Kalau ada orang yang bisa berbicara lalu kita katakan bahwa ia tidak bisa berbicara, maka apakah itu perkataan yang layak baginya?
Tentu saja tidak. Itu perkataan yang sangat tidak layak dan penghinaan terhadap dirinya.
Nah, kalau itu saja dianggap sebagai penghinaan, maka bagaimana pula jika kita sampai mengatakan bahwa Allah tidak bisa berbicara?!
Bukankah itu benar-benar penghinaan terhadap-Nya?
Di masa generasi awal umat ini, yaitu para sahabat dan tabiiin, keyakinan umat Islam masih lurus dan berada dalam fitrah mereka.
Namun, tatkala ilmu filsafat Yunani, dan berbagai pemikiran orang-orang kafir masuk ke tengah-tengah umat Islam, maka muncullah berbagai sekte dan berbagai pendapat yang menyimpang dari ajaran Islam dan fitrah yang lurus. Di antaranya yaitu terkait perkataan Allah.
Pendapat Menyimpang Tentang Perkataan Allah
Ada pendapat menyimpang tentang perkataan Allah:
- Allah tidak berkata dan tidak memiliki sifat berkata!
Ini adalah pendapat sekte Jahmiyyah dan Muktazilah.
Apa alasan mereka?
Berkata adalah sifat makhluk, sedangkan Allah tidak sama dengan makhluk. Makanya, Allah tidak mungkin berkata!
- Allah berkata, tapi dengan perkataan batin (kalam nafsi) yaitu perkataan yang ada dalam batin-Nya, tanpa huruf dan suara!
Ini adalah pendapat sekte Kullabiyyah dan Asy’ariyyah.
Apa alasan mereka?
Serupa dengan sekte Jahmiyyah dan Muktazilah, yaitu berkata dengan suara dan huruf adalah sifat makhluk, sedangkan Allah tidak sama dengan makhluk. Makanya, Allah tidak mungkin berkata dengan suara dan huruf!
Tentu saja semua pendapat ini batil.
Selain bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah, itu juga bertentangan dengan akal sehat dan fitrah yang lurus!
Sebab, kesamaan nama sifat tidak menunjukkan kesamaan hakikat.
Bantahan terhadap alasan mereka bisa kita ketahui dengan menengok dalil-dalil pendapat golongan yang berseberangan dengan mereka, yaitu Ahlussunnah wal Jama’ah.
Pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah
Adapun pengikut Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, yaitu Ahlussunnah wal Jama’ah, mereka berpendapat bahwa Allah berkata sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.
Dia berkata dengan apa yang Dia kehendaki, pada waktu yang Dia kehendaki, dan dengan cara yang Dia kehendaki.
Dan perkataan-Nya itu benar-benar nyata dengan huruf dan suara.
Imam ‘Abdul Ghani Al-Maqdisi berkata:
ومن مذهب أهل الحق أنَّ الله عز وجل لم يزل متكلماً بكلام مسموع، مفهوم، مكتوب.
“Dan di antara pendapat orang-orang yang berpegang pada kebenaran yaitu bahwa Allah senantiasa berbicara dengan perkataan yang didengar, dipahami dan ditulis.” (‘Aqidah Al-Hafizh ‘Abdil Ghani Al-Maqdisi)
Apa dalil Ahlussunnah wal Jama’ah?
- Allah menceritakan tentang Nabi Musa:
فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ يَا مُوسَى إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى وَأَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي
“Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: ‘Hai Musa. Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu, maka lepaskanlah kedua terompahmu. Sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilihmu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thahaa: 11-14)
Lihatlah, ia dipanggil!
Imam An-Nawawi berkata:
والنداء لايكون إلا بصوت عند جميع أهل اللغة
“Panggilan tidak mungkin terjadi kecuali dengan suara menurut semua ahli bahasa.” (Juzu fiihi Dzikru I’tiqad As-Salaf fi Al-Huruuf wa Al-Ashwaath)
Dan lihatlah, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). ‘Sesungguhnya Aku ini adalah Allah…!
