tidak mendengar sedikit pun perkataannya, karena sesungguhnya hati ini lemah.”
Lalu ia berkata:
أي بني أسدد
“Wahai anakku tutuplah telingamu!”
Ma’mar yang meriwayatkan kisah ini berkata:
فما زال يَقُول أسدد حتى قَامَ الآخر
“Ia terus berkata kepada anaknya agar menutup telinganya hingga orang itu pergi.” (Talbīs Iblīs)
Inilah yang dilakukan oleh Ṭāwus bin Kaisan, seorang ulama tabiin terhadap seorang Muktazilah. Ia tidak mau berbicara dengannya dan tidak pula memberikan kesempatan berbicara kepadanya.
Mengapa demikian? Beliau menyebutkan alasannya yakni, “Karena sesungguhnya hati ini lemah.”
Ya, hati itu lemah dan mudah terpedaya, sedangkan racun Muktazilah dapat menerkam dan memangsa.
Kalau demikian keadaan seorang ulama yang luas keilmuannya, bagamana pula dengan keadaan kita?!
Sufyān Aṡ-Ṡaurī berkata:
من أصغى بسمعه إلى صاحب بدعة، وهو يعلم، خرج من عصمة الله، ووكل إلى نفسه
“Siapa yang mengarahkan pendengarannya kepada ahli bidah dalam keadaan mengetahuinya, maka ia telah keluar dari perlindungan Allah dan diserahkan kepada dirinya sendiri.” (Siyar A’lām An-Nubalā‘)
Syekh Muḥammad Al-Magrawī berkata:
انظر رحمك الله فعل هؤلاء السلف مع المبتدعة، لا يتحملون سماع كلامهم فضلا عن محادثتهم، فضلا عن مودتهم، فضلا عن مساعدتهم، فضلا عن إيوائهم، فقد أدوا رحمهم الله ما عليهم. وأما نحن فالله يعلم حالنا والله المستعان.
“Lihatlah, semoga Allah merahmatimu, perbuatan oleh para salaf (pendahulu) tersebut terhadap para pembuat bidah, mereka tidak tahan mendengar perkataan mereka apalagi mengajak bicara mereka, apalagi menyayangi mereka, apalagi membantu mereka, apalagi menampung mereka. Mereka telah melaksanakan apa yang menjadi kewajiban mereka, semoga Allah merahmati mereka. Adapun kita, maka Allah mengetahui keadaan kita, dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.” (Mausū’ah Mawāqif As-Salaf fī Al-‘Aqidah wa Al-Manhaj wa At-Tarbiyah)
Kalau para salaf saja menjaga telinga mereka dari ucapan orang-orang yang bermasalah, lantas apakah kita justru sengaja mendengar ucapan orang-orang bermasalah dengan alasan mengambil kebaikan dari mereka?
Maka, jagalah telinga kita dari racun yang bisa merusak hati kita dan menggerogoti akidah kita.
Imam Muḥammad bin Sīrīn berkata:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, karena itu tengoklah dari siapa kalian mengambil agama kalian?” (Ṣaḥīḥ Muslim)
Siberut, 2 Rabī’ul Ṡāni 1447
Abu Yahya Adiya






