2 Macam Kehendak-Nya

2 Macam Kehendak-Nya

Apakah yang Allah kehendaki pasti terjadi?

Apakah yang Allah kehendaki pasti Dia cintai?

 

Pendapat Muktazilah dan Qadariyyah

Sekte Muktazilah dan Qadariyyah berpendapat bahwa apa pun yang Allah kehendaki pasti terjadi, kecuali kekafiran, kemusyrikan, dan kerusakan lainnya. Semua itu tidak dikehendaki Allah, makanya itu semua terjadi tanpa campur tangan-Nya dan di luar kehendak-Nya.

Kalau memang semua perkara buruk itu terjadi di luar kehendak-Nya, maka tentu saja Dia tidak mencintainya dan tidak menyukainya.

 

Bantahan

Tentu saja pendapat mereka batil. Sebab, Allah berfirman:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Dan Allah menciptakan kalian dan apa yang kalian lakukan.” (QS. Ash-Shaffaat: 96)

Ayat ini menunjukkan bahwa semua yang dilakukan hamba telah Allah takdirkan, termasuk perbuatan buruknya.

 

Pendapat Asy’ariyyah dan Sufi Ekstrem

Mayoritas tokoh Asy’ariyyah berpendapat bahwa apa pun yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa pun yang Dia kehendaki, pasti Dia cintai dan Dia sukai. Termasuk di dalamnya kekafiran, kemusyrikan, dan kerusakan lainnya.

Mereka berkata:

فالمعاصي والكفر كلها محبوبة لله لأن الله شاءها وخلقها

“Maksiat dan kekafiran semuanya disukai oleh Allah. Sebab, Allah menghendakinya dan menciptakannya.”

Dan serupa dengan pendapat ini yaitu pendapat kaum Sufi ekstrem.

Mereka berpendapat bahwa apa yang Allah sukai dan Dia ridai adalah apa yang terjadi. Apa pun yang terjadi, pasti Dia menyukainya dan meridainya. Sedangkan apa yang tidak terjadi, maka pasti Dia tidak menyukainya dan tidak meridainya.

Menurut mereka, apa pun yang terjadi, maka itu mengikuti takdir dan kehendak-Nya dan itu Dia cintai.

Berdasarkan pendapat ini, Iblis, semua orang kafir, orang sesat, dan pelaku maksiat adalah orang-orang yang menaati Allah. Karena, perbuatan mereka sudah sesuai dengan takdir-Nya.

Bisa jadi, inilah rahasianya kenapa kaum Sufi ekstrem sampai melakukan penyimpangan yang sangat parah dalam masalah akidah dan akhlak.

Seperti ucapan tokoh Sufi:

وما الكلب والخنزير إلا إلهنا  وما الله إلا راهب في كنيسة

“Tidaklah anjing dan babi itu melainkan sembahan kita. Dan tidaklah Allah itu melainkan seorang rahib di gereja!”

Dan masih banyak lagi penyimpangan dan kekafiran yang muncul dari mereka dan tidak pernah muncul dari kaum kafir asli yaitu orang-orang yang asal mereka adalah kafir.

 

Bantahan

Tentu saja pendapat mereka batil. Sebab, Allah berfirman:

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ

“Jika kalian kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan kalian dan Dia tidak meridai kekafiran hamba-hama-Nya.” (QS. Az-Zumar: 7)

Allah berfirman:

وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ

“Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS. Al-Baqarah: 205)

Imam Ath-Thabari menerangkan maksud ayat ini yaitu:

والله لا يحب المعاصيَ، وقطعَ السبيل، وإخافة الطريق

“Allah tidak menyukai kemaksiatan, mengganggu dan membuat ketakutan di jalan.” (Jami Al-Bayan Fii Tawiil Al-Quran)

2 ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa Allah membenci kekafiran, kemaksiatan dan kerusakan lainnya.

 

Keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah

Adapun Ahlussunnah wal Jama’ah, maka mereka meyakini bahwa apa yang Allah kehendaki pasti terjadi. Dan apa yang Dia kehendaki belum tentu Dia cintai.

Sebab, kehendak Allah itu terbagi menjadi 2:

  1. Kehendak-Nya yang berhubungan dengan alam (iradat kauniah)

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

فما كان بمعنى المشيئة فهو إرادة كونية

“Apa yang bermakna ‘ingin’, maka itu adalah iradat kauniah.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Al-‘Utsaimin)

Kalau dalam Al-Quran dan Hadis disebutkan bahwa “Allah menghendaki” dan maknanya adalah “ingin”, maka itu adalah iradat kauniah (kehendak-Nya  yang berhubungan dengan alam) dan itu pasti terjadi.