Itu semua menunjukkan dengan jelas bahwa Allah berkata dan perkataan-Nya dengan huruf dan suara.
- Nabi ﷺ bersabda:
يَحْشُرُ اللَّهُ العِبَادَ، فَيُنَادِيهِمْ بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مَنْ بَعُدَ كَمَا يَسْمَعُهُ مَنْ قَرُبَ:
“Allah mengumpulkan hamba-hamba-Nya lalu memanggil mereka dengan suara yang bisa didengar oleh orang yang jauh sebagaimana bisa didengar oleh orang yang dekat:
أَنَا المَلِكُ، أَنَا الدَّيَّانُ
“Akulah Raja dan Akulah Maha Pembalas.” (HR. Bukhari)
Lihatlah, lalu memanggil mereka dengan suara yang bisa didengar!
Itu menunjukkan dengan jelas bahwa Allah berkata dan perkataan-Nya dengan huruf dan suara.
- Imam An-Nawawi berkata:
وروي أن الإمام أحمد بن حنبل سئل عن رجل قال: إن الله لا يتكلم بصوت ولم يكلم موسى بصوت. فقال:
“Dan diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang seseorang yang berkata bahwa Allah tidak berbicara dengan suara dan tidak mengajak Musa berbicara dengan suara. Maka Imam Ahmad pun berkata:
هذا جهمي كافر عدو الله وعدو الإسلام أما سمع ما قال ابن مسعود: إذا تكلم الله بالوحي سمع صوته أهل السماء. وهذا لا يقوله ابن مسعود بالاجتهاد من تلقاء نفسه.
“Ini seorang Jahmiyyah, kafir, musuh Allah dan musuh Islam! Apakah ia tidak mendengar apa yang dikatakan Ibnu Mas’ud: ‘Jika Allah mengucapkan wahyu, maka suara-Nya terdengar oleh penduduk langit’? Yang seperti ini dikatakan oleh Ibnu Mas’ud bukan dari hasil ijtihadnya sendiri!” (Juzu Fiihi Dzikru I’tiqad As-Salaf fi Al-Huruuf wa Al-Ashwaath)
Riwayat ini juga menunjukkan dengan jelas bahwa Allah berkata dan perkataan-Nya dengan huruf dan suara, tapi….
Tatkala kita menyatakan bahwa perkataan Allah dengan huruf dan suara, bukan berarti kita menyerupakan-Nya dengan makhluk-Nya, sebagaimana klaim sekte Jahmiyyah, Muktazilah, Kullabiyyah dan Asy’ariyyah.
Syekh ‘Abdur Razzaq Al-Badr berkata:
وعندما نقول: إنَّ كلام الله بحرف وصوت يسمع فإنَّه لا يلزم منه تشبيه الله عز وجل بالمخلوقين، بل هذا كلام يخصه ويليق به سبحانه
“Tatkala kita berkata bahwa perkataan Allah itu dengan huruf dan suara yang terdengar, maka tidak mesti itu adalah menyerupakan Allah dengan makhluk. Bahkan, ini adalah perkataan yang khusus dan layak bagi-Nya.” (Tadzkirah Al-Mu’tasii Syarh ‘Aqidah Al-Hafizh ‘Abdil Ghani Al-Maqdisi)
Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani berkata:
وهذه الآيات والأخبار تدل على أن كلام الله عز وجل صوت لا كصوت الآدميين، كما أن علمه وقدرته وبقية صفاته لا تشبه صفات الآدميين، كذلك صوته.
“Ayat-ayat dan hadis-hadis ini menunjukkan bahwa perkataan Allah adalah suara, tapi tidak seperti suara manusia. Sebagaimana ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, dan sifat-sifat-Nya yang lain tidak menyerupai sifat manusia, maka begitu pula suara-Nya.” (Al-Ghunyah li Thaalib Thariq Al-Haq ‘Azza wa Jalla)
Siberut, 9 Shafar 1443
Abu Yahya Adiya






