Putus asa saat susah, lupa diri saat harta berlimpah. Itulah keadaan orang yang kufur nikmat.
Allah berfirman:
لا يَسْأَمُ الإنْسَانُ مِنْ دُعَاءِ الْخَيْرِ وَإِنْ مَسَّهُ الشَّرُّ فَيَئُوسٌ قَنُوطٌ
“Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika ditimpa malapetaka, ia berputus asa dan hilang harapannya.
وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِنَّا مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَذَا لِي
Dan jika Kami berikan kepadanya suatu rahmat dari Kami setelah ditimpa kesusahan, pastilah ia berkata, ‘Ini adalah hakku…” (QS. Fushshilat: 49-50)
Apa maksud ini adalah hakku?
Maksudnya kata Imam Mujahid:
أي بعملي، وأنا محقوق بهذا
“Ini adalah karena jerih payahku, dan akulah yang berhak memilikinya.” (Jami’ Al-Bayaan Fii Ta’wiil Al-Quran)
Lihatlah, ia mengingkari nikmat Allah dan membanggakan diri sendiri!
Itulah ciri khas orang kafir.
Karun pun Mengingkari Nikmat-Nya
Siapa yang tidak kenal Karun? Ia orang kafir yang kaya raya dan hidup di zaman Nabi Musa ﷺ.
Ketika ditegur untuk merendahkan hati dan tidak membanggakan kekayaannya, Karun malah berkata:
إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي
“Sesungguhnya aku diberi harta itu, semata-mata karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al Qashash: 78)
Lihatlah, karena ilmu yang ada padaku!
Yaitu karena kepandaianku dalam menjalankan usahaku!
Karena kepintaranku dalam mengelola kekayaanku!
Itulah ucapan orang yang kufur nikmat. Dan ucapan seperti itu akan berujung pada hilangnya nikmat.
Allah menyebutkan nasib Karun setelah ditegur karena keingkarannya terhadap nikmat-Nya:
فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الأرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ
“Maka Kami benamkan Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang akan menolongnya selain Allah, dan ia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri.” (QS. Al-Qashash: 81)
Sopak, Botak, dan Buta
Nabi ﷺ bersabda:
إن ثلاثة من بني إسرائيل : أبرص وأقرع وأعمى، فأراد الله أن يبتليهم، فبعث إليهم ملكا فأتى الأبرص، فقال:
“Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israel, yaitu: penderita sopak (penyakit belang), orang berkepala botak, dan orang buta. Allah ingin menguji mereka bertiga, maka Dia utus seorang malaikat kepada mereka. Datanglah malaikat itu kepada penderita sopak. Malaikat bertanya kepadanya:
أي شيء أحب إليك؟
“Apa yang paling engkau inginkan?”
قال:
Ia menjawab:
لون حسن، وجلد حسن، ويذهب عني الذي قذرني الناس به
“Warna yang bagus, kulit yang indah, dan hilanglah penyakit yang selama ini membuat orang-orang jijik kepadaku.”
قال:
Nabi ﷺ bersabda:
فمسحه، فذهب عنه قذره، فأعطي لونا حسنا وجلدا حسنا، قال:
“Lalu malaikat mengusapnya, sehingga hilanglah penyakitnya. Lalu ia diberi warna yang bagus dan kulit yang indah. Kemudian malaikat bertanya:
فأي المال أحب إليك؟
“Harta apa yang paling engkau sukai?”
قال:
Ia menjawab:
الإبل أو البقر –شك إسحاق–
“Unta atau sapi.” Ishaq (perawi hadis ini) ragu.
فأعطي ناقة عشراء، فقال:
Lalu ia diberi seekor unta bunting. Malaikat berkata:
بارك الله لك فيها
“Semoga Allah memberikan berkah kepadamu dengan unta ini.”
قال:
Nabi ﷺ bersabda:
فأتى الأقرع، فقال:
Kemudian malaikat mendatangi orang berkepala botak. Malaikat bertanya kepadanya:
أي شيء أحب إليك؟
“Apa yang paling engkau inginkan?”
قال:
Ia menjawab:
شعر حسن، ويذهب عني الذي قذرني الناس به
“Rambut yang indah, dan hilanglah penyakit yang selama ini membuat orang-orang jijik kepadaku.”
فمسحه فذهب عنه قذره، وأعطي شعرا حسنا، فقال:
Lalu malaikat mengusapnya, sehingga hilanglah penyakitnya. Ia diberi rambut yang indah. Kemudian malaikat bertanya:
أي المال أحب إليك؟
“Harta apa yang paling engkau sukai?”
قال:
Ia menjawab:
البقر أو الإبل
“Sapi atau unta.”
فأعطي بقرة حاملا، قال:
Maka ia diberi seekor sapi bunting. Malaikat berkata:
بارك الله لك فيها
“Semoga Allah memberikan berkah kepadamu dengan sapi ini.”
فأتى الأعمى، فقال:
Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang buta, lalu bertanya kepadanya:
أي شيء أحب إليك؟
“Apa yang paling engkau inginkan?”
قال:
Ia menjawab:
أن يرد الله إلي بصري فأبصر به الناس
“Allah mengembalikan penglihatanku sehingga aku bisa melihat orang-orang.”
فمسحه فرد الله إليه بصره، قال:
Lalu malaikat mengusapnya, Allah pun mengembalikan penglihatannya. Kemudian malaikat bertanya:
فأي المال أحب إليك؟
“Harta apa yang paling engkau sukai?”
