Apakah kita memiliki aib yang masih Allah tutupi?
Kalau memang iya, maka ketahuilah, itu adalah nikmat besar yang harus disyukuri.
Karena, apa jadinya jika aib kita Allah tampakkan? Bukankah itu sangat menyengsarakan?
Imam Muhammad bin Wasi’ berkata:
لَوْ كَانَ لِلذُّنُوْبِ رِيْحٌ، مَا جَلَسَ إِلَيَّ أَحَدٌ
“Seandainya dosa itu memiliki aroma, tentu tidak ada seorang pun yang mau duduk denganku!” (Siyar Alam An-Nubala)
Kita dianggap baik karena Allah menutup aib kita!
Imam Abu Muhammad ‘Abdullah Al-Andalusi Al-Qahthani berkata:
وَاللهِ لَوْ عَلِمُواْ قَبِيحَ سَرِيرَتِي = لأَبَى السَّلاَمَ عَلَيَّ مَنْ يَلْقَانِي
“Demi Allah, seandainya mereka mengetahui buruknya hatiku, niscaya orang yang bertemu denganku enggan menyalamiku.
وَلأَعْرَضُواْ عَنَّي ، وَمَلُّواْ صُحْبَتِي = وَلَبُؤْتُ بَعْدَ كَرَامَةٍ بِهَوَانِ
Mereka akan berpaling dariku dan bosan berteman denganku. Dan aku akan menjadi hina setelah mulia.
لَكِنْ سَتَرْتْ مَعَايِبِي وَمَثَالِبي = وَحَلِمْتَ عَنْ سَقْطِي وَعَنْ طُغْيَانِي
Namun, Engkau menutupi aib dan kesalahanku. Dan Engkau bijak terhadap dosa dan sikapku yang melampaui batas.
فَلَكَ الْمَحَامِدُ وَالْمَدَائِحُ كُلُّهَا = بِخَوَاطِرِي ، وَجَوَارِحِي وَلِسَانِي
Bagi-Mu lah segala pujian dan sanjungan dengan hati, badan, dan lisanku.
وَلَقَدْ مَنَنْتَ عَلَيَّ رَبِّ بِأَنْعُمٍ = مَالِي بِشُكْرِ أَقَلِّهِنَّ يَدَانِ
Sungguh, Engkau, wahai Tuhanku, telah menganugerahiku berbagai kenikmatan, tapi aku sedikit sekali mensyukuri nikmat-nikmat itu.“ (An-Nuniyah Al-Qahthaniyyah)
Allah masih menutup aib dan kesalahan kita. Bukankah itu tanda bahwa Allah masih menyayangi kita?
Kalau sampai saat ini aib dan dosa kita masih Allah tutupi, maka pujilah Dia. Bersyukurlah kepada-Nya. Segeralah bertaubat kepada-Nya. Mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan sangat menyayangi hamba-hamba-Nya.
Nabi ﷺ mengabarkan peristiwa di akhirat nanti:
إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي المُؤْمِنَ، فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ، فَيَقُولُ:
“Sesungguhnya Allah mendekatkan orang yang beriman, lalu memberikan penutup kepadanya kemudian menutupinya. Lalu Dia berfirman:
أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا، أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟
“Apakah kamu ingat dosamu yang begini? Apakah kamu ingat dosamu yang begitu?”
فَيَقُولُ:
Orang beriman itu berkata:
نَعَمْ أَيْ رَبِّ
“Ya, Tuhanku.”
حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ، وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ:
Hingga ketika sudah diakui dosa-dosanya dan ia melihat bahwa dirinya akan celaka, Dia berfirman:
سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ اليَوْمَ
“Aku telah menutupi dosa tersebut untukmu di dunia dan Aku ampuni itu untukmu di hari ini.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Allahu akbar!
Ya Allah, tutupilah aib kami dan ampunilah kami. Jangan engkau hinakan kami di hari kiamat nanti. Sesungguhnya terhadap hamba-Mu Engkau Maha Pengampun lagi Maha Menyayangi.
Siberut, 15 Ramadhan 1443
Abu Yahya Adiya






