“Permisi. Numpang lewat. Tolong jangan ganggu kami.”
Itulah yang diucapkan sebagian orang di zaman ini kalau mereka melewati tempat yang angker dan sunyi.
Itu mirip dengan kebiasan orang-orang Arab di zaman kegelapan, yakni zaman jahiliah.
Imam Al-Mahalli berkata:
حِين يَنْزِلُونَ فِي سَفَرهمْ بِمَخُوفٍ فَيَقُول كُلّ رَجُل أَعُوذ بِسَيِّدِ هَذَا الْمَكَان مِنْ شَرّ سُفَهَائِهِ
“Yaitu tatkala mereka singgah dalam perjalanan mereka di tempat yang menyeramkan. Masing-masing mereka berkata, ‘Aku berlindung kepada penunggu tempat ini dari kejahatan penunggu-penunggu lain yang dungu.” (Tafsir Jalalain)
Artinya mereka minta perlindungan kepada jin yang mereka anggap berkuasa dan menunggu tempat itu.
Supaya apa? Supaya mereka tidak diganggu dan disakiti.
Allah menceritakan demikian dalam Al-Quran:
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
“Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari kalangan jin, maka jin-jin itu menjadikan mereka makin sesat dan berdosa.” (QS. Al-Jin: 6)
Mereka meminta perlindungan kepada jin supaya merasa aman.
Namun, bukannya keamanan yang mereka rasakan, malah bertambahlah ketakutan mereka dan bertambahlah dosa mereka.
Itu menunjukkan bahwa syirik hanya akan mengantarkan pada kegelisahan, keresahan, dan kesengsaraan!
Makin sering seseorang menyekutukan Allah, maka makin gelisahlah jiwanya, dan makin sengsaralah nasibnya.
Tengoklah para penyembah kubur. Makin bergantung hati mereka kepada penghuni kubur, maka makin resahlah mereka.
Lihatlah para penghamba dunia. Makin rakus mereka mengejar harta dan jabatan, maka makin bertambahlah kegelisahan mereka.
Allah berfirman:
سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا
“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu.” (QS. Ali-‘Imran: 151)
Karena syirik yang mereka lakukan Allah memberikan kegelisahan, keresahan, dan ketakutan dalam hati mereka, walaupun mereka tinggal rumah-rumah yang megah, dilengkapi dengan perabotan yang mewah.
Itu di dunia. Adapun di akhirat Allah katakan:
وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ
“Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang lalim.” (QS. Ali-‘Imran: 151)
Makanya, ketenangan, dan ketentraman yang sebenarnya hanya bisa diraih dengan mengesakan Allah. Menyerahkan diri hanya kepada-Nya. Menggantungkan hati hanya kepada-Nya. Tunduk hanya dengan aturan-Nya.
Allah berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
“Siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)
Dalam keadaan beriman yaitu dalam keadaan mengesakan-Nya, menaati-Nya dan tidak mendurhakai-Nya.
Kehidupan yang baik. Ya, kehidupan yang baik. Kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Ketika Harus Melewati Tempat Angker
Ketika melewati tempat yang angker, jangan mengucapkan, “Permisi.”
Dan jangan pula mengucapkan, “Tolong jangan ganggu kami.”
Apalagi kalau sampai memberikan sesajen atau menyembelih hewan tertentu supaya tidak diganggu!
Lakukanlah apa yang telah dituntunkan oleh nabimu ﷺ.
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ نَزَلَ مَنْزِلًا ثُمَّ قَالَ
“Siapa yang singgah di suatu tempat, lalu mengucapkan:
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
“Aku berlindung dengan kalam Allah yang sempurna dari kejahatan semua mahluk yang Dia ciptakan.”
لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ، حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِك
maka tidak ada sesuatu pun yang membahayakan dirinya sampai ia meninggalkan tempat tersebut.” (HR. Muslim)
Ya, ucapkanlah doa tadi tatkala singgah di suatu tempat yang terasa asing, angker, dan sunyi.
Apa manfaatnya kalau kita mengucapkan itu?
“Tidak ada sesuatu pun yang membahayakan dirinya sampai ia meninggalkan tempat tersebut.”
Mereka pun Takut Kepada Manusia
‘Ikrimah berkata:
كَانَ الْجِنُّ يَفْرَقُون مِنَ الْإِنْسِ كَمَا يفرَق الْإِنْسُ مِنْهُمْ أَوْ أَشَدَّ
“Para jin takut kepada manusia, sebagaimana manusia takut kepada mereka, bahkan mereka lebih takut lagi kepada manusia.
وَكَانَ الْإِنْسُ إِذَا نَزَلُوا وَادِيًا هَرَبَ الْجِنُّ
Jika rombongan manusia singgah di suatu lembah, maka para jin kabur dari situ.
فَيَقُولُ سَيِّدُ الْقَوْمِ: نَعُوذُ بِسَيِّدِ أَهْلِ هَذَا الْوَادِي. فَقَالَ الْجِنُّ: نَرَاهُمْ يَفْرَقُونَ مِنَّا كَمَا نَفْرَقُ مِنْهُمْ.
Lalu kalau pemimpin rombongan berkata, ‘Kami berlindung kepada penghuni lembah ini’, maka para jin berkata, ‘Kita melihat mereka takut kepada kita, sebagaimana kita takut kepada mereka.’
فَدَنَوْا مِنَ الْإِنْسِ فَأَصَابُوهُمْ بِالْخَبَلِ وَالْجُنُونِ
Akhirnya mereka berani untuk mendekati manusia, lalu menimpakan kepada mereka kebingungan dan kegilaan.” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim)
Jin adalah hamba Allah, sama seperti dirimu, maka kenapa sangat takut kepadanya, sehingga engkau menyekutukan Tuhanmu dengannya?!
Berlindunglah kepada Allah, dan jangan berlindung kepada para jin.
Kalau engkau berlindung kepada Allah, maka hilanglah ketakutanmu kepada mereka.
Namun, kalau engkau berlindung kepada mereka, maka bertambahlah ketakutanmu kepada mereka.
Makin sering engkau melakukan itu, maka makin bertambahlah ketakutanmu, dan makin bertambahlah dosamu, serta makin bertambahlah kesengsaraanmu di duniamu dan akhiratmu.
Siberut, 4 Muharram 1442
Abu Yahya Adiya