قال:
Ia menjawab:
الغنم
“Kambing.”
فأعطي شاة والدا
Maka ia diberi seekor kambing bunting.
فأنتج هذان وولد هذا، فكان لهذا واد من الإبل، ولهذا واد من البقرن ولهذا واد من الغنم.
Lalu orang pertama dan kedua mengurus kelahiran unta dan sapi mereka, sedangkan orang ketiga mengurus kelahiran kambingnya, sehingga orang yang pertama memiliki satu lembah unta, yang kedua memiliki satu lembah sapi, dan yang ketiga memiliki satu lembah kambing.
قال:
Nabi ﷺ melanjutkan:
ثم إنه أتى الأبرص في صورته وهيئته، قال:
“Kemudian malaikat datang kepada orang yang sudah sembuh dari sopak dalam bentuk dan penampilan dirinya ketika masih menderita sopak. Malaikat berkata:
رجل مسكين قد انقطعت بي الحبال في سفري، فلا بلاغ لي اليوم إلا بالله ثم بك، أسألك بالذي أعطاك اللون الحسن والجلد الحسن والمال، بعيرا أتبلغ به في سفري
“Aku seorang miskin. Telah habis bekalku dalam perjalananku ini. Makanya, aku tidak bisa meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolonganmu. Demi Allah yang telah memberimu warna yang bagus, kulit yang indah, dan harta kekayaan, aku meminta kepadamu seekor unta agar aku bisa sampai ke tempat tujuanku.”
فقال:
Ia pun berkata:
الحقوق كثيرة
“Tanggunganku banyak.”
فقال له:
Kemudian malaikat berkata kepadanya:
كأني أعرفك ! ألم تكن أبرص يقذرك الناس، فقيرا فأعطاك الله المال ؟
“Sepertinya aku mengenalmu! Bukankah engkau dulu menderita sopak, orang-orang merasa jijik kepadamu, dan engkau juga miskin, lalu Allah memberikan kepadamu harta kekayaan?”
فقال:
Ia menjawab:
إنما ورثت هذا المال كابرا عن كابر
“Harta kekayaan ini kuwarisi dari leluhurku yang terhormat!”
فقال:
Malaikat berkata:
إن كنت كاذبا فصيرك الله إلى ما كنت.
“Jika engkau dusta, niscaya Allah akan mengembalikanmu seperti dulu!”
قال:
Nabi ﷺ melanjutkan:
وأتى الأقرع في صورته، فقال له : مثل ما قال لهذا، ورد عليه مثل ما رد عليه هذا
“Kemudian malaikat mendatangi orang yang sebelumnya berkepala botak, dalam bentuk dirinya ketika masih botak. Malaikat berkata kepadanya seperti yang ia katakan kepada penderita sopak. Dan si botak pun memberikan jawaban seperti jawaban penderita sopak.
فقال:
Maka malaikat berkata:
إن كنت كاذبا فصيرك الله إلى ما كنت.
“Jika engkau dusta, niscaya Allah akan mengembalikanmu seperti dulu!”
قال:
Nabi ﷺ melanjutkan:
وأتى الأعمى في صورته فقال:
“Kemudian malaikat mendatangi orang yang sebelumnya buta, dalam bentuk dirinya ketika masih buta, dan berkata kepadanya:
رجل مسكين وابن سبيل قد انقطعت بي الحبال في سفري، فلا بلاغ لي اليوم إلا بالله ثم بك، أسألك بالذي رد عليك بصرك شاة أتبلغ بها في سفري
“Aku orang miskin, dan musafir. Telah habis bekalku dalam perjalananku ini. Makanya, aku tidak bisa meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolonganmu. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatanmu, aku meminta kepadamu seekor kambing agar aku bisa sampai ke tempat tujuanku.”
فقال:
Orang itu menjawab:
قد كنت أعمى فرد الله إلي بصري، فخذ ما شئت، ودع ما شئت، فوالله لا أجهدك اليوم بشيء أخذته لله
“Sungguh, aku dulu buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah apa yang engkau inginkan, dan tinggalkan apa yang tidak engkau inginkan. Demi Allah, aku tidak akan mempersulitmu dengan mengembalikan sesuatu yang engkau ambil karena Allah.”
فقال:
Maka malaikat berkata:
أمسك مالك، فإنما ابتليتم، فقد رضي الله عنك وسخط على صاحبيك
“Peganglah harta kekayaanmu, karena kalian sedang diuji. Sungguh, Allah telah rida kepadamu, dan murka kepada kedua temanmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikanlah si sopak dan si botak itu!
Bagaimana bisa penyakit yang sudah hilang dari mereka, ternyata kembali lagi menimpa mereka?!
Dan bagaimana mungkin kekayaan yang sudah dalam genggaman mereka, ternyata bisa hilang dari mereka?!
Kufur nikmat bisa berujung pada hilangnya nikmat.
Mengingkari nikmat-Nya akan mengundang murka-Nya.
Karena itu, syukurilah nikmat-Nya dan jangan mengingkarinya.
Sebab, kekayaanmu, kecerdasanmu, jabatanmu, dan berbagai nikmat lain yang ada padamu, itu semua pada hakekatnya adalah pemberian Tuhanmu.
Allah berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allah-lah (datangnya).” (QS. An-Nahl: 53)
Siberut, 26 Rabi’ul Awwal 1442
Abu Yahya Adiya






