‘Aisyah berkata:
كان النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يعتكف العشر الأواخر من رمضان حتى توفَّاه الله عز وجل ثم اعتكف أزواجه من بعده
“Nabi ﷺ melaksanakan itikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau. Lalu istri-istri beliau pun melaksanakan itikaf sepeninggal beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:
1. Anjuran untuk melakukan iktikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sebagaimana yang telah dipraktekkan oleh Nabi ﷺ.
Imam An-Nawawi berkata:
وَقَدْ أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى اسْتِحْبَابِهِ وَأَنَّهُ لَيْسَ بِوَاجِبٍ وَعَلَى أَنَّهُ مُتَأَكِّدٌ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Kaum muslimin telah sepakat tentang dianjurkannya iktikaf dan bahwasanya itu tidak wajib serta itu ditekankan pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)
Pertanyaan: apakah mungkin hukum iktikaf bisa berubah menjadi wajib?
Syekh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad berkata:
حتى توفي، واعتكف أزواجه بعده، وهذا يدلنا على أن الاعتكاف سنة ومستحب، ولا يجب إلا بالنذر، فالإنسان إذا أوجبه على نفسه بنذر فإنه يلزمه ويجب عليه أن يفي بنذره؛ لقوله صلى الله عليه وسلم:
“Hadis ini menunjukkan kepada kita bahwa iktikaf itu sunah dan dianjurkan serta tidak wajib kecuali kalau itu nazar. Seseorang jika mewajibkan iktikaf atas dirinya sendiri melalui nazar, maka itu menjadi kewajiban baginya dan ia harus menunarkan nazarnya itu. Sebagaimana sabdanya:
من نذر أن يطيع الله فليطعه، ومن نذر أن يعصي الله فلا يعصه
“Siapa yang bernazar untuk menaati Allah, maka taatilah ia. Dan siapa yang bernazar untuk mendurhakai Allah, maka janganlah ia mendurhakai-Nya.” (Syarh Sunan Abu Daud)
Pertanyaan: kenapa Nabi ﷺ melakukan iktikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan? Apa hikmah dan tujuan di balik itu?
Syekh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad berkata:
سن رسول الله صلى الله عليه وسلم الاعتكاف في العشر الأواخر من رمضان تفرغاً للعبادة وطلباً لليلة القدر، فصار الاعتكاف عبادة مستحبة،
“Rasulullah ﷺ mencontohkan iktikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan agar fokus dalam beribadah dan dalam rangka mencari Lailatul Qadr, makanya iktikaf adalah ibadah yang dianjurkan.” (Syarh Sunan Abu Daud)
2. Bolehnya kaum wanita melakukan iktikaf. Sebagaimana yang telah dipraktekkan istri-istri Nabi sepeninggal beliau.
Kaum wanita diperbolehkan dan dipersilahkan melaksanakan iktikaf, tapi…
Ada syaratnya. Apa itu?
Syekh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad berkata:
ويدل على اعتكاف النساء في المساجد إذا أمن عليهن من أي محذور بسبب المكوث في المسجد والبقاء فيه، ولكن ذلك يكون بإذن أزواجهن؛ لأن الاعتكاف تطوع ومستحب، فلا تفعله المرأة إلا بإذن زوجها
“Hadits ini menunjukkan boleh kaum wanita iktikaf di masjid-masjid jika memang keberadaan mereka di dalamnya aman dari perkara yang dikhawatirkan. Namun, itu harus dengan izin dari suami mereka. Sebab, iktikaf adalah amalan yang dianjurkan dan tidak diwajibkan. Karena itu, seorang wanita tidak boleh melakukannya kecuali dengan izin suaminya.” (Syarh Sunan Abu Daud)
3. Iktikaf tidak sah kecuali kalau dilaksanakan di masjid. Sebagaimana yang telah dipraktekkan oleh Nabi ﷺ dan istri-istri beliau, bahkan para sahabat beliau.
Imam An-Nawawi berkata:
فَلَوْ جَازَ فِي الْبَيْتِ لفعلوه ولو مرة لاسيما النِّسَاءُ لِأَنَّ حَاجَتَهُنَّ إِلَيْهِ فِي الْبُيُوتِ أَكْثَرُ
“Kalau memang iktikaf itu diperbolehkan di rumah, tentu mereka semua akan melakukannya, walaupun cuma sekali. Apalagi kaum wanita. Sebab, kebutuhan mereka untuk iktikaf di rumah lebih banyak.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)
Berarti, iktikaf hanya sah bila dikerjakan di masjid, baik yang melakukannya kaum pria maupun wanita. Dan itulah pendapat mayoritas ulama.
Siberut, 19 Ramadhan 1441
Abu Yahya Adiya
Sumber:
1. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj karya Imam An-Nawawi
2. Syarh Sunan Abu Daud karya Syekh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad






