Apa Itu Al-Quran?

Apa Itu Al-Quran?

Tatkala sekte Jahmiyyah dan Muktazilah menolak sifat berkata bagi Allah, lantas apa pendapat mereka tentang Al-Quran?

Mereka tidak mengakui bahwa Al-Quran adalah perkataan Allah. Mereka berpendapat bahwa Al-Quran adalah ciptaan Allah (makhluk).

Dalam arti, Allah menciptakan suatu perkataan yaitu Al-Quran, dan itu tanpa mengucapkan dan mengatakannya!

Dan tatkala sekte Kullabiyyah dan Asy’ariyyah hanya menetapkan perkataan batin (kalam nafsi) bagi Allah yaitu tanpa huruf dan suara, lantas apa pendapat mereka tentang Al-Quran?

Syekh ‘Abdur Razzaq Al-Badr berkata:

والأشاعرة والكلابية أيضاً يقولون بخلق القرآن، ولكن لا يصرحون بذلك، ويقولون: الكلام نوعان

“Asy’ariyyah dan Kullabiyyah juga berpendapat bahwa Al-Quran adalah makhluk. Namun, mereka tidak menyatakan itu dengan jelas. Mereka mengatakan bahwa perkataan itu ada dua macam:

كلام نفسي ليس بحرف ولا صوت وهذا يضيفونه إلى الله

Perkataan batin (kalam nafsi) tanpa huruf dan suara. Dan ini mereka sandarkan kepada Allah.

أما الكلام اللفظي الذي يشتمل على الحرف والصوت والذي هو القرآن فهو مخلوق، وهو عبارة أو حكاية عن كلام الله وليس كلام الله بل هو مخلوقٌ من جمل سائر المخلوقات، وبذلك يلتقون مع الجهمية.

Adapun perkataan lahir (kalam lafzhi) yang mengandung huruf dan suara-yang mana itu adalah Al-Quran-, maka itu adalah makhluk (ciptaan Allah). Dan itu adalah ungkapan atau hikayat tentang perkataan Allah, dan bukan perkataan Allah. Bahkan itu adalah salah satu ciptaan Allah. Dengan itu mereka sejalan dengan Jahmiyyah…” (At-Tuhfah As-Saniyyah Syarh Manzhumah Ibn Abi Daud Al-Haiyyah)

 

Keyakinan Ahlussunnah wal Jamaah Tentang Al-Quran

Adapun para pengikut Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya yaitu Ahlussunnah wal Jama’ah, mereka berkeyakinan bahwa Al-Quran adalah perkataan Allah, baik maknanya maupun lafalnya. Dan itu bukan makhluk (ciptaan Allah).

Imam Abu Hanifah berkata:

والقرآن كَلَام الله تَعَالَى فِي الْمَصَاحِف مَكْتُوب وَفِي الْقُلُوب مَحْفُوظ وعَلى الألسن مقروء وعَلى النَّبِي عَلَيْهِ الصَّلَاة وَالسَّلَام منزل…. وَالْقُرْآن غير مَخْلُوق

“Al-Quran adalah perkataan Allah, dalam mushaf ia tertulis, dalam hati ia terjaga, dan dengan lisan terbaca, dan kepada Nabi ﷺ ia diturunkan….dan Al-Quran bukanlah makhluk (ciptaan Allah).” (Al-Fiqh Al-Akbar)

Imam Malik berkata:

الْقُرْآنُ كَلَامُ اللَّهِ , وَكَلَامُ اللَّهِ مِنَ اللَّهِ، وَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ شَيْءٌ مَخْلُوقٌ

“Al-Quran adalah perkataan Allah, sedangkan perkataan Allah itu dari Allah, dan tidak ada dari Allah sesuatu yang diciptakan.” (Asy-Syariah)

Imam Asy-Syafi’i berkata:

من قال لفظي بالقرآن مخلوق فهو كافر.

“Siapa yang berkata, ‘Bacaan Al-Quranku adalah makhluk’, maka ia telah kafir!” (Juzu Fiihi Dzikri I’tiqad As-Salaf Fi Al-Huruf wa Al-Ashwat)

Imam Ahmad bin Hanbal berkata:

والقرآن كلام الله، وليس بمخلوق

“Al-Quran adalah perkataan Allah dan bukan makhluk (ciptaan Allah).” (Ushul As-Sunnah)

Imam ‘Amru bin Dinar berkata:

أدركت مشايخنا والناس منذ سبعين سنة يقولون: القرآن كلام الله منه بدا وإليه يعود

“Aku mendapati guru-guru kami dan orang-orang sejak 70 tahun lalu berpendapat bahwa Al-Quran adalah perkataan Allah, dari-Nya bermulai dan kepada-Nya akan kembali.” (Al-Iqtishad Fii Al-I’tiqad)

Imam Ibnu Khuzaimah berkata:

القرآن كلام الله، ومن قال إنه مخلوق فهو كافر يستتاب فإن تاب وإلا قتل ولا يدفن في مقابر المسلمين.

“Al-Qur’an adalah perkataan Allah. Siapa yang berkata bahwa Al-Quran adalah makhluk (ciptaan Allah), maka ia telah kafir dan harus diminta taubat. Kalau ia bertobat, maka itu diterima. Kalau tidak mau, maka ia dihukum mati dan tidak boleh dikuburkan di pekuburan kaum muslimin.” (Tadzkirah Al-Huffazh)

 

Apa Dalil Mereka?

  1. Allah berfirman:

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ

“Dan jika di antara kaum musyrikin ada yang meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah agar ia dapat mendengar perkataan Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya.” (QS. At-Taubah: 6)

Perkataan Allah di sini yaitu Al-Quran.

