Memanggil, Berdoa, dan Meminta

Memanggil, Berdoa, dan Meminta

“Kami akan menyelamatkan kalian dari laut. Jika kalian mengalami sesuatu, maka panggillah nama-nama kami, niscaya kami akan menyelamatkan kalian!” (Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’)

Lihatlah, “panggillah nama-nama kami”! Bukan “panggillah Allah”

Itulah yang diajarkan beberapa orang kepada murid-murid mereka.

Padahal….

Siapakah yang bisa mendatangkan bencana dan menghilangkannya?

Allah berfirman:

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Yunus: 107)

Siapakah yang bisa memberikan rezeki dan menghilangkannya?

Allah berfirman:

إن الذين تعبدون من دون الله لا يملكون لكم رزقا فابتغوا عند الله الرزق واعبدوه واشكروا له إليه ترجعون

“Sesungguhnya yang kalian ibadahi selain Allah, tidak mampu memberi rezeki kepada kalian, maka  mintalah  rezeki dari  Allah dan beribadahlah kepada-Nya serta bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kalian akan dikembalikan.” (QS. Al-‘Ankabut: 17)

Siapakah yang bisa mendengar doa dan mengabulkannya?

Allah berfirman:

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

“Bukankah Dia yang mengabulkan doa orang yang dalam kesulitan jika ia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan serta menjadikan kalian sebagai pemimpin di bumi? Apakah ada sembahan yang lain selain Allah? Alangkah sedikitnya nikmat Allah yang kalian ingat.” (QS. An-Naml: 62)

Hanya Allah yang bisa mendatangkan bencana, dan menghilangkannya.

Hanya Allah yang bisa memberikan rezeki dan menghilangkannya.

Hanya Allah yang bisa mendengar doa dan mengabulkannya.

Maka, bagaimana bisa seseorang berdoa kepada makhluk yang tidak bisa mendengar doanya?

Bagaimana bisa ia meminta rezeki kepada makhluk yang tidak memiliki itu dan tidak pula bisa memberikan itu kepadanya?

Bukankan perbuatan seperti itu adalah perbuatan yang sangat sesat?

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang memohon kepada sembahan-sembahan selain Allah yang tidak dapat mengabulkan doa sampai hari kiamat sedangkan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka. Dan bila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan mereka yang lakukan.” (QS. Al-Ahqaf: 5-6)

Maka, untuk apa berdoa, meminta pertolongan dan perlindungan kepada selain-Nya?

Allah Ta’ala berfirman:

ولا تدع من دون الله ما لا ينفعك ولا يضرك، فإن فعلت فإنك إذا من الظالمين

“Dan janganlah engkau berdoa kepada sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi bencana kepadamu selain Allah. Sebab, jika engkau lakukan yang demikian maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zalim.”  (QS. Yunus: 106)

Orang-orang zalim yaitu orang-orang musyrik. Dan segala perbuatan yang mengantarkan pada kemusyrikan harus dijauhi. Seperti yang telah dicontohkan Nabi ﷺ.

 

Teguran Nabi terhadap Sahabatnya

Suatu hari Abu Bakar marah kepada ‘Abdullah bin Ubay, gembong munafikin.

Maka terlontarlah dari lisannya:

قُومُوا نَسْتَغِيثُ بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ مِنْ هَذَا الْمُنَافِقِ

“Marilah kita istigasah kepada Rasulullah ﷺ dari orang munafik ini!”

Artinya, marilah kita minta tolong kepada Rasulullah ﷺ agar menghukum ‘Abdullah bin Ubay dan memberinya ‘pelajaran’ supaya kita selamat dari gangguannya.

Itu permintaan Abu Bakar. Namun apa reaksi Rasulullah ﷺ?

Beliau ﷺ bersabda:

إِنَّهُ لَا يُسْتَغَاثُ بِي، إِنَّمَا يُسْتَغَاثُ بِاللَّهِ – عَزَّ وَجَلَّ

“Sesungguhnya, jangan istigasah kepadaku! Istigasah itu hanya kepada Allah!”  (HR. Ath-Thabrani)

Mengapa Rasulullah ﷺ mengatakan demikian? Apakah beliau tidak mampu memenuhi permintaan sahabat karibnya ini?

Tentu saja beliau ﷺ mampu untuk memenuhi permintaannya. Dan permintaan Abu Bakar kepada beliau dalam hal itu pun sebenarnya diperbolehkan, karena itu masih disanggupi beliau, tapi….

Tatkala kalimat yang ia ucapkan mengandung makna yang kurang beradab kepada Allah, yaitu seakan-akan menyatakan bahwa keselamatan ada di tangan selain-Nya, maka Rasulullah ﷺ pun mengingingkarinya. Ya, mengingkarinya, demi menjaga kemurnian tauhid dan menutup sarana yang akan mengantarkan pada syirik.

Nah, kalau permintaan tolong kepada Rasulullah ﷺ dalam perkara yang beliau sanggupi saja, beliau ingkari, apalagi  permintaan tolong kepada Rasulullah ﷺ dalam perkara yang tidak beliau sanggupi dan hanya disanggupi oleh Allah!

Dan kalau permintaan tolong kepada Rasulullah ﷺ di masa hidup beliau saja, beliau ingkari, apalagi permintaan tolong kepada beliau setelah wafat beliau!

Dan kalau permintaan tolong kepada Rasulullah ﷺ setelah beliau wafat saja tidak diperbolehkan, apalagi permintaan tolong kepada makam para wali!

Maka…

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan jika engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)

 

Siberut, 6 Muharram 1442

Abu Yahya Adiya