Penyembah Allah: Sudah sangat jelas bahwa siapa pun yang melakukan syirik, kekafiran dan pembatal Islam, maka ia telah kafir, walaupun ia masih melakukan berbagai syariat Islam yang ada.
Dan kadang, seseorang itu terjatuh dalam kekafiran dan kemusyrikan, tapi tidak menyadarinya.
Penyembah kubur: Apa maksud Anda? Berikan contohnya!
Penyembah Allah: Allah menyebutkan keadaan Bani Israel tatkala mereka sudah selamat dari kejaran Firaun dan bala tentaranya:
وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُمْ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
“Dan Kami selamatkan Bani Israel menyeberangi laut itu. Ketika mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala, mereka (Bani Israel) berkata. ‘Hai Musa, buatlah untuk kami sembahan (berhala) sebagaimana mereka memiliki beberapa sembahan (berhala).’ Musa menjawab, ‘Sesungguhnya kalian ini orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raaf: 138)
Bukankah Bani Israel lebih berilmu dibandingkan bangsa-bangsa yang lain ketika itu?
Penyembah kubur: Ya, betul.
Penyembah Allah: Walaupun begitu, lihatlah, mereka menyekutukan Allah dan ingin menyembah berhala!
Penyembah kubur: Itu kan Bani Israel, umat terdahulu.
Penyembah Allah: Ya, betul. Itu memang umat terdahulu. Namun, yang seperti itu mungkin saja terjadi pada umat ini.
Penyembah kubur: Apa buktinya?
Penyembah Allah: Suatu hari Abu Waqid Al-Laitsi dan beberapa orang yang baru masuk Islam pergi bersama Rasulullah ﷺ menuju Hunain untuk berperang.
Di saat itu, orang-orang musyrik memiliki sebatang pohon bidara yang dikenal dengan nama Dzatu Anwath. Mereka selalu mendatangi pohon tersebut dan menggantungkan senjata-senjata mereka padanya untuk mendapatkan berkah darinya.
Abu Waqid Al-Laitsi berkata:
فَمَرَرْنَا بِالسِّدْرَةِ، فَقُلْنَا:
“Kami pun melewati pohon bidara itu, lalu kami berkata:
يَا رَسُولَ اللهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ
“Wahai Rasulullah! Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka memilikinya.”
فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:
Maka Rasulullah ﷺ menjawab:
اللهُ أَكْبَرُ، إِنَّهَا السُّنَنُ، قُلْتُمْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ: {اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ}
“Allahu Akbar! Itulah tradisi (orang-orang sebelum kalian). Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian telah mengucapkan seperti yang dikatakan oleh Bani Israel kepada Musa, ‘Buatlah untuk kami sembahan sebagaimana mereka memiliki beberapa sembahan!’ Musa menjawab, ‘Sesungguhnya kalian ini orang-orang yang bodoh!’
لَتَرْكَبُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُم
Kalian pasti akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian.” (HR. Tirmidzi dan Ath-Thabrani)
Lihatlah, Rasulullah ﷺ menganggap perbuatan menjadikan pohon untuk menggantungkan senjata dan berdiam di sekitarnya sebagai penyembahan terhadapnya!
Bukankah mereka yang meminta itu sudah bersyahadat?
Penyembah kubur: Ya. Tapi kan mereka tidak kafir karena itu! Dan orang-orang Bani Israel yang meminta sembahan kepada Musa juga kan tidak kafir karena permintaan mereka itu!
Penyembah Allah: Ya, orang-orang dari Bani Israel itu memang tidak kafir.
Dan para sahabat Nabi yang meminta Dzatu Anwath itu juga tidak kafir.
Sebab, mereka tidak melakukan apa yang mereka minta.
Seandainya mereka tidak menaati rasul mereka, lalu melakukan apa yang mereka minta itu, tentu kafirlah mereka, berdasarkan kesepakatan para ulama.
Siberut, 2 Rabi’ul Tsani 1442
Abu Yahya Adiya
Sumber: Kasyf Asy-Syubhat karya Imam Muhammad At-Tamimi.






