Ciri Ahli Bidah dalam Menyikapi Dalil

Ciri Ahli Bidah dalam Menyikapi Dalil

Ahli bidah memiliki beberapa ciri yang bisa kita amati.

Di antara kebiasaan dan ciri khas para ahli bidah adalah…

“Yakini dulu, baru cari dalil!”

“Simpulkan terlebih dahulu, baru lakukan pencarian!”

Apabilal mereka hendak meyakini atau melakukan suatu bidah, mereka terlebih dahulu menganggap baik keyakinan atau perbuatan tersebut. Setelah itu, barulah mereka mencari-cari “dalil” untuk melegalkan keyakinan atau perbuatan mereka itu.

Syekh Sa’īd bin Nāṣir Al-Gāmidī berkata:

وهذا هو دأب أهل البدع، يضعون أهوائهم أولاً، ثم يطلبون الأدلة عليه من الشرع وكلام العرب، بعكس أهل الحق فإنهم يضعون الدليل أولاًن ثم ينقادون له فيعتقدون ويحكمون بعد ما يستدلون.

“Inilah kebiasaan ahli bidah. Mereka menempatkan hawa nafsu mereka terlebih dahulu, lalu mencari dalil yang menunjukkan hal itu dari syariat dan perkataan orang-orang Arab. Berbeda dengan orang-orang yang berpegang pada kebenaran. Mereka menempatkan dalil terlebih dahulu, kemudian tunduk kepadanya lalu meyakininya dan memberikan keputusan setelah berdalil dengannya.” (Ḥaqīqah Al-Bid’ah wa Aḥkāmuhā)

 

Jika Ada Dalil yang Membantah Mereka

Jika para ahli bidah ingin melakukan suatu perbuatan bidah dan menginginkan perbuatan tersebut diterima oleh orang lain, tentu keinginan itu tidak akan terwujud apabila mereka mengetahui adanya dalil yang bertentangan dengan bidah yang mereka lakukan.

Lantas, apa yang “harus” mereka lakukan agar keinginan tersebut tercapai?

Dan bagaimana sikap yang “harus” mereka ambil terhadap dalil yang menghalangi keinginan mereka?

Syekh Sa’īd bin Nāṣir Al-Gāmidī berkata:

وأهل الأهواء إذا وجدوا الأدلة على خلاف ما يعتقدون، أولوها وحرفوها وصرفوها عن حقيقة معناها.

“Para pengikut hawa nafsu, apabil mendapati dalil-dalil bertentangan dengan apa yang mereka yakini, mereka akan menakwilkan, menyimpangkan, dan memalingkannya dari makna yang sebenarnya.” (Ḥaqīqah Al-Bid’ah wa Aḥkāmuhā)

Itulah kebiasaan para ahli bidah, seperti yang dilakukan oleh kelompok Asy’ariyyah terhadap firman Allah:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Tuhan Yang Maha Pemurah, yang tinggi di atas ‘Arsy.” (QS. Ṭāhā: 5)

Kata اسْتَوَى di dalama ayat tersebut maknanya jelas, yaitu:

الْعُلُوّ والارتفاع

“Tinggi dan berada di atas.” (Al-’Aqīdah Riwāyah Abī Bakr Al-Khallāl)

Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa Allah tinggi di atas Arsy.

Ayat tersebut membantah sebagian kelompok Asy’ariyyah yang berpendapat bahwa Allah ada di mana-mana, serta sebagian lainnya yang berpendapat bahwa Allah tidak di atas dan tidak di bawah, tidak di luar alam dan tidak pula di dalam alam!

Lantas, bagaimana sikap mereka terhadap ayat tersebut?

Apakah mereka berani mendustakannya atau menolaknya?

Tentu saja tidak. Apabila mereka berani mendustakan atau menolaknya, maka akan tampaklah kekafiran mereka.

Lalu, apa yang mereka lakukan?

Mereka “mengganti” kata اسْتَوَى (tinggi di atas) dengan اسْتَولى (menguasai)!

Dengan demikian, makna ayat tersebut menurut mereka adalah bahwa Allah menguasai Arsy, bukan tinggi di atas Arsy!

Mereka pun menyelewengkan ayat tersebut!

Mengapa mereka bisa berbuat demikian?

Sebab mereka mengikuti hawa nafsu, bukan wahyu!

Syekhul Islam berkata:

وَأَضَلُّ الضَّلَالِ ” اتِّبَاعُ الظَّنِّ وَالْهَوَى

“Pokok dari kesesatan adalah mengikuti prasangka dan hawa nafsu.” (Majmū’ Al-Fatāwā)

 

Siberut, 23 Sya’bān 1442

Abu Yahya Adiya

 

Sumber: Ḥaqīqah Al-Bid’ah wa Aḥkāmuhā karya Sa’īd bin Nāṣir Al-Gāmidī.