Tatkala lisan sudah tidak sanggup lagi memerintahkan kebaikan atau melarang dari kemungkaran, diam menjadi pilihan dan itu adalah keselamatan.
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ صَمَتَ نَجَا
“Siapa yang diam, maka ia selamat.” (HR. Tirmidzi)
Bagaimana tidak selamat, dengan diam, kita terhindar dari perkataan yang haram.
Mu’adz bin Jabal pernah bertanya:
يَا نَبِيَّ اللهِ, وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُوْنَ بِمَا نَتَكَلًّمُ بِهِ؟
“Wahai Nabi Allah, apakah kami dihukum karena apa yang kami katakan?”
Nabi ﷺ pun menjawab:
وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِم
“Wahai Mu’adz, bukankah manusia itu dilemparkan ke dalam neraka dengan wajah tersungkur tidak lain karena hasil dari lisan-lisan mereka?” (HR. Tirmidzi)
Bagaimana tidak selamat, dengan diam dan menahan lisan, kita terhindar dari perkataan yang berlebihan.
Abu Hurairah berkata:
لا خير في فضول الكلام
“Tidak ada kebaikan pada berlebihan dalam berbicara.” (Bahjah Al-Majalis wa Uns Al-Majalis)
Bagaimana tidak selamat, dengan diam dan tidak banyak bicara, tidak mengeras hati kita.
Nabi ‘Isa berkata:
لَا تكثروا الْكَلَام بِغَيْر ذكر الله فتقسوا قُلُوبكُمْ
“Jangan banyak berbicara selain zikir kepada Allah, niscaya keraslah hati kalian.” (Adab Al-Mujalasah wa Hamd Al-Lisan)
Maka, kewajiban kita adalah menjaga dan mengontrol lisan kita.
Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz berkata:
فهذا اللسان خطره عظيم، فالواجب على المؤمن أن يحفظ لسانه، وأن يصونه عمَّا لا ينبغي، فإما أن يقول خيرًا، وإمَّا أن يسكت، هذا هو الواجب على المؤمن: الحذر من شرِّ لسانه، ولهذا يقول ﷺ
“Lisan ini bahayanya besar. Yang wajib atas seorang mukmin adalah menjaga lisannya dan memeliharanya dari segala yang tidak pantas. Hendaknya ia berkata baik atau diam. Inilah yang wajib atas seorang mukmin yaitu waspada dari keburukan lisannya. Karenanya Nabi ﷺ bersabda:
مَن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرًا أو ليصمت
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata baik atau diam.” (Syarh Riyadhush Shalihin)
Ya, berkata baik atau diam. Ucapkanlah perkataan yang baik untuk duniamu atau akhiratmu. Kalau tidak mampu, tahanlah lisanmu. Itu merupakan kebaikan bagimu.
Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz berkata:
فأنت يا عبدالله على خيرٍ إذا حفظت لسانك، وصنت لسانك، وأنت على خطرٍ إذا أطلقت هذا اللسان ولم تتحفظ.
“Engkau, wahai hamba Allah, berada di atas kebaikan jika engkau menjaga dan memelihara lisanmu. Dan engkau berada dalam bahaya jika melepaskan lisanmu ini dan tidak menjaganya.” (Syarh Riyadhush Shalihin)
Siberut, 17 Dzulqa’dah 1446
Abu Yahya Adiya
Sumber: https://binbaz.org.sa/audios/2402/113–%D9%85%D9%86-%D8%AD%D8%AF%D9%8A%D8%AB-%D9%85%D9%86-%D9%83%D8%A7%D9%86-%D9%8A%D9%88%D9%85%D9%86-%D8%A8%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D9%88%D8%A7%D9%84%D9%8A%D9%88%D9%85-%D8%A7%D9%84%D8%A7%D8%AE%D8%B1-%D9%81%D9%84%D9%8A%D8%AD%D8%B3%D9%86-%D8%A7%D9%84%D9%89-%D8%AC%D8%A7%D8%B1%D9%87