Syekh As-Sa’di berkata:

وفي هذا حجة صريحة لمذهب أهل السنة والجماعة، القائلين بأن القرآن كلام الله غير مخلوق، لأنه تعالى هو المتكلم به

“Dalam ayat ini terdapat hujah yang jelas bagi pendapat Ahlussunnah wal Jamaah yang menyatakan bahwa Al-Quran adalah perkataan Allah, bukan makhluk. Sebab, Dialah yang mengucapkannya.” (Taisiir Al-Karim Ar-Rahman Fii Tafsiir Kalaam Al-Mannaan)

 

  1. Allah berfirman:

وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Sungguh, telah Kami buatkan dalam Al-Qur’an ini segala macam perumpamaan bagi manusia agar mereka dapat pelajaran. (yaitu) Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya).” (QS. Az-Zumar: 27-28)

Apa maksud Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya)?

Ibnu ‘Abbas berkata:

غَيْرَ مَخْلُوقٍ.

“Yaitu bukan makhluk (ciptaan Allah).” (Asy-Syariah)

 

  1. Nabi ﷺ bersabda:

أَلَا رَجُلٌ يَحْمِلُنِي إِلَى قَوْمِهِ فَإِنَّ قُرَيْشًا قَدْ مَنَعُونِي أَنْ أُبَلِّغَ كَلَامَ رَبِّي

“Tidakkah ada orang yang bersedia mengantarkanku kepada kaumnya? Sesungguhnya suku Quraisy telah melarangku menyampaikan perkataan Tuhanku.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Perkataan Tuhanku yaitu Al-Quran.

 

Imam Al-‘Azhim Abadi mengomentari sabda Nabi ﷺ ini:

وَلَنِعْمَ مَا قِيلَ وَمَا الْقُرْآنُ مَخْلُوقًا

“Dan alangkah baiknya apa yang dikatakan di sini dan Al-Quran bukanlah makhluk.” (‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud)

 

  1. Allah telah mengabarkan dalam surat Ar-Ruum bahwa Romawi akan mengalahkan Persia dalam suatu peperangan.

Abu Bakar Ash-Shiddiq mengabarkan itu kepada kaum musyirikin Mekah. Ternyata, kabar itu benar-benar terbukti. Romawi benar-benar mengalahkan Persia dalam suatu peperangan.

Abu Bakar membacakan ayat Al-Quran yang mengabarkan demikian, maka kaum musyrikin bertanya:

كَلَامُكَ هَذَا أَمْ كَلَامُ صَاحِبِكَ؟

“Ini perkataanmu atau perkataan temanmu?”

Abu Bakar menjawab:

لَيْسَ بِكَلَامِي وَلَا كَلَامِ صَاحِبِي؛ وَلَكِنَّهُ كَلَامُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Ini bukan perkataanku, dan bukan pula perkataan temanku. Akan tetapi ini adalah perkataan Allah.” (Al-Asma wa Ash-Shifaat)

Masih banyak lagi ayat dan hadis yang menunjukkan bahwa Al-Quran adalah perkataan Allah dan bukan ciptaan Allah.

Mungkin ada yang bertanya, “Apa masalahnya kalau kita mengatakan Al-Quran adalah ciptaan Allah?”

Jawabannya: tentu saja itu bermasalah. Bahkan itu masalah yang sangat besar!

 

Konsekuensi dari Pendapat Bahwa Al-Quran Adalah Makhluk

  1. Jika kita mengatakan bahwa Al-Quran adalah makhluk (ciptaan Allah), maka konsekuensinya kita menganggap ada kekurangan dan kekeliruan dalam Al-Quran.

Sebab, makhluk itu tidak sempurna. Sebaik-baik makhluk tetap saja memiliki kekurangan dan kekeliruan.

Lantas, beranikah kita menyatakan bahwa Al-Quran mengandung kekurangan dan kekeliruan?!

Berbeda halnya kalau kita katakan bahwa Al-Quran adalah perkataan Allah. Berkata itu termasuk sifat Allah, sedangkan sifat Allah tidak mungkin mengandung kekurangan dan kekeliruan.

 

  1. Jika kita mengatakan bahwa Al-Quran adalah makhluk (ciptaan Allah), maka konsekuensinya kita menganggap bahwa Allah tidak berbicara.

Selain bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah, anggapan ini tentu saja bertentangan dengan akal sehat dan fitrah yang lurus!

 

  1. Jika kita mengatakan bahwa Al-Quran adalah makhluk (ciptaan Allah), maka konsekuensinya berkurang atau hilangnya keagungan Al-Quran di dalam hati kita.

Kalau seseorang sudah menganggap bahwa Al-Quran adalah makhluk, maka ia akan meremehkannya dan tidak mempedulikannya.

Dan kalau orang-orang sudah meremehkannya dan tidak mempedulikannya, maka runtuhlah syariat-Nya.

Syekh Saleh Al-Fauzan berkata:

فإذا نفينا أن القرآن كلام الله، إذًا ماذا يبقى معنا؟ وبالتالي تبطل الشريعة، إذا هدم الدليل الأول لها والمصدر الأول بها بطلت الشريعة

“Jika kita tolak bahwa Al-Quran adalah perkataan Allah, maka apa lagi yang tersisa bersama kita? Selanjutnya runtuhlah syariat. Jika dalil pertama dan sumber pertama dalam syariat sudah dihancurkan, maka runtuhlah syariat.” (Syarh Risalah Al-Imam Al-Mujaddid Muhammad bin ‘Abdul Wahhab)

 

Siberut, 12 Shafar 1443

Abu Yahya Adiya