Apa contohnya?

Allah berfirman:

وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا

“Siapa yang Dia kehendaki menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak.” (QS. Al-An’aam: 125)

Maksud siapa yang Dia kehendaki menjadi sesat di sini yaitu siapa yang ingin Dia sesatkan. Bukan siapa yang Dia sukai untuk disesatkan. Sebab, Allah tidak suka hamba-hamba-Nya sesat.

Itu adalah kehendak-Nya  yang berhubungan dengan alam (iradat kauniah) dan kehendak itu pasti terjadi. Pasti ada orang yang Dia sesatkan.

 

  1. Kehendak-Nya yang berhubungan dengan syariat (iradat syar’iyyah)

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

وما كان بمعنى المحبة فهو إرادة شرعية

“Dan apa yang bermakna ‘suka’, maka itu adalah iradat syar’iyyah.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Al-‘Utsaimin)

Kalau dalam Al-Quran dan Hadis disebutkan bahwa “Allah menghendaki” dan maknanya adalah “suka”, maka itu adalah iradat syar’iyyah (kehendak-Nya yang berhubungan dengan syariat) dan itu tidak mesti terjadi.

Apa contohnya?

Allah berfirman:

وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ

“Dan Allah hendak menerima tobat kalian.” (QS. An-Nisa: 27)

Maksud Allah hendak menerima tobat kalian di sini yaitu Allah suka untuk menerima tobat kalian. Bukan Allah ingin menerima tobat kalian. Sebab, Dia tidak menerima semua tobat.

Itu adalah kehendak-Nya  yang berhubungan dengan syariat (iradat syar’iyyah) dan kehendak itu tidak mesti terjadi. Ada saja tobat hamba-Nya yang tidak Dia terima.

 

Perbedaan Antara 2 Kehendak-Nya

Setelah mengetahui pengertian 2 kehendak tadi beserta contohnya, maka bisa disimpulkan bahwa:

  1. Kehendak-Nya yang berhubungan dengan alam (iradat kauniah) itu pasti terjadi, sedangkan kehendak-Nya yang berhubungan dengan syariat (iradat syar’iyyah) belum tentu itu terjadi.
  2. Kehendak-Nya yang berhubungan dengan syariat (iradat syar’iyyah) pasti Dia cintai. Sedangkan kehendak-Nya yang berhubungan dengan alam (iradat kauniah) belum tentu Dia cintai.

Abu Lahab mati dalam keadaan kafir.

Itu merupakan iradat kauniah-Nya. Sebab, kenyataannya ia mati dalam keadaan kafir. Namun, itu bukan merupakan iradat syar’iyyah-Nya. Sebab, Allah tidak menyukai kekafiran.

Abu Thalib mati dalam keadaan muslim.

Itu merupakan iradat syar’iyyah-Nya. Sebab, Allah menyukai keislaman seseorang. Namun, itu bukan merupakan iradat kauniah-Nya. Sebab, kenyataannya Abu Thalib mati dalam keadaan kafir.

Pertanyaan: “Apakah bisa kita katakan bahwa Allah menghendaki kemaksiatan?”

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

فنقول: يريدها كونا لا شرعا؛ لأن الإرادة الشرعية بمعنى المحبة والله لا يحب المعاصي، ولكن يريدها كونا أي مشيئة فكل ما في السماوات والأرض فهو بمشيئة الله.

“Maka kita katakan bahwa Allah menghendakinya secara kauniah, bukan secara syariat. Sebab, iradat syar’iyyah bermakna suka. Dan Allah tidak menyukai kemaksiatan. Namun, Dia menghendakinya secara kauniah yaitu menginginkannya. Setiap apa yang ada di langit dan bumi, maka itu berdasarkan keinginan Allah.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Al-‘Utsaimin)

Pertanyaan: “Bagaimana mungkin Allah menginginkan terjadinya sesuatu padahal Dia tidak menyukainya?!”

Jawaban: mungkin saja. Karena adanya hikmah yang agung di balik itu.

Seperti halnya manusia. Kadang ia menginginkan sesuatu, padahal ia sendiri tidak menyukainya. Karena adanya manfaat di balik itu.

Apa contohnya?

Al-‘Allamah Shiddiq Hasan Khan berkata:

فإن الإنسان قد يريد شيئاً ولا يحبه كالدواء المر يتناوله ولا يحبه

“Seseorang bisa jadi menginginkan sesuatu, padahal ia tidak menyukainya. Seperti obat yang pahit. Ia memakannya, padahal ia tidak menyukainya.” (Fath Al-Bayan Fii Maqashid Al-Quran)

 

Siberut, 14 Shafar 1443

Abu Yahya Adiya