“Ayahmu bukanlah seorang yang buruk perangai dan ibumu bukanlah seorang pezina!”
Itulah yang dikatakan oleh orang-orang tatkala mereka menyaksikan Maryam datang membawa bayi.
Mereka berprasangka bahwa anak yang ia bawa itu adalah buah dari perbuatan nista.
Maka Maryam pun menunjuk kepada bayi tersebut.
Mereka berkata:
كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا
“Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?”
Tiba-tiba bayi itu berbicara:
إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ
“Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil), dan Dia menjadikanku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada.” (QS. Maryam: 27-31)
Allah menunjukkan keistimewaan nabi-Nya, ‘Isa kepada umatnya. Itulah berita yang Allah kabarkan dalam kitab-Nya.
Selain menerima Injil dan menjadi seorang nabi, Nabi ‘Isa juga menyebutkan nikmat-Nya yang lain yaitu: “Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada.”
Apa maksudnya?
Imam Mujahid menjelaskan maksudnya yaitu:
نَفَّاعًا
“Menjadikan aku sosok yang berguna.” (Tafsir Ath-Thabari)
Beliau juga menjelaskan maksudnya yaitu:
معلمًا للخير حيثما كنت.
“Menjadikan aku pengajar kebaikan di mana saja aku berada.” (Tafsir Ath-Thabari)
Sahl bin ‘Abdillah At-Tustari menjelaskan maksudnya yaitu:
آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ، وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ، وَأُرْشِدُ الضَّالَّ، وَأَنْصُرُ الْمَظْلُومَ، وَأُغِيثُ الْمَلْهُوفَ
“Menjadikan aku sosok yang memerintahkan kebaikan, melarang dari kemungkaran, membimbing orang yang sesat, dan menolong orang yang teraniaya, serta membantu orang yang membutuhkan. ” (Tafsir At-Tustari)
Artinya, di mana pun beliau berada, beliau berguna bagi orang lain, bisa berbuat baik kepada orang lain, dan bisa mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
Itulah yang dimaksud dengan sosok yang diberkahi. Ya, diberkahi oleh Allah.
Dan kalau seseorang sudah diberkahi oleh Allah, maka di mana pun ia berada, kebaikan akan selalu mengikutinya.
Karena itu, kalau kita ingin menjadi sosok yang diberkahi….
Jadilah orang yang selalu berguna bagi orang lain, baik dengan harta kita, perbuatan kita, maupun ucapan kita.
Jadilah orang yang selalu berbuat baik kepada orang lain, baik dengan harta kita, perbuatan kita, maupun ucapan kita.
Jadilah orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain, di mana pun kita berada. Baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Baik ketika bersama keluarga maupun ketika bersama teman kerja.
Ibnu ‘Abbas berkata:
مُعَلِّمُ الْخَيْرِ يَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلُّ شَيْءٍ حَتَّى الْحُوتُ فِي الْبَحْرِ
“Segala sesuatu, sampai ikan yang ada di laut, memohon ampunan kepada Allah untuk pengajar kebaikan.” (HR. Ad-Darimi)
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخَيْرَ
“Sesungguhnya Allah, para malaikat, penghuni langit dan bumi, hingga semut yang ada di lubang sarangnya dan ikan, mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi)
Siberut, 10 Syawwal 1444
Abu Yahya Adiya






